
Baru beristirahat sebentar Lee sudah mendapat panggilan dari tuan mudanya, dia tidak bisa mengabaikan panggilan itu segera mungkin meluncur kembali kerumah tuan Ken.
Menerka-nerka apa yang terjadi dirumah Bosnya, terlihat nada suara tuan Ken yang panik. Lee menambah laju kecepatan mobil agar segera sampai.
Menaiki anak tangga dengan cepat menuju kekamar tuan Ken, membuka pintu. "Tuan muda." Lee sudah berdiri didepan pintu. Tuan Ken berjalan kesana kemari, sedangkan nona Kei berbaring diranjang.
"Lee, siapkan mobil dan antar kerumah sakit." Ken memberi perintah. "Nona Kei, sakit?" sekretaris Lee menebak, karna melihat Kei yang berbaring diranjang. "Ah... apa yang bisa ku lakukan! dia sakit tetapi tidak mau aku mendekatinya, lalu aku harus bagaimana?" Ken terlihat kesal. "Maafkan aku, tapi aku tidak suka berdekatan denganmu." Kei meminta maaf. "Sebenarnya ada apa denganmu, baby? kau baik-baik saja 'kan? apa kau terkena penyakit aneh? kau tidak pernah begini!" Ken berbicara dengan keadaan setengah putus asa, biasanya tuan posesif itu selalu menempel dengan candunya. Tetapi apa? saat ini Kei seperti benci dengan dirinya tentu saja membuat tuan Ken kesal.
Lee masuk kedalam dan lebih mendekat keranjang, dia yang belum berganti pakaian dan masih mengenakan baju yang tadi. Kei sedikit mengendus-endus. "Sekretaris Lee, kemarilah." ucap Kei. Lee lebih dulu melihat kearah tuan mudanya, dia ingin melihat reaksi tuan Ken apakah marah atau tidak. Ken hanya melihat sekilas, melihat itu membuat Lee berani mendekat keranjang nona Kei.
"Ada apa, nona?" Lee bertanya. "Aku suka harum tubuhmu." pertanyaan dari Kei membuat kedua lelaki itu saling pandang. Ken memandang horor sedangkan Lee memandang dengan nyali yang menciut, dirasa tuan Ken pasti akan marah. "Em, nona.. penciuman anda mungkin bermasalah! saya belum membersihkan tubuh dan belum berganti pakaian pasti berbau debu." Lee menyangkal agar tuan Ken tidak murka dengannya.
"Tidak! aku sangat nyaman mencium harum tubuhmu." Kei memang tidak terlihat pucat seperti tadi, ini sungguh keanehan. Ken melebarkan kelopak mata, sungguh tidak percaya dengan semuanya. Kenapa Kei bisa menjadi seperti itu! Ken berjalan menuju ruang kerja. Membuang nafas kasar dan terlihat gusar, tidak habis pikir dengan Kei. "Huh... aku kira Kei hanya bercanda, tetapi apa ini Kei sangat nyaman berdekatan dengan Lee!" Ken berjalan mondar-mandir.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan... Kei sudah mulai berpindah haluan! dia menyukai Lee dan tidak mau denganku? dia bosan denganku? tidak bisa! ini tidak bisa dibiarkan, dia milikku, dia canduku. Aaakhh..." Kei mengusap wajahnya dengan kasar, diwajahnya terdapat berbagai macam ekspresi mulai dari khawatir, sedih, marah, dan takut.
"Nona Kei, mohon jangan seperti ini. Jika anda begini akan menyusahkan posisi saya, jangan bercanda nona, jabatan saya taruhannya." Lee mengira Kei tidak sungguhan dan hanya bercanda untuk mengerjai tuan Ken. Kei mendadak sedih lalu menangis kencang, " Aku tidak bercanda sekretaris Lee, aku menyukai bau tubuhmu. Hua...." suara tangis Kei terdengar melengking, secepatnya Ken keluar dan menghampiri. "Honey, kau kenapa?" melupakan jika Kei tidak menyukai bau tubuhnya tetapi Ken malah mendekati Kei.
"Hoek... Aku bilang kau bau! pergilah!!!" Kei kembali tidak ingin didekati tuan Ken, segera Ken menyingkir dari hadapannya. Dengan kesal dan khawatir yang menjadi satu, Ken mengepalkan telapak tangan ingin merobohkan apapun yang ada didepannya termasuk sekretaris Lee, ingin menghajarnya dengan kekutan super. "Aku pergi tetapi kau tenanglah, jika kau menangis aku khawatir." ketika sudah menjauh Ken mengatakan itu.
Ken terpaksa keluar dari kamar, berpikiran akan memanggil dokter terhebat didunia untuk menyembuhkan penyakit istrinya. Tidak akan bisa berlama dengan keadaan itu, rasanya semakin frustasi jika Kei tidak ingin didekatinya. Dia tidak akan bisa jauh lebih lama dengan candunya.
"Tuan muda..." Lee menyusul keluar. Ken masih berdiri didepan pintu kamarnya, tuan muda yang sedang cemas itu seperti tiada lelah sedari tadi terus berdiri. Ketika duduk pun tidak akan merasa tenang sebelum mengetahui penyakit yang diderita Kei.
"Tuan muda tenanglah, saya akan mencari dokter yang akan memeriksa nona Kei." Lee menenangkan tuan mudanya yang sedang bersikap berlebihan.
"Harus Lee, secepatnya panggil dokter terbaik. Aku tidak bisa berlama-lama jauh dengannya." Lee mengangguk dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi pihak rumah sakit, beberapa saat berbincang ditelpon Lee sudah mengakhiri.
__ADS_1
"Sebentar lagi beberapa dokter akan segera datang tuan, anda bersabarlah. Silahkan duduk." Lee memberitahu dan menyuruh tuan Ken untuk duduk agar lebih tenang.
"Ken, kenapa kalian mengobrol didepan pintu kamar?" mami Lyra keluar dari kamarnya dan melihat Ken dan Lee yang sedang duduk.
"Mi, Kei terkena penyakit aneh." Ken memberitahu maminya. Tentu saja mami Lyra mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan maksut putranya itu. "Penyakit aneh? apa maksudmu, Ken?" bertanya penasaran.
"Semenjak tadi pulang dari makam Kei menjadi aneh, dia tidak mau aku dekati. Di bilang tubuhku bau dan terus menyuruhku agar menjauh darinya, tetapi anehnya lagi Kei menyukai bau tubuh Lee! apa itu tidak aneh, mi? Aku takut, mi." Bola mata mami Lyra melirik kesana kemari, mencerna penjelasan dari Ken. "Mungkin Kei sedang kedatangan tamu bulanan jadi aneh begitu." mami Lyra menjawab asal.
"Tidak mi, tadi subuh kami melakukan itu. Kei sedang tidak kedatangan tamu bulanan." Ken tidak bisa menerima jawaban mami Lyra.
'Hei tuan muda, kenapa anda jujur sekali mengatakan perbuatan kalian! kau tidak kasihan denganku yang masih sendiri harus mendengar kata pahit itu. Aku baru sekali merasakan candu yang atas itupun berkat bantuan cicak kecil, aku tidak tau rasanya candu yang bawah' Lee hanya menggerutu didalam hati.
"Mungkin Kei sedang tidak ingin berdekatan dengan mu Ken, biarkan dia seperti itu sementara waktu. Nanti malam pasti mencarimu." mami Lyra mengatakan dengan nada mengejek, tidak menanggapi keluhan Ken dengan serius dia tau anaknya memang terlalu over hal kecil bisa menjadi besar.
__ADS_1
"Tidak bisa seperti itu, mi! satu jam tidak berdekatan dengan Kei sudah seperti satu tahun, Ken harus menahan diri untuk tidak berdekatan itu sangat menyiksa mi! bisa memandang tetapi tidak bisa merasakan."
"Halah, kau ini selalu saja berlebihan." Ken sudah tidak menanggapi ucapan maminya, saat ini semuanya tidak ada yang tau apa yang dirasa. Dia benar-benar tersiksa dengan penolakan dari Kei.