Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Keluh Kesah


__ADS_3

Setelah semua sudah keluar, Ken masih sedikit tergelak menertawai ekspresi Lee yang berubah masam ketika mendengar keterangan dari dokter, jika dirinya juga harus berpuasa 42hari. Mendengar itu ia takkan iri lagi dengan Lee, karna nasib mereka sama.


Bukan hanya Lee yang bermuka masam, Kei duduk disofa ujung ruangan juga bermuka masam, tak habis pikir dengan suaminya yang kadang seperti anak kecil.


Jam didinding menunjukan pukul 22.30Wib. Ken yang puas tertawa, kini beralih menatap Kei yang jauh dari jangkauannya.


"Honey, kau kenapa disana? kemari lah." perintah Ken.


"Tidak mau, nanti mengganggumu." Kei menolak dengan ketus.


"Hei, kenapa malam ini kau marah terus, mood mu buruk sekali." kata Ken.


"Memang,"


Ken yang berbaring miring, kini mencoba untuk bangun. Melihat pergerakan Ken yang akan duduk membuat Kei reflek berdiri dan berjalan mendekat.


"Jangan aneh-aneh, luka mu nanti terbuka lagi." ucap Kei dengan acuh.


"Honey, sudahlah. Aku rindu padamu, jangan marah seperti anak kecil."


"Apa? kau mengatakan aku seperti anak kecil? kau sendiri tidak sadar tingkah dan pikiranmu juga seperti anak kecil!" Kei berbicara sinis.


"Kalau aku bisa bangun, aku pasti akan menyerang canduku." ucap Ken.


Kei melirik sebentar, ia memutuskan untuk duduk disofa single dekat ranjang Ken.


"Kalau bibirmu maju begitu, aku gemas ingin menggigitnya."


"Ck... kau lupa kalau sedang sakit? masih kepikiran menyerang candu." Kei menggelengkan kepala.


"Mau bagaimana lagi, bibirmu sudah seperti candu yang susah untuk ditinggalkan. Membuatku ketagihan." jawab Ken dengan godaan.


"Dari mbak Dewi melahirkan aku belum sempat menjenguk, aku belum melihat bayinya." kata Kei mengalihkan pembicaraan.


"Besok kita jenguk bersama, aku ingin liat, seperti apa jagoan punya Lee."

__ADS_1


"Astaga... kau ini, semua-semua kau bandingkan dengan milik sekretaris Lee. Jelas berbeda lah."


"Aku tidak mau milik Lee melebihi dari punyaku."


"Ini nih, seperti anak kecil. Sudah tua tapi pemikirannya seperti anak kecil, nggak ingat umur." Kei merasa frustasi menghadapi sikap Ken yang seperti anak kecil.


"Sudahlah, kita tutup pembicaraan malam ini. Aku sudah mengantuk." kata Kei. Rasa kantuk mulai menyerang, beberapa kali menguap.


Ken memundurkan tubuh, ia menepuk ranjang kosong disisi depannya. Menyuruh Kei untuk berbaring disana.


Kei tau gerakan tangan Ken sebagai isyarat agar ia tidur disamping suaminya. Kei langsung menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan. Tentu saja ia malu jika besok pagi kepergok dengan dokter atau perawat. Bisa-bisanya mereka tidur disatu ranjang pasti memalukan.


"Ayolah, tidur disini." perintah Ken.


"Aku disini saja, malu kalau ada yang masuk." ucap Kei.


"Malu dengan siapa? ini rumah sakit milikku, jika ada yang menertawai kita aku akan memberi hukuman. Cepatlah kemari."


'Huh... dasar tuan muda sombong, arogan, masih saja semaunya sendiri!' Kei membatin kesal.


Ketika Kei sudah berbaring disamping, ia mengangkat tangan dan memeluk tubuh Kei. Memberikan kehangatan dan kenyamanan. Kebiasaan yang hampir setiap saat dilakukan, yaitu menghirup aroma sampo dirambut Kei.


Wangi sampo itu menenangkan, Ken sangat menyukai itu.


"Kau sudah mengantuk?" tanyanya. Wajah Ken berada tepat dibelakang telinga Kei dan itu membuatnya geli. Ada sensasi aneh yang dirasakan saat nafas Ken berhembus mengenai kulit leher.


Kei memejamkan mata, menikmati kehangatan dari pelukan itu. Rasa nyaman menjalar di seluruh tubuh. Merasakan dekapan hangat, membuat ia aman dari bahaya-bahaya yang mengancam. Sejenak melupakan segala pemikiran, tak ingin momen itu segera berlalu.


Bahkan ia lupa, jika bahu kanan suaminya sedang terluka.


"Tidurlah, semoga mimpi indah. I love you, my wife." ucap Ken dengan memberi kecupan dirambut Kei.


Kei tidak menjawab, ia sudah mulai terlelap meninggalkan dunia fana dan memasuki alam mimpi.


Ken tersenyum tipis, hatinya ikut terasa damai melihat Kei tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Ia yang belum bisa memejamkan mata hanya mampu menerawang langit-langit atap rumah sakit. Memikirkan sesuatu, membayangkan sesuatu, semua terlintas disaat berada dalam keheningan malam.


Disisi ranjang ada box bayi, didalam sana ada tubuh putranya yang juga tertidur dengan lelap. Bayangan tadi siang sekelebat terlintas, kalimat-kalimat yang dikatakan oleh Kei dan Lee kembali teringat.


Masa lalu hanya masa lalu yang hanya singgah untuk sementara waktu, kini ada masa depan yang sudah menggantikan dan memberi cerita baru.


Kini Ken bersyukur memiliki pendamping seperti Kei, meski umurnya jauh berbeda tapi istrinya bersikap lebih dewasa daripada dia.


Sikap Kei tak jauh berbeda dengan Olive, mereka sama-sama baik dan bisa mengerti dengan sikap posesifnya. Hanya saja Kei lebih lembut dan sabar, tidak seperti Olive yang bersikap manja.


'Ah... aku tidak perlu mengingat itu lagi. Semoga kau tenang di alam mu sekarang. Kau pasti paham, jika aku sudah menemukan hati lain yang juga menggantikan posisimu.'


Keheningan malam membuatnya terserang rasa kantuk, kini mulai memejamkan kedua mata.


Beberapa kali baby Kio terbangun, membuat Kei juga terbangun untuk segera memberikan asi. Mengelus dahi baby Kio dan juga kepala yang ditumbuhi rambut yang lebat. Wajah baby Kio perpaduan dari wajahnya dan juga wajah Ken.


Tengah malam bayi mungil itu terbiasa bangun dan mengajak berinteraksi. Biasanya Ken terbangun dan bergantian untuk menjaga, tapi dilihat suaminya begitu pulas, dia pun sedang terluka tidak mungkin untuk meminta bantuan.


Sedikit mengantuk, ia memaksa untuk menemani baby Kio yang terus mengoceh.


Menatap wajah Ken yang terlelap, kini berganti Kei yang menyimpan banyak pemikiran.


Terbayang apakah mereka berdua bisa menua bersama, meski sikap Ken terkadang menyebalkan dan terlalu posesif tapi Kei sangat mencintai sosok lelaki itu.


Mengingat banyak sekali yang sudah dilalui dengan tawa dan airmata, membuatnya takut untuk menyimpulkan.


"Hatiku selalu kuberikan padamu, semoga kau juga begitu. Badai apapun yang datang, takkan menggoyahkan keputusanku untuk selalu disampingmu. Terkadang aku merasa takut, takut dengan badai yang akan datang lebih dahsyat dari sebelumnya. Aku takut cintamu akan goyah dan meninggalkan kami. Berada di sisimu tak hanya membuatku bahagia, tapi ada juga kecemasan yang menghantui. Kau seperti paduka raja sedangkan aku hanya pelayan." ditengah malam dan ditemani baby Kio ia berbicara mengeluarkan isi hati yang dipendam.


"Siapa paduka raja dan siapa pelayan?"


Kei tersentak, ternyata suaminya terbangun dan mendengar keluh kesahnya.


"Kau terbangun?" tanya Kei. Tapi Ken tidak menjawab dan juga tidak membuka mata, atau hanya mengigau?


Kei menghela nafas, bibirnya tersenyum tipis. Melihat tak ada pergerakan dari suaminya, berati ia hanya mengigau ditengah kesadarannya.

__ADS_1


__ADS_2