
Bude Parmi yang tadi izin masuk untuk membuatkan minuman kini sudah kembali bergabung, gelas minuman berisi teh sudah terhidang dihadapan masing-masing. Bahkan segala cemilan yang ada didapur dikeluarkan dan disuguhkan.
Kei sangat menikmati suasana berbincang-bincang bersama, Kei juga meminta izin mengabsen semua ruangan, ia ingin mengenang kembali masa-masa keindahan dirumah itu.
Tuan Ken tidak tertarik dengan kegiatan yang dilakukan istrinya, memilih membahas pekerjaan bersama sekretaris Lee.
Setelah menidurkan anaknya, Susi menemani Kei untuk mengelilingi rumah. Saat ini Kei dan Susi sedang berada didepan teras rumah, memandang kearah jalanan yang masih asri dengan suasana desa tidak seperti di Ibukota yang sudah banyak tercemar oleh polisi udara.
Ting...Ting...
"Bakso...!" teriak seorang penjual bakso yang lewat depan rumah, seorang laki-laki yang menjajakan dagangan bakso dengan mendorong gerobaknya.
Kei menelan air liur, pasti bakso kuah itu sangat nikmat jika disantap sore hari dengan angin sepoi-sepoi. "Mbak, aku ingin kesana sebentar." kata Kei, dia lupa jika didalam ada tuan Ken. Gerobak bakso itu seperti menghipnotis, jika tuan Ken tau Kei membeli makanan dipinggir jalan sudah pasti akan mencegahnya. Sesuap makanan yang masuk kedalam mulut istrinya, tuan Ken akan mempertimbangkan nilai gizi yang terkandung. Selama hamil Kei tidak diizinkan menikmati makanan berbentuk bulat itu.
"Abang... tunggu, saya mau beli bakso." sedikit berteriak agar Abang penjual bakso itu mau berhenti. Sebenarnya tanpa Kei panggil Abang penjual bakso itu sudah akan berhenti.
"Bang, baksonya 1porsi aja. Jangan..." perkataan Kei terhenti. Kedua matanya melebar karna terkejut dengan Abang penjual bakso itu.
"Ma...s Izham?" panggilnya tanpa sadar. Keduanya mematung, mulut yang tertutup rapat tanpa adanya suara yang terdengar. Jantung yang berdebar lebih cepat tapi bukan karna masih adanya rasa, melainkan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Bertemu dengan orang masa lalu yang sudah mengukir luka yang susah disembuhkan.
"Ke...i?" beberapa detik membisu, Izham memecah kesunyian. Keduanya masih terhenyak dengan pemikiran masing-masing. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan.
"Mas, kamu pulang ke desa?" tanya Kei. Izham hanya mampu mengangguk, saat ini dirinya sangat dan teramat sangat malu berdiri didepan perempuan yang dulu pernah dicampakkannya dengan kejam. Terlebih keadaanya saat ini sangat miris.
"Lalu, mbak Mira apa masih di Jakarta?" Kei menanyakan pertanyaan yang ada dikepalanya. Dia tidak tau keadaan dua orang yang dulu telah menyakitinya, dan kini ia dipertemukan dengan mantan suaminya itu dengan keadaan yang tidak disengaja.
__ADS_1
"Izham, kamu sudah pulang?" ibu Esih tiba-tiba datang dari arah belakang mereka, sebelah tangannya membawa kantong kresek berwarna putih berisi belanjaan.
"Iya, Bu." jawab Izham. Ibu Esih mendekat dan melihat kearah perempuan yang memakai baju putih yang tak lain adalah Kei. Wanita yang kini terlihat lebih kurus dan tua itu tidak mengenali mantan menantunya yang dulu.
"Kei, apa kamu jadi pesen bakso?" tanya Izham. Sedari tadi Kei terbengong, lebih tepatnya mengatur perasaannya.
"Kei? siapa yang kamu panggil, Kei?" tanya Ibu Esih. Pandanganya menelisik wanita didepannya yang jauh terlihat cantik, bahkan berpenampilan seperti orang kota. Bukan seperti Kei yang dulu tinggal didesa dengan penampilan yang sederhana, kini wanita yang disisihkan dulu sudah jauh berbeda.
"Dia adalah Kei, Bu. Keihana Kazumi." jawab Izham. Sengaja menyebut nama lengkap Kei agar ibunya itu ingat dengan mantan istrinya dulu.
"Apa kamu bilang? wanita ini Kei mantan istrimu dulu?" tentu ibu Esih sangat terkejut dan shok. Tidak percaya jika perempuan itu mantan menantunya, menantu yang tidak pernah ia perlakukan baik, yang selalu ia hina dengan kata-kata menyakitkan.
"Iya Bu." jawab Izham.
"Kenapa didesa ini banyak yang berbuat jahat kepadamu, Honey?" suara tuan Ken terdengar dingin, tiba-tiba saja tuan Ken sudah berjalan kearah mereka.
"Sayang..." ucap Kei lirih. Lalu menoleh kearah suaminya. Ketika sudah dekat, tuan Ken memeluk tubuh Kei dari samping dengan satu tangan yang dimasukan kedalam saku celana.
Ibu Esih masih terus memperhatikan dua pasangan didepannya itu, kini hatinya mulai berdebar karna menerka bahwa perempuan itu memang benar Kei.
"Apa aku harus memenjarakan semua warga desa?" berbicara santai. Sekretaris Lee menyusul tuan mudanya, setia berdiri digarda belakang.
"Sombong sekali dia mau memenjarakan orang-orang desa. Dia pikir dirinya anak sultan!" Ibu Esih mencebikan mulutnya, kemiskinan yang dihadapi saat ini ternyata tidak bisa merubah sikapnya.
"Aku benar-benar malas berbicara dengan orang desa." tuan Ken membuang pandangan kesamping. Keadaan saat ini tidak jauh beda dengan sikap penjilat tadi.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kau kesini? tunggu saja dirumah bude Parmi." pinta Kei.
"Hih, sekarang ibu baru percaya jika wanita ini benar mantan istrimu yang mandul. Ibu sangat hapal dengan suaranya. Ternyata sudah bisa berjalan normal ya? tapi tetap saja dia wanita cacat yang tidak bisa memiliki keturunan."
"Hei jaga mulut busuk, anda! saya bisa membunuh anda sekarang juga!!" tuan Ken menyentak dengan suaranya yang keras, bagai petir yang terdengar mengerikan. Tatapan tajam yang seolah-olah bisa mencabik-cabik musuhnya.
Ibu Esih sangat terkejut sampai menjatuhkan kantong belanjaan.
"Tidak tuan Ken, saya mohon maafkan Ibu saya." atas nama ibunya, Izham meminta maaf. Sangat tau dengan sikap tuan Ken yang kejam, tidak pandang bulu semua akan mengalami kesengsaraan jika berani mengusik milik tuan muda itu.
"Izham..." ibu Esih memanggil anaknya, tidak mau jika anaknya terlihat rendah dihadapan orang lain, apalagi dihadapan Kei. Perempuan yang sampai kini masih ia jelek-jelekan, masih ia fitnah.
Salah Izham yang tidak menceritakan tentang kehidupan Kei mendapatkan suami lebih segala-galanya. Izham terlalu menjadi pengecut, ia pun ikut menutupi kebenaran tentang kehidupan Kei yang sudah sempurna.
"Bu, minta maaflah kepada Kei dan tuan Ken." pinta Izham kepada Ibunya, rasa takut sudah menghantui benaknya. Kemarahan tuan Ken sangat menakutkan, dia takut nasib ibunya akan sama dengan Mira.
"Minta maaf? Cuih, ibu nggak sudi minta maaf sama wanita cacat itu!" ibu Esih menunjuk dengan jadi telunjuk tepat kearah wajah Kei.
Tuan Ken mendesah berat, gigi yang saling beradu. Tangannya mendorong tubuh Kei mundur kebelakang.
Brak.... Tuan Ken menendang gerobak dengan kuat sampai pinggiran gerobak itu rusak.
"Aaa..." ibu Esih berteriak kaget. Izham ikut tersentak kaget.
"Aaa'... sayang, aku mohon sudah, hentikan." Kei yang akan menarik tangan tuan Ken tapi dihalangi oleh sekretaris Lee. Keadaan semakin tegang, dengan kemarahan tuan Ken yang sudah sampai pada puncaknya.
__ADS_1