
Ketika keluar dari rumah mertuanya. Naya sudah membulatkan tekad untuk tidak lagi memikirkan apapun. Dari semalam dia telah memikirkan matang-matang tentang keputusan yang di ambil. Siap tidak siap, dia sudah bertekad untuk mengakhiri semuanya.
Sebelum dia pergi, dia sempatkan memperhatikan bangunan megah yang berdiri kokoh di depannya. Derajat mereka memang tak sepadan, mungkin keputusannya memang tepat untuk pergi sekarang tanpa menunggu anak yang dikandung lahir.
"Pak, tolong antar saya ke rumah saya yang dulu."
"Kita tidak kembali ke rumah, Non?"
"Ada barang yang ingin saya ambil. Jadi kita mampir dulu ke sana."
"Oh begitu. Baik, Nona," jawab Jupri--sang supir yang ditugaskan mengantar Naya kemanapun. Pria berkisar umur 40 tahunan itu membelokan setir menuju jalanan rumah Naya yang dulu.
Sepanjang jalan yang dilalui, dia menyadarkan bahu dan kepalanya pada kaca mobil. Lagi-lagi alam seolah bersahabat dengan kesedihan yang di rasa, hingga menurunkan gerimis tiada henti. Awan mendung, abu kehitaman menambah suasana mendalam bagi Naya. Dia pergi tak membawa apapun selain ponsel lawas miliknya, bukan pemberian Akio waktu itu.
Baru semalam dia merasakan kebahagiaan bersama Akio, namun sebentar dia harus ikhlas saat semua akan segera menjadi kenangan.
Tring ... Bunyi pesan masuk ke nomornya, setelah di lihat, Akio mengirim pesan.
'Waktunya makan siang, jangan lupa makan dengan benar. Maaf aku nggak bisa telpon, sedang rapat dengan dewan direksi. Tunggu aku pulang, ya, sayang ....'
Naya tak kuasa membaca pesan dari Akio, betapa kepergiannya sangat menyakiti pria itu. Namun, semua sudah terlambat. Hatinya sudah tak lagi memikirkan apapun. Dia hanya ingin menepati janji dan pergi dari semua orang.
Naya merubah menelungkupkan wajah, dadanya sebak hanya sekedar mengambil napas. Mungkin suara tangisnya sudah di dengar oleh pak Jupri. Tapi bagaimana lagi, dia tidak bisa menahan.
Perutnya mulai mengencang, Naya mendesis pelan dengan berdoa agar dia dan bayinya kuat.
"Non, kita sudah sampai."
__ADS_1
"Oh, iya, Pak." Naya membersihkan sisa air matanya sebelum turun dari mobil. "Bapak tunggu di sini sebentar," ujarnya.
"Baik."
Naya masuk ke dalam rumah, dia yang tak kuasa dengan diri sendiri kembali luruh di belakang pintu. Menangis, dia ingin menangisi keadaanya untuk terakhir kali, sebelum dia pergi jauh.
Tring ... Ponselnya kembali menampilkan pesan masuk, namun kali ini bukan dari Akio. Melainkan dari Dina yang menanyakan keberadanya sekarang.
'Aku sebentar lagi keluar,' balasnya dengan cepat. Tak ingin membuat Dina menunggu terlalu lama, dia bergegas mengambil apa yang di butuhkan dan pergi melalui pintu belakang.
Di ujung gang, melihat Dina melambaikan tangan padanya, dan dia mengambil langkah cepat menuju ke sana.
"Din ...." Naya menubruk tubuh Dina dan meluapkan tangisannya kembali. "Apa aku bisa, Din?"
Dina mengusap bahu Naya untuk menenangkan. Dia tahu, seberat apa yang di alami sahabatnya sekarang. "Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Nay. Hanya kamu sendiri yang tahu, sejauh mana kesanggupan hatimu. Kalau kamu tidak sanggup, kembali saja. Semua belum terlambat. Suatu saat Zee akan memaafkanmu." Sebagai seorang sahabat, Dina hanya bisa mengatakan nasehat. Dia tak bisa memaksa Naya bertahan kalau memang Naya tidak sanggup. Hanya saja dia tidak ingin sahabatnya mengambil keputusan yang salah dan akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
"Doa kan aku kuat, Din."
Naya mengangguk beberapa kali. "Aku janji, akan melahirkannya dengan selamat tanpa kurang apapun. Suatu saat juga, ketika dia lahir, tolong jaga dia dari jarak jauh. Aku tidak tahu nasibku ke depannya seperti apa. Dan, terima kasih banyak untuk bantuanmu. Kamu sahabat terbaikku," ucap Naya dengan kembali memeluk tubuh Dina.
Bukan hanya perpisahan dengan Akio yang membuatnya berat, namun berpisah dengan satu-satunya sahabat yang di miliki juga membuat Naya banjir air mata.
"Terima kasih, Din. Terima kasih," ucapnya berkali-kali. "Jangan lupakan janjimu padaku. Jangan katakan pada siapapun ke mana aku pergi."
Dina menjawab dengan helaan napas panjang. Setelah puas berpelukan, mereka langsung menuju tempat yang paling ingin dikunjungi Naya sebelum perempuan itu pergi yaitu makam ibunya.
*
__ADS_1
Hampir dua jam supir yang mengantar Naya tadi ketiduran di mobil. Saat terbangun pria paruh baya itu terkejut setengah mati, ternyata langit sudah mulai menggelap.
Dia menoleh ke kursi penumpang, namun kosong, tak ada siapapun. Berarti Naya belum kembali.
Ada yang janggal. Kenapa majikannya tak kunjung kembali. Naya hanya berpesan untuk menunggunya sebentar, tapi sampai dua jam pintu rumah Naya masih tertutup rapat.
Karena takut terjadi sesuatu, Jupri memutuskan untuk mengetuk pintu rumah Naya.
Tok ... tok ...
"Non ...!" Dia mengetuk pintu dan memanggil beberapa kali, namun tak ada sahutan. Beralih mengintip lewat celah jendela, dia terkejut tak mendapati siapapun. Dia mulai khawatir.
Tepat saat itu Akio menelpon, dia ragu bahkan takut untuk menjawab. Apa yang akan di katakan pada tuan mudanya.
"Kata pelayan, Anda mengantar Naya pergi. Di mana dia? Kenapa tidak bisa dihubungi?" Akio langsung menanyakan keberadaan Naya.
"Sa-saya tadi mengantar Nona pulang ke rumahnya, tapi dari tadi Nona tidak keluar-keluar. Pintunya juga di kunci dari dalam, Tuan," terang Jupri.
Tak mengatakan apapun lagi, Akio langsung mematikan sambungan telepon. Dia yang baru saja pulang dari kantor, kelimpungan mencari Naya yang tidak ada di rumah.
Keterangan dari seorang pelayan, Naya sudah pergi dari sekitar pukul sepuluh tadi siang. Namun sampai jam tiga sore, Naya belum kembali.
Ketika terakhir kali dia mengirim Naya pesan, setelah itu nomornya tidak bisa dihubungi lagi. Beberapa kali menelpon, namun selalu di luar jangkauan.
Akio segera melesat pergi untuk menyusul Naya. Mendadak perasaanya cemas dan khawatir. Saat ini yang terpikirkan justru keadaan Naya, apa mungkin Naya lemas dan pingsan di dalam rumahnya. Atau mungkin saja Naya hanya ketiduran di rumah lamanya. Dan daya ponselnya habis, hingga nomor itu tak bisa di hubungi. Sama sekali tidak terpikirkan perempuan itu telah pergi jauh.
Tidak ada apapun yang terjadi, bahkan baru semalam mereka mengungkap perasaan masing-masing. Bahkan awal yang baru, baru saja akan dimulai. Akio jelas tak terpikirkan kemungkinan buruk itu.
__ADS_1
Dengan menyetir, dia membagi fokusnya untuk menghubungi nomor Naya lagi. Berharap tiba-tiba nomor itu aktif dan dia bisa mendengar suara istrinya baik-baik saja.
"Kemana kamu, Nay?" Akio bertanya sendiri.