Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kecewa


__ADS_3

Kemanapun dia mencari namun tak mendapati titik terang tentang keberadaan Naya. Frustasi, kehilangan semangat hidup bahkan menjadi sosok pendiam. Itulah Akio setelah beberapa hari kehilangan Naya.


Dia akan berdiam diri setelah kelelahan menjejaki tempat manapun untuk mencari sesosok perempuan yang sangat dirindukan.


Dia duduk di pinggir ranjang, baju tidur yang terakhir kali di pakai Naya ketika malam itu, dia letakkan di sampingnya. Harum yang masih tertinggal, menambah kesan kerinduan. Sekian lama dia menunggu Naya membuka hati, bahkan hanya semalam dia melewati keindahan sempurna dengannya, setelah itu yang tersisa hanya kehilangan dan kehampaan.


Waktu bertambah pilu, ketika alunan merdu menggambarkan suasana hatinya.


Sepinya hari yang ku lewati


Tanpa ada dirimu menemani


Sunyi ku rasa dalam hidupku


Tak mampu aku 'tuk melangkah


Masih ku ingat indah senyummu


Yang selalu membuatku mengenang mu


Terbawa aku dalam sedihku


Tak sadar kini kau tak di sini


Engkau masih yang terindah


Indah di dalam hatiku


Mengapa kisah kita berakhir


Yang seperti ini


Hampa kini yang ku rasa


Menangis pun ku tak mampu


Hanya sisa kenangan indah


Dan kesedihanku


Akio tak sadar telah meneteskan air mata. Dia menunduk dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Seperti lirik lagu yang di dengar, hanya tersisa kenangan dan kesedihan. Naya pergi membawa teka-teki yang sulit dipecahkan. Dia tak tahu apa kesalahannya sampai Naya meninggalkannya tanpa pesan. Meninggalkan kekosongan dan kehampaan.


Beberapa kali dia berusaha menghubungi Naya, berharap nomor itu masih aktif. Tetapi tidak bisa. Semua sosial media pun tidak ada riwayat aktif, Naya pergi seperti di telan bumi.


Dalam waktu singkat, dia kehilangan dua perempuan yang pernah dekat dengannya. Kesalahan yang di lakukan harus dibayar mahal dengan sebuah kehilangan.


Bukan itu saja, sosok makhluk kecil yang sangat dinantikan kehadirannya ikut di bawa pergi oleh Naya. Tak tersisa, benar-benar tak ada sisa.


Tok ... tok ...


Ketukan di pintu tak dihiraukan. Akio tak peduli siapapun yang masuk ke kamarnya. Mungkin hanya pelayan mengantar makanan.


"Io ...."


Ternyata dugaanya salah, mommy Kei yang datang. Akio menoleh, namun tidak menyahut.


"Apa belum ada kabar?" Kei duduk di sebelah Akio. Mengelus pundak putranya yang terlihat suram sejak kepergian sang istri.


"Tidak ada." Sebenarnya dari raut wajah Akio sudah terduga bahwa pencarian belum membuahkan hasil.


"Sabar, sayang. Jangan menyerah. Kita berusaha mencari istrimu. Dad sudah kerahkan semua orang-orangnya, sebentar lagi mereka pasti bisa menemukan Naya," ucap Kei memberi semangat. Akio membuang napas panjang.


"Io, sebaiknya sementara ini kamu tinggal lagi di rumah dad. Mom tidak tenang kamu tinggal di sini sendirian. Oma sakit, Mom nggak bisa sering temani kamu."


"Badannya lemas dan mengeluh pusing. Oma juga sering melamun. Kata dokter, tekanan darah oma rendah dan terlalu stres. Tapi apa yang dipikirkan oma, sampai berdampak seperti itu," ujar Kei.


"Coba kamu sempatkan waktu untuk jenguk oma, mungkin dia memikirkan kamu. Mengetahui cucu kesayangannya sedang sedih, oma juga ikut sedih. Mungkin," ucapanya.


"Nanti malam Akio lihat oma."


Kei mengangguk. "Kamu pasti belum makan. Mom buatkan makanan kesukaanmu. Mau?" tawarnya.


"Nggak usah. Io masih kenyang."


"Masih kenyang? Memang apa yang kamu makan? Apa kenyang cuma dengan makan angin?" seloroh Kei. Akio tersenyum singkat, hanya menghargai candaan mommy nya.


"Kalau kek gini jangan dengerin lagu sedih-sedih. Semangatmu semakin berkurang, dengarkan ceramah saja biar hatimu tenang."


Lagi-lagi Akio hanya tersenyum singkat untuk menanggapi.


*

__ADS_1


"Oma sakit apa?" Akio duduk di tepi ranjang tempat oma berbaring. Dia baru saja datang, dan menyempatkan diri untuk menjenguk sang oma.


"Io, apa kamu sudah baik?" Oma Lyra justru berbalik memberi pertanyaan.


"Bukan Io yang harus di khawatirkan. Tapi kesehatan Oma. Io tidak akan baik sebelum bisa menemukan Naya. Io cuma bertahan seperti ini. Oma harus cepet sembuh." Akio mengelus punggung tangan omanya.


"Io ...." Oma Lyra terlihat berat menyampaikan sesuatu. Dia belum siap untuk di benci cucunya sendiri. Tetapi dia tak bisa hanya berdiam diri.


"Iya, Oma."


"Oma sangat menyayangimu."


"Io juga sangat menyayangi Oma. Untuk itu Oma harus sembuh."


"Apa kamu tetap menyayangi Oma kalau Oma telah melakukan kesalahan besar?"


Dari sini Akio mulai bingung. Kesalahan apa yang dimaksud omanya?


"Apapun kesalahannya, Io tetap sayang Oma. Memang Oma melakukan kesalahan apa?"


"Rasanya Oma lebih baik di penjara, dari pada seperti ini." Oma Lyra mulai menangis.


Akio terkejut, kenapa reaksi oma Lyra demikian. Apa yang sebenarnya dilakukan.


"Oma melakukan kesalahan apa sampai berbicara hukum. Apa mom dan dad tahu?"


"Tidak. Oma cuma ingin bicara denganmu karena ini tentangmu. Oma sungguh minta maaf. Tolong maafkan Oma." Isak tangis tak bisa di tahan. Oma Lyra berusaha bangkit dan ingin memeluk Akio, cucunya itu segera membantu dan membalas pelukan Oma.


"Untuk apa Oma minta maaf dengan Io sampai menangis seperti ini. Io selalu maafin Oma. Oma juga tidak melakukan apapun pada Io."


"Sebenarnya kepergian istrimu ada sangkut pautnya dengan Oma."


Deg .... Akio terdiam.


"Bukan itu saja, ibu mertuamu sakit juga karena Oma. Dan mungkin sampai meninggal karena terpikirkan omongan kasar yang Oma katakan padanya." Oma Lyra menyiapkan diri untuk mengungkap kejujuran. Di umurnya sekarang, dia tidak ingin pergi dengan menanggung beban dosa besar. Dia siap bila keluarganya membenci kesalahannya, bahkan dia menyiapkan diri bila Akio, cucu kesayangannya ikut membenci.


"Naya kecewa atas kepergian ibunya. Dia bersikeras ingin mencari Zee dan ingin menyatukan kamu bersama Zee. Ini salah Oma yang tidak bisa menerima pernikahan mu dengan Naya, membuat istrimu tertekan dan pergi."


Perlahan Akio melepas genggaman tangannya. Napasnya berubah memendek. Raut wajahnya berubah antara, marah, sedih, kecewa dan menyesal. Dia sampai menitikkan air mata. "Kenapa Oma tega melakukan itu? Dia istriku, ibunya adalah ibuku juga. Kenapa Oma tidak bisa menerima Naya. Akio mencintai dia, Oma. Akio sangat mencintai Naya," Akio berkata dengan suara tertahan. Sakit, dan lebih merasa kecewa kepada oma.


Oma Lyra terdiam dan terus terisak.

__ADS_1


"Io tahu dari awal Oma tidak suka dengan Naya. Bahkan Naya pernah menangis karena sikap Oma. Tapi dia selalu mencegah Io untuk menegur Oma, dia takut Oma semakin benci padanya. Tapi nyatanya sebaik apapun Naya, Oma masih tidak bisa menerima dia. Semua bukan kesalahan Naya, tapi kesalahan Io! Io lah yang mengajak Naya berhubungan sampai dia hamil. Kenapa harus menyalahkan dia saja, kenapa tidak menyalahkan dan membenci Io juga? Io sangat kecewa dengan Oma."


__ADS_2