Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Larangan Pertama.


__ADS_3

Kei menaiki satu persatu anak tangga, mulutnya bergerak-gerak namun tidak terdengar apapun. Dia takut, sangat takut. Sampai didepan pintu berhenti sejenak, ragu saat ingin membuka. Mengatur nafas sebaik mungkin, 'Kei, jangan banyak bicara. Meminta maaf dengan benar, atau mencoba memasang wajah bersalah agar tuan arogan mu itu luluh. Yakin dia luluh? ah, aku belum pernah melihat dia marah seperti itu. Ya Tuhan, bagaimana ini? aku bingung dan takut.' Kei menempelkan dahinya didepan pintu. Dengan tangan gemetar Kei memegang handel pintu dan memutarnya.


Ceklek...


Pertama kali, Kei menyengir kuda. Tuan Ken berdiri tepat didepan pintu, menyilangkan tangan didepan dada. Jangan lupakan sorot mata yang tajam, membuat siapa saja bergetar ketakutan. Senyuman Kei memudar kala tuan Ken tidak bergeming dengan usahanya, jalan satunya menundukkan kepala seperti seseorang yang sedang menyesali kesalahannya. Tetapi jika berhadapan dengan orang normal tentu bisa diuraikan dengan sebuah kalimat baik, nyatanya lelaki didepannya ini seorang lelaki arogan. Lelaki yang tidak akan mau mendengar penjelasan orang lain, amarah sulit diredam kecuali dia sendiri yang telah lelah. Keduanya diam, yang satu menatap tajam, yang satu menunduk takut.


"Kenapa..." entah pertanyaan untuk apa Ken bertanya seperti itu.


"Ma-maaf tuan." masih menunduk, meremas ujung rok.


"Kau suka dipeluk lelaki seperti itu!" menggeleng kuat, tetap menunduk.


"Wajahku diatas, bukan dilantai!" nada dingin. Dengan cepat Kei mendongak, mengedipkan mata dan melihat kesana kemari. Nyatanya masih takut melihat sorot mata tuan arogan itu.


"Kau tau,,,?" Kei menggeleng. Ken berdecak.


"Aku belum selesai bicara!"


"Maaf.." ucap Kei. 'Maaf-maaf saja Kei, agar manusia dingin itu tidak lagi menyeramkan.'


"Aku tidak mau kejadian tadi terulang, tidak ada laki-laki yang boleh menyentuhmu. Bahkan, seujung rambut." Ken berjalan menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana. 'Apa tuan normal? aku manusia bukan barang antik yang bisa berjarak dengan lelaki lain, tuan! bukankah sangat berlebihan. Hiks...hiks... nasib mu sungguh susah, Kei.'


"Kemarilah..." Kei mendekat dan duduk disofa yang berbeda. Tetapi Ken menepuk sofa disampingnya, tidak ada pilihan. Kei berpindah duduk. Baru mendudukan tubuhnya, Ken meraih tubuh Kei untuk dipeluknya.


"Hah... laki-laki tadi memelukmu seperti ini!" Kei menggeleng kuat, "Tidak tuan Ken." Kei mengatakan sebenernya, tetapi Ken tetaplah Ken, jika amarahnya belum reda masih akan merajuk.


"Huh, berpelukan seperti ini sudah sangat melewati batas, Kei."

__ADS_1


"Sebenarnya kejadian tadi bukan seperti yang anda kira, tuan. Aku dan tuan tadi tidak berpelukan seperti ini, dia menarik tanganku dan aku kehilangan keseimbangan sampai akan terjatuh. Tuan tadi hanya menangkap, agar tubuhku tidak terjatuh dilantai." Kei menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Ken membuang nafas kasar.


"Apapun alasannya, aku tidak suka tubuhmu disentuh lelaki lain." masih berpelukan, Kei memutar bola mata malas. Nasib baik atau nasib buruk mendapat suami super posesif seperti ini, cara apa yang mampu menghentikan pemikiran anehnya.


"Tapi tuan, bukan aku dulu yang menyentuh tapi dia." Kei menyangkal, memang itu kebenaranya, harusnya tuan Ken tidak seratus persen menyalahkannya.


"Kau harus menjaga jarak dengan lelaki lain." sudah sedikit melunak, 'ya Tuhan, kenapa tidak kau kurung saja aku di Museum. Oke, Kei sekarang bukan saatnya membantah. Kita ikuti saja kemauan beruang kutub ini agar tidak lagi menyeramkan.'


"Baik tuan, sebisa mungkin aku akan menghindari lelaki yang akan mendekatiku."


"He'em, bagus."


"Tuan,"


"Hem..."


"Pinggangku kram jika kau peluk terus, seperti ini." melepaskan dan cemberut.


"Tuan.."


"Hem..." 'bagaimana sih, kenapa tidak peka sekali. Aku juga capek tuan, badanku pegal.' Kei mengeluh dalam hati. Ken melepas pelukan, tetapi beralih tidur dipangkuan Kei.


"Usap-usap rambutku, aku lelah ingin tidur." Ken sudah memasang posisi nyaman, dengan kedua paha Kei yang menjadi bantal ternyaman. Kei melototkan mata, ternyata kesabarannya masih diuji. Mulai mengusap rambut tuan Ken yang hitam legam, mata tajam beberapa waktu lalu terpejam.


'Kenapa tidak tidur diranjang saja tuan, aku juga lelah. Hah... aku kira sudah menaklukkan tuan Ken, nyatanya badanku tidak bisa bergerak sudah seperti patung. Apa yang bisa kulakukan jika seperti ini.' rasa kantuk seperti menular, Kei menguap beberapa kali sebelum ikut menutup mata karna rasa kantuk yang menyerang. Tas kecil belum dia lepas, masih berada dibahu sebelah.


Lee yang masih berdiri diluar memasang telinga dengan seksama, sepertinya aman karna tidak terdengar suara keributan.

__ADS_1


Sinar ufuk jingga sudah terlihat, menampakan keindahan warnanya. Dua manusia yang tertidur lelap masih berada diposisi yang sama tanpa berubah.


Tas yang masih menggantung tadi terjatuh kelantai, Kei terkejut dan reflek mengambilnya tanpa dia sadari dadanya sudah menekan tuan Ken yang terlelap diatas pahanya. Ken ikut terkejut saat wajahnya seperti kejatuhan benda padat namun kenyal.


"Baah..." matanya melotot, terkejut. Kei membuka mulut segera menegakkan tubuhnya. Ken mengusap wajah, bangun dari tidurnya.


"Kau..."


"Eh, maaf-maaf tuan. Aku tidak sengaja, tadi tasku terjatuh, karna kaget aku langsung membungkuk untuk mengambilnya." Kei memasang wajah kikuk. Berbalik, Ken tersenyum tipis.


"Jujur saja, kau ingin menggodaku." Kei melongo, apa-apaan?. Kei menggeleng.


"Jadi kau tidak menggodaku!"


"E,,, iya-iya tuan, aku mencoba menggoda anda."


'Auh,, harus mengalah demi Mr, arogan.'


"Au..... Tuan..." Ken sudah menggendong tubuh Kei.


"Salah siapa kau membangunkan tidurku." tersenyum mengerikan. Kei menghela nafas.


"Kenapa kearah sini?"


"Kita sekalian membersihkan diri." didalam hati Kei sudah berdecak kesal, menerutuki kesalahannya. Akhirnya harus terjerat perangkap.


Ken mengendong tubuh Kei masuk kedalam kamar mandi, tidak bisa menolak, seperti sebuah perintah yang tidak bisa dibantah. Jika membantah beruang kutub akan mengamuk lagi. Hari ini sudah cukup buruk, mudah-mudahan hari esok akan baik.

__ADS_1


Tuan Ken tetap tuan Ken, amarah sulit untuk diredam. Sama seperti hasratnya yang juga besar, ingin selalu menikmati candu semakin hari semakin memabukan.


Suara desahan saling bersahutan dari dalam kamar mandi, memberi kepuasan satu sama lain. Meski belum yakin dengan cinta tuan muda itu, tetapi Kei tidak munafik dia sangat menikmati perlakuan dari suami keduanya itu. Suami yang menurutnya aneh. Tetapi memiliki sisi baik dan posesif yang berlebih.


__ADS_2