
Beberapa hari ini menjadi hari terlelah.
Lee harus mengikuti kemanapun tuan mudanya pergi, dan disatu minggu terakhir jadwal tuan Ken benar-benar padat.
Ketika pergi keluar kota atau keluar Negeri ia juga harus ikut serta, menjadikan dirinya tak ada waktu untuk keluarga.
Beruntung Lee mendapat istri yang pengertian. Sedari awal ia sudah menjelaskan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan untuk menjaga dan memastikan keadaan disekitar tuan mudanya supaya selalu damai.
Istri dan anak sangat penting keadaan tuan Ken juga sangat penting. Ia tak akan bisa memilih diantara keduanya, entah ada sesuatu apa hingga Lee begitu patuh dan setia dengan pria arogan bernama Kendra Kinechi.
Keesokan paginya, Ken dan yang lain sudah tiba di Bandara Jakarta.
Satu rombongan itu sudah turun dari pesawat dan sedang menuju pintu keluar.
Semua sudah masuk kedalam mobil yang sudah siap menjemput diarea parkir. Setelah semua masuk, mobil itu mulai meninggalkan area Bandara dan pulang kerumah tuan Ken.
"Lee, kau ku beri waktu untuk berlibur dua hari," Ken mengatakan itu tanpa melihat kedepan.
"Tapi tuan, besok ada jadwal penting untuk metting dengan perusahaan Indra Grup." Lee sudah mengecek jadwal untuk kedepannya.
"Kita bukan robot, otak dan badan butuh istirahat. Mundurkan jadwalnya,"
"Jika waktunya dimundurkan mungkin mereka bisa meng-cancel kerjasama dengan perusahaan anda." jawab Lee dengan menoleh kekursi penumpang.
"Biarkan saja. Tidak perlu khawatir, masih banyak perusahaan lain yang mau bekerja sama denganku." jawab Ken santai.
'Benar juga yang dikatakan tuan Ken, sebenarnya aku juga lelah dan butuh istirahat. Aku ingin meluangkan waktu untuk Dewi dan Alzena.' batin Lee sumringah.
"Baiklah tuan muda, saya akan mengatur ulang jadwal anda." Lee tersenyum lebar. Jarang-jarang ia bisa mengambil cuti, ia akan memanfaatkan waktu luang itu.
"Otakmu mesum Lee!" ucap Ken dengan menaikkan alis keatas.
"Hah..." Lee kembali menoleh kebelakang.
"Apa maksut anda?" tanyanya.
"Kau pasti sudah menyusun kencan dengan istrimu." Ken tersenyum miring.
"Cih... Anda sok tau." ucap Lee sangat lirih.
"Gunakan waktu cuti dengan sebaik mungkin,"
"Tentu tuan muda." jawab Lee juga tersenyum miring.
__ADS_1
Kei tidak menanggapi, ia sibuk mengelus rambut putranya yang masih terlelap.
Dibiarkan keduanya mengobrol.
"Minta jatah dobel Lee, biar tikusmu puas." Ken tertawa cekikikan.
Lee memasang muka masam, ia tau Ken mengejek. Tak menanggapi hanya terdengar hembusan nafas.
"Hist.. kau ini apaan sih. Kenapa bahas tikus-tikus gitu, geli tau." sedari tadi Kei terdiam, ia baru menyahut setelah mendengar Ken mengatakan tikus. Hewan yang menggelikan dan juga ditakuti oleh Kei.
"Apa Honey, kau tidak tau istilah tikus. Diam saja." ucap Ken.
"Ya sudah nggak usah bicara hewan itu lagi,"
"Iya Nona, anda benar. Tidak usah membahas hewan menggelikan seperti tikus."
Ken tergelak. "Menggelikan? padahal itu paling disukai istrimu Lee."
'Otak tuan muda mulai eror, mungkin jadwal padat membuat otaknya geser dan perlu dipukul dengan sapu. Apa-apaan dia membongkar rahasia ranjang ku. Keterlaluan.' sungut Lee dalam hati.
"Aneh sekali, bagaimana bisa mbak Dewi menyukai tikus? padahal aku saja sangat takut dengan hewan itu." Kei bergidik.
"Kau tidak akan tau Baby."
Kei memutar bola mata malas.
Setelah memastikan tuan mudanya aman sampai didalam rumah, Lee berpamit pulang.
"Selamat menikmati hari cuti Lee," Ken mengangkat alisnya dua kali dan tersenyum miring, ia seakan tak puas-puas menyindir sekretarisnya.
Lee tidak menanggapi dan pergi begitu saja setelah membungkuk sebentar.
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia sudah sampai didepan Apartemennya.
"Ma..." Lee memanggil dan mengetuk pintu beberapa kali. Tak lama pintu sudah terbuka, terlihat wajah Dewi dengan tersenyum hangat.
"Pahmud sudah pulang?"
"Sudah lah, jangan panggil aku dengan sebutan itu." baru pulang sudah mendapat sambutan yang membuatnya malas.
"Iya iya maaf," ucap Dewi.
Lee mendekat dan mencium kening istrinya, turun kebawah menikmati candu.
__ADS_1
"Hust, baru pulang malah begini. Malu dilihat tetangga." Dewi tersenyum malu.
"Eum, kita lanjutkan dikamar." jawab Lee dengan menggoda.
"Dimana putriku? aku merindukannya." mereka berdua berjalan masuk dan menaiki anak tangga.
"Dimana lagi kalau bukan diatas ranjang."
"Ah, aku merindukan kalian sampai lupa untuk menurunkan oleh oleh yang masih ada didalam mobil."
"Tidak pa-pa nanti biar aku yang ambil. Kau pasti sangat lelah sekali."
"Istriku memang selalu pengertian." Lee menatap Dewi lekat, ia mengulangi seperti tadi, yaitu menikmati candu yang ia rindukan.
Dewi menyambut dengan senang hati, ia juga merasakan hal yang sama. Beberapa hari tidak melihat wajah suaminya, ia pun menumpuk rasa rindu.
Ciuman kerinduan yang semakin lama menjadi panas, dengan pelan Lee membuka jas dan kemeja yang dipakai. Sesuatu disana sudah mendesak, seperti tak ada waktu lain, ia ingin menuntaskan hasrat panas yang ia tahan.
Hampir satu jam keduanya menikmati kerinduan dengan menyalurkan kehangatan. Setelah ritual itu selesai, ia dan Dewi melakukan mandi bersama.
Tikus hitam milik Lee tak bisa meminta jatah dobel, Alzena sudah lama terlelap dan saatnya sebentar lagi terbangun.
Ia harus mengalah, waktu yang dimiliki terbatas tidak seperti dulu bebas memasuki sarang Dewi.
"Aku belum puas," ucap Lee. Keduanya keluar dari kamar mandi berbalut handuk.
"Masih ada banyak waktu," jawab Dewi. Ia lebih dulu menyiapkan baju untuk dipakai suaminya.
"Waktu kita tidak bebas seperti dulu, terkadang masih setengah perjalanan anak kita sudah bangun. Apalagi kalau ibu menginap disini, pasti sebentar-sebentar ganggu kita." Lee menggerutu.
Dengan cekatan tangan Dewi memakai bajunya.
Dibibir itu tersungging senyum, ia lucu melihat suaminya seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen.
"Ya mau gimana lagi, memang seperti itu. Tapi kalau ada waktu pasti aku kasih servis dobel 'kan?"
Lee tak menjawab lagi, ia beralih duduk dipinggir ranjang dan didekatnya ada box bayi. Alzena tidur dengan posisi miring, kaki sebelah yang menumpang diatas guling sangat lucu.
"Ze, kau tidak bangun? Papa sudah pulang." Lee mengelus pipi Alzena yang mulai mengembang. Padahal waktu lahir berat badan Alzena termasuk kecil, waktu itu Dewi tidak bernafsu makan hingga janin yang dikandungnya kekurangan asupan nutrisi. Tapi dokter handal yang menangani tak begitu mempersalahkan.
Setelah dilakukan pemeriksaan USG janin itu sehat dan baik-baik saja.
"Gendong saja, Ze udah tidur lama. Ini juga waktunya dia minum asi." kata Dewi.
__ADS_1
"Tadi Papanya yang minum, sekarang ganti anaknya." ucap Lee dengan tersenyum lucu.
"Iya, kalau tadi bayi jadi-jadian. Yang ini bayi sungguhan." Dewi tertawa lucu.