Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Apa Aku Pantas Mendapat Cinta Zee?


__ADS_3

Tiga hari berlalu semenjak kejadian malam itu.


Ketika menginjakkan kaki di kampus, hal pertama yang dicari Naya adalah pria tampan namun beraura dingin. Bola mata indahnya mengabsen setiap celah sudut kampus tapi tidak menemukan objek yang dicari. Lelah berjalan dia duduk di bangku kosong samping taman kampus. Sejak malam itu, dia pun lebih sering merenung. Terkadang tiba-tiba merasa gelisah.


Sampai jam kuliah di mulai dan berakhir pun Akio dan Zee tidak masuk. Sebenarnya bukan masalah besar dia ingin menemui Akio, hanya ingin mengucap terima kasih dan mengembalikan kaos yang dipinjamnya malam itu.


Naya sudah bertekad untuk melupakan apa yang terjadi. Dia berusaha ikhlas merelakan sesuatu, dan mencoba menguburnya dalam-dalam. Namun, tetap ada kekhawatiran yang menghantui, saat ini hanya bisa memohon, semoga apa yang ditakutkan tidak terjadi.


Sesudah jam kuliah berakhir Naya langsung menuju cafe tempatnya bekerja. Ada perasaan takut karena sadar dia telah melakukan kesalahan dengan tidak masuk kerja tanpa keterangan. Tetapi dia telah menyiapkan mental andai nanti mendapat teguran ataupun surat pemecatan.


Dengan ragu-ragu, Kanaya masuk ke cafe. Alfin sebagai manager cafe langsung menghampiri.


"Naya, ikut ke ruanganku!" titahnya.


"Ba-baik, Pak."


"Bisa kamu jelaskan, kenapa dua ini hari kamu tidak masuk kerja?" Alfin bertanya tegas.


Naya menunduk takut. "Maaf, Pak, saya sakit. Maaf tidak menghubungi Bapak karena ponsel saya rusak."


"Saya menilai kamu tidak serius untuk bekerja ...."


"Tidak, Pak, sungguh saya serius bekerja. Tapi beneran, saya kemarin sakit, tidak bisa keluar rumah untuk meminjam ponsel tetangga. Tolong maafkan saya. Saya janji, ini yang pertama dan terakhir saya tidak masuk tanpa keterangan." Naya berusaha meyakinkan.


Pria dihadapannya itu menghembus napas panjang. Lalu mencondongkan tubuh ke depan. "Kali ini saya maafkan. Tapi lain kali, jangan harap."


"Iya, Pak. Terima kasih banyak. Saya tidak akan mengulanginya."


"Ya sudah, kamu boleh pergi."


"Baik, Pak, sekali lagi terima kasih." Naya menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan Alfin.


Pria yang diberi wewenang untuk mengawasi cafe itu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Bos, hari ini Naya masuk kerja. Seperti pesan Anda, aku tidak memecat Naya tapi memberinya peringatan," lapornya.


"Hem. Satu lagi, apa dia setiap hari pulang jam 10 malam?"


"Tidak Bos, dia pulang jam 9 malam."


"Aku punya perintah untukmu," ucap Akio.


Alfin mengerut, seperti curiga dengan permintaan Akio. Selama dia kenal dengan bosnya itu, Akio jarang memberi perintah di luar pengawasan cafe. Tentang Naya, bukankah itu sudah menuju ke urusan pribadi.


"Beri Naya tumpangan setiap dia pulang malam. Dan, kamu harus mengantarnya sampai di depan rumahnya."

__ADS_1


"Hah? Apa Bos?!" Alfin sampai memekik karena terkejut.


"Aku tahu kamu mendengar perintahku, Fin!" Akio mendekus.


"Tap-tapi ...?"


Alfin masih kebingungan, tetapi Akio sudah memutus sambungan telepon.


"Memang apa hubungan si bos sama karyawan baru itu? Dia memang cantik dan manis, sih, tapi rasanya nggak mungkin si bos suka dengan Naya." Alfin berbicara sendiri.


Malam ketika Naya pulang dari cafe, Alfin melaksanakan yang diperintah Akio. Meski Naya menolak tegas juga keheranan, tetapi Alfin tetap memaksa.



Di rumah sakit.


"Dad, Io bosan. Aku pengen pulang." Akio, pria yang sedang menuju pendewasaan itu merengek pada Daddy Ken untuk mengabulkan permintaanya pulang ke rumah.


"Kenapa buru-buru pulang? Lukamu belum sembuh total. Masih terlihat lebam dan kebiruan," ujar Ken.


"Apa harus nunggu lebam ini hilang? Masa iya aku harus baring di sini sampai satu bulan, Dad?"


"Tidak masalah. Daddy sanggup membayar biaya rumah sakit. Yang terpenting kamu sembuh total."


"Sayang, biarkan Io istirahat di rumah saja. Siapapun bakal bosan baring terus di rumah sakit. Bukanya sembuh malah kasihan nggak bisa menghirup udara bebas. Kita juga repot harus bolak balik ke sini." Kei menyahut. Dia mengelus bahu Ken yang masih terlihat kekar.


"Oke, nanti biar Dad bicara dulu dengan dokter."


Setelah Ken beranjak pergi. Kini tinggal Kei yang menemani Akio. Dia menggenggam lembut tangan putranya.


"Sayang, ada apa? Mom perhatikan kamu banyak diam? Ada sesuatu yang kamu pendam?" Kei berkata dengan penuh kehati-hatian. "Apa ada beban tentang Zee?"


Akio menatap tepat pada mata Mommy Kei. Entahlah, mungkin naluri seorang ibu bisa mengetahui apa yang anaknya pikirkan.


Akio masih diam. Dia benar-benar bingung harus memulai dari mana untuk mencurahkan apa yang dipendam.


"Mom lihat kamu baik-baik saja dengan Zee. Mom kira kamu bakal senang dengan perjodohan ini?"


"Io masih bimbang Mom, ada sesuatu yang membuat Io ragu."


"Sayang, Zee sangat menyukaimu. Dia cantik, baik, peduli, dan tidak ada yang mengenal kamu lebih baik dari pada Zee. Apa yang membuatmu ragu? Apa jangan-jangan kamu menyukai perempuan lain?" selidik Kei dengan harap-harap cemas.


"Enggak, Mom."


"Lalu kenapa?" Kei mendesak karena penasaran. "Nggak ada yang kurang dari Zee, meski dia sedikit bawel, tapi dia punya hati mulia. Dan Mommy salut, dia bisa mengerti kamu dengan baik." imbuh Kei.

__ADS_1


"Zee pantas mendapat cintamu. Kalau kamu belum terlalu yakin, kamu bisa menjalaninya dulu. Kamu tahu perjalanan rumah tangga Mom dan Dad, kami tidak ada cinta, malah Dad begitu benci dengan Mom. Tapi lambat laun waktu akan merubah segalanya. Dan pada akhirnya Dad sangat bucin pada Mom." Kei tersenyum lucu saat menceritakan ulang kisah perjalanan rumah tangganya.


Zee pantas mendapat cintaku, tapi apa aku pantas mendapatkan cintanya?! Kalau semua belum terjadi, mungkin aku masih bisa mencoba menjalani hubungan serius dengan Zee. Tapi, Naya ...? Aku merasa bersalah.



Hari ke lima. Akio sudah mulai masuk kuliah. Tak banyak yang dilakukan, dia hanya duduk di gazebo depan kelas. Waktunya sedikit tenang karena Zee belum datang. Tetapi ketenangan itu tidak lama, karena seorang perempuan membuatnya terkejut.


"Em, hai," sapa Naya.


Akio menoleh. Manik keduanya bertemu. Naya lebih dulu memutus pandangan. Keadaan begitu canggung. Sejak terakhir mereka khilaf, belum sekalipun mereka bertemu kembali.


Akio diam tak membalas ucapan Naya, membuat perempuan itu bingung untuk memulai berkata.


"Apa lukamu sudah sembuh?"


Akio mengangguk.


"Aku mencarimu karena mau mengembalikan ini." Naya mengambil kantong kresek hitam dan diberikan pada Akio.


Pria itu mengerut. "Apa ini?"


"Kaos yang aku pinjam."


Deg! Mengingatkan kembali antara keduanya.


"Maaf," ucap Akio lirih.


"Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya. Dan, kita akan tetap saling tidak mengenal," ujar Naya.


Akio kembali menatap Naya. Pikirannya berkecamuk. Heran, kenapa Naya begitu santai. Bukankah harusnya dia sangat menyesal?


.


.


.


.


.


Hayo lho hayo lho ... gimana ini?😢 Sebelumnya, maaf kalau tidak sesuai alur kalian. Akak Mei tidak memaksa kalian untuk tetap di sini, tetapi saya ucapkan terima kasih untuk readers yang masih baper sama Akio meski pria itu tak sesuai harapan kalian.


Thor, Akio harus dengan Zee! Titik! Iyes, tapi kisah abadi mereka penuh cobaan dan ujian. Sepertinya ada bawang nanti di pertengahan. 🙏🤭

__ADS_1


__ADS_2