Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Berkunjung ke rumah Lee


__ADS_3

Di hari weekend, Lee malas untuk keluar rumah. Ia lebih senang didalam rumah dan berkumpul dengan Dewi dan putri kecilnya.


Duduk disofa bersama Dewi, tangan Lee tak henti mengusap perut buncit milik istrinya. Tangan kekar berotot yang merasakan tendangan-tendangan kecil dan perut bergelombang.


Lee sangat bahagia, senyum cerah menghiasi rahang kokohnya.


Dilantai bawah dengan beralaskan karpet berbulu tebal dengan warna silver, Alzena sibuk dengan berbagai mainan ala-ala anak perempuan. Ada boneka Barbie, alat masak-masak seperti yang ada didapur.


Bocah kecil itu berinteraksi dengan boneka-boneka seperti seorang Chef sungguhan.


Lee dan Dewi yang memperhatikan sesekali tertawa melihat tingkah lucu dan polos dari Alzena.


Sungguh kebahagiaan yang diidamkan oleh kebanyakan orang.


Masih asik dengan kehangatan keluarga, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Lee dan Dewi saling pandang, mereka tidak tau siapa tamu yang berkunjung. Mungkin Ibu? begitu pikir mereka.


Ketika Dewi akan berdiri, Lee mencegah. "Biar aku saja yang buka pintu,"


Dewi hanya mengangguk.


Lee berjalan menuju pintu dan segera membuka untuk mengetahui siapa yang bertamu.


Sedikit terkejut didepan pintu sudah ada keluarga tuan mudanya.


"Tuan muda?" Lee menyapa dengan wajah kebingungan. Tumben sekali tuan mudanya datang kerumah. Apa ada sesuatu?


"Lee, kau tidak mempersilahkan kami masuk? ck, kau ini!" Ken mendengus.


Kei mengelus punggung tangan Ken. "Sabar..." ucapnya. Kei tau kalau sekretaris Lee masih terkejut.


"Iya maafkan saya tuan muda, silahkan masuk." Lee mempersilahkan masuk dan membuka daun pintu lebar-lebar.


Melihat tamu yang datang, Dewi antusias untuk menyambut. "Kei..." keduanya melakukan cipika-cipiki.


"Dad, Io mau turun..." pinta Kio yang meronta dari gendongan Daddy nya.


"Kak Io..." Ze memanggil dengan kegirangan.


Setelah Io turun dilantai, ia segera mendekati Ze dan duduk bersama.


Dewi pergi kedapur dengan Kei untuk menyiapkan minuman dan camilan.


"Tuan muda, apa ada perlu?"


"Tidak Lee, Io mengajak bertemu Ze." Jawab Ken.


'Oh... syukurlah, aku kira ada sesuatu. Jantungku sudah ingin keluar.' batin Lee.

__ADS_1


"Satu minggu lagi Tristan menikah dan mempelai wanitanya adalah Dokter Sofia." kata Lee.


"Eum... tadi, pagi buta manusia rese' itu sudah datang kerumah."


"Dia datang ke rumahku pukul setengah enam, tuan muda." Lee memberitahu.


"Dasar gila..." Ken tersenyum miring.


"Daddy, ayo kita ke Mall!" ajak Kio dengan tiba-tiba.


"Ke Mall mau beli apa?" tanya Ken.


"Ze pelit, Io pinjam boneka tidak boleh." adunya dengan tangan yang dilipat diatas perut, jangan lupakan bibir maju yang mengerucut.


"Ze, mainannya bersama. Tuan muda kecil pinjami bonekanya."


"Huhu... tuan muda kecil cengeng!" Alzena malah meledek.


Ken melirik kearah Lee dengan tatapan sulit diartikan.


Padahal Lee sangat kesusahan untuk menelan air liur.


"Ze, kau tidak boleh begitu," Lee memperingati putrinya, tapi sesekali ujung mata melirik kearah tuan Ken. Apakah tuan mudanya masih melirik dengan horor.


"Kenapa Pa? apa karna Kak Kio anaknya Paman Ken, Je tidak boleh begitu?" tanya Alzena polos.


"Je tidak takut sama Paman Ken, kata Papa dia jelek dan menyebalkan. Jadi, ayo kita beri pelajaran!" kata Alzena menggebu-gebu dengan menatap kearah Ken. Bocah perempuan itu memang bawel.


Kedua pria dewasa saling terdiam. Bukan lagi terdiam, Lee sudah berubah pucat.


'Mati kau Lee. Menyesal, aku benar-benar menyesal bercerita ngawur pada Ze. Ini kesalahan terbesar. Bahkan sangat besar! Bagaimana ini?' Lee benar-benar mengkerut, untuk melirik kearah tuan mudanya tidak ada keberanian.


Beruntung Kei dan Dewi sudah muncul dari dapur, mereka menaruh minuman dan cemilan roti dengan buah-buahan segar.


"Kenapa kalian berdua diam saja seperti patung?" Kei melihat kearah Ken dan Lee bergantian, memperhatikan wajah Lee yang pucat.


"Awas saja kau Lee, tunggu pembalasan besok di kantor." Ken berbisik lirih, bahkan suaranya nyaris tak terdengar.


Lee mengerutkan dahi dan berwajah pucat seperti maling ketangkap basah.


"Tidak pa-pa Honey, Lee saja yang terlalu formal. Dia terlalu canggung duduk di sampingku." Ken menepuk bahu Lee.


Lee tersenyum dengan paksa.


"Mom, Io nggak mau main dengan Ze. Dia tadi bicara kalau Daddy jelek dan menyebalkan." kini berganti Kio yang mengadu.


Bukan marah atau apa, Kei justru menahan tawa. Sekarang ia tau, kenapa sekretaris Lee berwajah pucat.

__ADS_1


"Sayang, kalian masih anak-anak tidak boleh berbicara begitu. Tidak boleh menghina atau mengatakan yang jelek-jelek pada orang lain." Kei mendekat dan memberi pengertian.


"Iya Tante, maafin Ze..." ucap Alzena.


"Eum, anak pintar. Kio juga nggak boleh menghina dan menjelekan orang lain ya..." pesan Kei pada putranya sendiri.


"Tapi kata Daddy tidak pa-pa Mom, tidak pernah melarang ku. Daddy bilang aku boleh berbuat semauku."


Kei melirik kearah Ken.


"Ah, sepertinya acara bermain hari ini sudah selesai." ucap Ken tak memperdulikan mereka. Lebih tepatnya mencari aman, sang istri sudah memberi kode dengan lirikan. Ken ikut menciut.


"Dasar, kalian para Ayah pasti mengajarkan hal-hal yang aneh pada mereka? dia itu masih kecil, dalam otaknya selalu merekam apa yang diajarkan orang tua dan orang sekitar. Jadi jangan coba-coba mengajari dengan hal buruk, karna mereka akan mencatatnya.


Disaat mereka masih kecil, hal utama yang harus diajarkan yaitu tentang kebaikan dan hormat kepada orang yang lebih tua. Dan satu lagi, jangan mengajarkan anak untuk bersikap manja!" Kei berceramah kepada dua pria dewasa.


Ken dan Lee diam dengan saling melirik satu sama lain.


"Wah... Mom hebat. Daddy dan Paman Lee takut pada Mom."


"Iya, Papaku takut dengan Mom mu." Ze ikut menimpali.


Sedangkan Dewi tersenyum simpul. Ia takkan berani berceramah seperti itu.


'Cih.. aku menyesal menuruti keinginan Kio untuk datang kerumah Lee!'


'Aku menyesal sudah membukakan pintu untuk tuan Ken. Jika tau raja singa itu akan datang, lebih baik tadi pura-pura tidak ada.'


Ken dan Lee hanya menggerutu dalam hati.


Setelah suasana kondusif, mereka melanjutkan dengan memakan hidangan yang ada.


Kio dan Ze tampak senang dengan bermain bersama. Begitulah anak kecil, satu detik bertengkar tapi detik berikutnya pasti sudah baikan.


Setelah hampir 2jam berada dirumah Lee, Ken mengajak untuk pulang. Sebenarnya Kio tidak mau, tapi Ken terus membujuk.


"Jika Io ikut pulang, Dad harus beliin Io mainan robot yang besar dan berwarna hitam!"


"Oke Bos kecil." jawab Ken.


Setelah berpamitan, Ken dan Kei masuk kedalam mobil. Pengawal yang mengendarai mobil segera menghidupkan mesin.


"Sayang, aku ingin makan mie ayam di taman yang dekat jalan kantor mu." kata Kei.


"Tidak Honey, penjual mie ayam ditempat seperti itu biasanya kurang higienis!" Ken menolak.


"Ayolah, aku ingin sekali, sedikit saja nggak pa-pa.."

__ADS_1


__ADS_2