
Akio yang tak tahan karena penasaran, akhirnya ikut mengambil sendok untuk mencicip nasi goreng buatan Naya.
"Aku boleh cobain?" izin Akio.
"Coba aja," jawab Naya sambil mengunyah makanan. "Gimana? Mantap kan?" Dia menanyai Akio yang sudah memasukan satu sendok nasi tiwul ke dalam mulutnya.
"Sstthh ... pedes banget. Kamu nggak sakit perut makan seperti ini? Jangan dimakan lagi, kasihan bayinya," ucap Akio.
"Eh, ini enak banget. Aku memang mau yang porsi pedas."
"Enak, sih, tapi ini kepedasan," ulang Akio.
"Itu tiwulnya masih ada, nanti aku buat yang nggak pedas." Naya beranjak untuk memasak lagi dengan porsi cabe yang dikurangi.
Sambil menunggu Naya memasak lagi, tanpa sadar tangan Akio terus menerus menyendok makanan. Meski mulutnya kepedasan, namun rasa dari nasi goreng bercampur tiwul nyatanya memang membuat ketagihan.
Hanya 15 menit, dan Naya sudah menyelesaikan masakannya. "Ya Tuhan ...?! Kamu habisin nasi goreng tiwulku?!" ucapnya tak percaya. Antara kesal, juga keheranan.
Akio meringis dengan pinggiran mulut kemerahan. Dia tak henti mendesis karena kepedasan. Sebenarnya bukan rasa nikmat saja yang membuat Akio menghabiskan makanan itu, melainkan tidak ingin Naya sakit perut. Baginya itu terlalu pedas, lalu bagaimana dengan calon anaknya yang juga ikut memakan itu dari dalam sana. Dia takut calon anaknya kenapa-napa. Ah, pikirannya terlalu jauh.
Tak!
Naya menaruh piring di atas meja, setengah memberengut karena nasi goreng porsinya dihabiskan oleh Akio. Sedangkan buatannya yang baru sama sekali tidak pedas.
"Duh, aku mau ke kamar mandi," ujar Akio dengan mengernyit. "Kamu nggak pa-pa di sini dulu?"
Naya mengangguk sambil tersenyum. Lucu melihat wajah suaminya yang seperti menahan sesuatu. "Langsung dapet karma gara-gara makan jatah punyaku," ujarnya terkekeh lucu.
Jam sudah menunjukan pukul setengah tiga pagi. Akio kembali ke dapur untuk melihat Naya karena istrinya belum kembali ke kamar.
Sampai di depan pintu dapur, Akio menggeleng pelan dengan menyunggingkan senyum melihat Naya ketiduran dengan posisi tangan sebagai bantalan. Nasi goreng yang dibuat sudah tandas tak tersisa.
__ADS_1
Akio berjalan mendekat dan justru duduk di depan Naya. Dia bisa dengan jelas mengamati wajah polos Naya karena sinar neon yang terang.
"Apa seperti ini ngidamnya wanita hamil? Kalau nggak dituruti jurus andalannya diam dan kesal. Kamu gemesin," ujar Akio lirih. Tangan kanan membenahi anak rambut yang menutupi sebagian wajah Naya.
Ingatannya kembali saat Naya berpindah ke kampusnya. Naya terlihat seperti perempuan berkarakter kuat dan mandiri, tidak seperti perempuan lainnya. Bahkan, Naya sendiri seolah memiliki daya tarik tersendiri dengan wajah yang cantik natural.
Yang sampai saat ini dia sukai, Naya tidak pernah mengeluh apapun, bersikap peduli namun tidak berlebihan. Berusaha mandiri meski sekarang dia sudah menjadi suaminya. Yang tentu saja bisa dimintai solusi ataupun pendapat.
Naya tidak pernah meminta hal aneh selain makanan yang barusan di masak. Dia menganggap wajar, mungkin itu salah satu ngidam ibu hamil.
Namun satu yang membuatnya heran, dia dan Naya sudah melakukan sesuatu lebih, tapi ketika ikatannya sudah menjadi sah, Naya justru menolak dirinya. Naya pun tidak mengungkap alasannya, hanya mengatakan kalau dia belum siap.
Awal menikah, perasaan belum memiliki pondasi kuat. Dia menganggap pernikahan yang terjadi suatu keharusan sebagai bentuk tanggung jawab. Namun, nyatanya semakin dijalani dia semakin menemukan kenyamanan.
Bahkan tak terpikirkan ada perpisahan di antara mereka. Akio menganggap semua akan seperti ini sampai tahun-tahun terlewati dan sebisa mungkin rasa cinta tumbuh semakin besar di antara mereka.
Akio yang tersadar dari lamunan segera meraih tubuh Naya dengan hati-hati untuk digendong dan dipindahkan ke kamar. Tubuh Naya masih sama, tetap menggiurkan namun sekuat tenaga dia harus menahan. 'Ini menyiksa,' batinnya. Menyentuh tanpa bisa berbuat lebih.
Jam 7.15, Akio berjalan tergesa-gesa. Semalam waktu istirahatnya berkurang hingga pria itu bangun sedikit terlambat.
Ketika bangun, lagi-lagi tak mendapati Naya ada di kamar. Dia sudah bisa menebak di mana istrinya itu berada. Meski begitu, semua keperluannya ternyata sudah disiapkan oleh Naya. Setelan jas untuk ke kantor, dasi, sepatu dan alas kaki, semua lengkap.
Warna yang dipadupadankan juga menurutnya pas. Tidak mencolok atau norak. Namun ada satu yang kurang, yaitu onderdil pria. Dia tidak menemukan itu di segala mata memandang. Mungkin Naya malu dan enggan menyiapkannya.
"Nay, aku berangkat sekarang. Sudah hampir terlambat," ucapnya ketika melihat Naya sedang menata makanan, di ruang makan.
"Maaf aku nggak tega buat bangunin," ujar Naya.
"Nggak pa-pa, masih kurang 15 menit. Tapi aku nggak bisa sarapan di rumah."
"Nggak pa-pa. Aku udah siapin bekal. Kamu malu nggak kalau bawa bekal dari rumah?" Naya melirik Akio.
__ADS_1
Sebenarnya di kantor ada kantin yang sudah menyediakan makanan. Tetapi Akio tak enak menolak bekal yang sudah capek-capek disiapkan Naya.
"Kenapa malu, aku justru senang," jawab Akio yang langsung disambut senyuman dari Naya.
"Aku berangkat sekarang," pamit Akio.
Naya mengambil tangan Akio untuk disalami. Setelahnya dia mengangguk. "HatI-hati," ucapnya.
Sekilas rumah tangga yang dijalani normal seperti umumnya. Bahkan jika ada yang menyaksikan pasti memberi penilaian sebagai kebahagiaan sempurna, nyatanya semua itu hanya sebuah kebimbangan seperti mimpi. Ketika dia terbangun, dia harus siap kehilangan semuanya. Cinta, dan mungkin buah hatinya.
Naya mengamati kepergian Akio dengan menyusut sudut matanya. "Nikmati dulu, Nay. Setelah waktunya tiba, kembalikan dia. Hidupmu tidak berarti, tapi hidup dia dan Zee pasti sangat berarti."
Di perjalanan Akio tersenyum melihat kotak bekal yang disiapkan Naya. Dia sudah terbiasa dengan keadaan, bahkan harinya mulai berwarna ketika merasakan hal-hal baru yang dilakukan Naya. Dia sama sekali tidak menyesali pernikahannya.
Tetapi ada penyesalan lain yang belum melegakan, satu rasa bersalahnya terhadap Zee. Sungguh, kesenangan yang dirasa disertai perasaan berdosa terhadap Zee.
Mungkin perasaanya akan lebih lega seandainya bisa bertemu Zee. Tetapi, sampai saat ini dia belum menemukan info keberadaan Zee. Karena dia tahu, ada peran daddy Ken yang juga menjaga privasi Zee. Membuatnya sulit untuk menemukan.
Mobil yang dikendarai sudah berbelok di pelataran kantor, tak jauh dia melihat Lee berdiri di samping mobilnya. Dia mendekat untuk mengajaknya masuk.
"Baik, kesayangan papa. Jaga diri baik-baik," ucap Lee yang ternyata sedang menerima panggilan.
Lee berbalik dan terkejut melihat Akio. "Tuan Muda?"
"Paman belum berubah pikiran untuk memberitahuku dimana Zee sekarang?" todong Akio.
"Bukan saya yang harus berubah pikiran, tapi Anda tahu kalau ini permintaan putriku sendiri. Jadi, Paman tidak bisa melakukan apapun."
"Tolong Paman, aku hanya ingin berbicara dan meminta maaf," mohon Akio dengan berharap lebih.
Lee terdiam.
__ADS_1