
Setelah menutup pintu, Zee mendengus dan pergi dapur. Kesal dan tak habis pikir kenapa harus ada bodyguard bodyguard segala. Selama beberapa bulan tinggal di negara orang, dia tidak pernah menemukan kesulitan. Juga tidak ada tindak kriminal atau bahaya apapun yang terjadi padanya. Papa, mama, mungkin juga tuan Ken terlalu berlebihan.
Sekarang, dengan adanya bodyguard dia justru merasa tidak nyaman. Seolah setiap gerak-geriknya ada yang mengawasi, kebebasannya pun jelas berkurang.
Setelah mengambil minum, Zee langsung masuk ke kamar tanpa memikirkan pria bernama Faskieh masih di depan pintu atau sudah pergi. Bodo amat!
Di tempat baru, Zee sudah berkenalan dengan perempuan yang mengambil satu jurusan dengannya, dan mulai menjalin pertemanan bersama Cristin, tepat saat itu Cristin menghubunginya, memberi kabar bahwa mereka ada kuliah jam 3 sore.
Setelah telepon di akhiri, Zee tertohok melihat wallpaper yang menampilkan foto dua anak kecil tersenyum bahagia. Sudut matanya langsung berair.
Sebenarnya dia pernah mengganti dengan foto lain, namun sebuah rindu benar-benar menyiksa. Akhirnya dia kembali mengaktifkan foto yang menjadi favoritnya yaitu foto Akio bersamanya di waktu masih kecil.
Saat itu sangat indah baginya, Akio akan menjaganya dari gangguan si Rendi, tetangga yang menyukainya. Akio memberi pengakuan bahwa dia adalah pacarnya dan ketika sudah dewasa nanti akan menikahinya.
Ya Tuhan ... sangat indah dan membahagiakan ketika mengingat masa kecil dulu. Namun ketika tiba di masa mendatang, ternyata kenangan itu hanya menyisakan duka. Takdir tak sesuai keinginannya.
Dalam versi Zee, Naya sangat kejam. Dia merebut Akio untuk selamanya. Dia benci dan sangat membenci. Namun untuk Akio, sampai detik ini justru perasaannya masih sama. Sangat sulit menerima kenyataan bahwa dia benar-benar tak berjodoh dengan Akio.
Meski di kehidupan barunya, dia sering menyibukkan diri dengan jadwal kuliah dan mengasah kemapuan melukis, nyatanya semua tak seratus persen berhasil untuk menyamarkan bayang Akio. Di setiap kesendirian, dia akan kembali teringat masa kenang-kenangan yang tercipta dari kecil hingga mereka dewasa.
Begitu banyak kenangan yang sulit untuk di hapus.
Wajar, hampir semua orang pun mungkin mengalami hal yang sama. Karena sebuah kebersamaan dari kecil lebih banyak memiliki cerita dan kesan, dari sekedar pertemuan di waktu singkat.
Namun, entah dengan Akio, bagaimana pria itu tak menganggap kebersamaan mereka selama ini. Dan dengan mudahnya bersama Naya. Sungguh, dia tak habis pikir.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 2 sore. Zee yang ketiduran akhirnya kelabakan untuk bersiap pergi kuliah.
Kriet!!!
"Astaga!"
Seorang pria masih duduk di luar apartemen dengan bermain ponsel.
"Kamu masih di sini, Kie?"
"He he ... masihlah, Kak. Terus mau pergi ke mana lagi. Kan Om Lee nyuruh aku ke sini. Aku nggak punya tempat lain," jawab Faskieh dengan menyengir. Sepertinya pemuda itu memang hobi tersenyum atau pun menyengir.
"Ck ... balik lagi ke Indonesia."
__ADS_1
"Om cuma beliin satu tiket buat aku sampek ke sini, aku nggak punya tiket pulang," bohongnya.
"Oke, aku yang pesenin tiket pulang." Zee mengambil ponsel untuk membuka aplikasi pemesanan tiket pesawat. Namun Faskieh menolak.
"Jangan, Kak. Tolonglah Kak, biar aku di sini buat jagain Kakak."
"Ih, kenapa aku harus peduli. Aku nggak mau. Aku nggak nyaman ada kamu," ujar Zee.
"Anggap aku nggak ada, Kak. Aku janji nggak ngeribetin Kakak. Plis, Kak. Ini demi seseorang."
"Siapa?"
"Adalah."
"Ish, kalau gitu nggak peduli. Balik sana ke Indonesia," usir Zee untuk kesekian kalinya.
"Kak, please ...."
"Aku nggak peduli, loh, Faskieh!"
"Pokoknya aku akan tetap menjalankan tugasku."
Faskieh menaruh tas besarnya di samping pintu, dia menyusul langkah Zee tapi tetap menjaga jarak. Dia akan menjadi bodyguard bayangan.
*
Di kediaman Akio.
Hari-hari berlalu dengan aktifitas seperti biasanya. Naya tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Akio.
Tiba-tiba mendengar nama Akio memanggil. Dia menyahut dan ternyata Akio sudah menyusulnya ke dapur. Ini masih pagi, biasanya Akio belum bangun.
"Nay," panggil Akio tanpa melanjutkan katanya. Raut wajahnya terlihat khawatir, namun dia tak tahu apa penyebabnya.
"Ada apa?"
"Ibu pingsan dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit."
"Apa?!" Naya yang terkejut sampai mundur ke belakang, Akio sigap menyangga tubuhnya.
__ADS_1
"Ibu ... ibu pingsan?" ulang Naya.
"Iya, tapi kamu tenang dulu. Ibu sedang di bawa ke rumah sakit," ujar Akio menenangkan.
"Aku mau ke rumah sakit."
"Iya. Tapi, tenang. Inget, kamu masih hamil. Ibu pasti baik, setelah ditangani dokter." Akio mengingatkan karena Naya mulai menangis dan terlihat cemas.
Akio meminta izin cuti untuk menemani Naya menjenguk ibunya. Dia juga sudah mengabari keluarganya agar datang menjenguk.
Di rumah sakit, dokter dan perawat belum ada yang keluar. Zee menanyai perempuan paruh baya yang selama ini menjaga ibunya. Dia bercerita bahwa beberapa hari ini kesehatan ibunya Naya memang kurang baik, tetapi selalu menolak untuk menghubungi Naya.
Dan pagi tadi, tiba-tiba terdengar gelas pecah, ketika dilihat, ibu Naya sudah pingsan. Orang yang menjaga meminta bantuan sekitar untuk membawa ke rumah sakit.
Cerita itu membuat Naya menerutuk diri. Memang beberapa hari ini dia tidak sempat menghubungi ibunya, dia terlalu fokus dengan rencananya.
Akio mengusap bahu Naya untuk menenangkan, ketika itu dari lorong rumah sakit Kei muncul dan menuju mereka.
"Yang sabar, ya, sayang," ucap Kei, memeluk Naya dari sisi sebelah lagi. Akio memberi waktu mommy nya berbicara dengan Naya.
Tak berapa lama dokter keluar. Akio, Naya dan Kei segera menanyakan keadaan ibu Naya.
"Dengan berat hati harus saya sampaikan kalau ibu Lestari mengalami koma."
"Apa?! Koma?!" Naya terhenyak. Bahkan sedetiknya tubuhnya melemas dan jatuh pingsan.
"Nay ... Nay?!" Seketika Akio dan Kei panik. Akio menggendong tubuh Naya untuk di bawa ke ruang perawatan lain.
Mungkin saja Naya syok mengetahui ibunya koma, karena selama ini ibunya baik-baik saja. Tidak mengidap penyakit apapun.
"Bagaimana dengan Naya, Mom?" Akio pun sangat khawatir.
"Sabar, Nak. Sabar. Naya hanya syok mendengar kabar ibunya. Dia akan segera sadar dan baik-baik saja."
Akio menghela napas panjang. Bagaimana dia bisa tenang. Bahkan rasanya dia begitu cemas dan takut terjadi hal tidak-tidak dengan Naya maupun calon anaknya. Tanpa disadari, dia sangat takut kehilangan Naya. Karena baginya, Naya sudah menjadi bagian terpentingnya.
"Mom datang sendiri?" Setelah beberapa saat Akio baru sadar kalau Kei hanya datang sendiri.
"Iya. Dad sudah bersiap ke kantor. Oma, katanya pusing. Jadi Mom datang sendiri."
__ADS_1