
Didalam taksi mendadak menjadi bisu, hanya airmata yang mewakili hatinya. Tidak tau arah tujuan itulah yang dialami Kei, tidak tau akan kemana. Beberapa menit teringat, mengambil ponsel dan mengirim massage kepada Dewi.
Otaknya masih berpikir jernih, segera mematikan ponsel saat pesannya sudah terkirim. Jika ponsel masih aktif, dengan mudah Ken akan mengetahui keberadaannya. Kei ingin menyendiri, menenangkan pikiran sejenak. Mempertimbangkan ucapan mami Lyra agar Ken menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan. Sebelum Ken menjatuhkan talak seperti Izham, Kei ingin lebih dulu mengambil keputusan.
"Mbak, mau diantar kemana?" supir taksi bertanya kemana tujuannya.
"Pak, berhenti diTaman Umum dekat Perusahaan Taisei Company."
"Baik,"
Kei sengaja ingin pergi ke Taman Umum yang berada didekat Kantor Ken, dia ingin menemui Dewi satu-satunya orang yang dekat dengannya saat ini. Kebetulan Dewi sedang lembur dan pulang jam 7malam.
Sampai ditempat tujuan, Kei membayar argo taksi dengan uang cas yang masih dia simpan. Beruntung beberapa hari yang lalu dia mencairkan uang, jika tidak Kei akan kebingungan saat tidak memiliki uang.
Turun dari taksi berjalan menuju ke Taman Umum, duduk disalah satu kursi. Melihat beberapa anak kecil bermain dengan didampingi para orang tua.
Hari semakin sore, awan dilangit sudah berubah menjadi jingga. Termenung, masih diposisi yang sama. Orang-orang yang tadi ramai kini mulai sepi, lampu taman sudah menyala tetapi terlalu malas untuk beranjak Kei akan menunggu Dewi menghampirinya.
'Sakit kedua kalinya dan sebentar lagipun akan dicampakkan! ya Tuhan, kesalahan apa yang ku perbuat kenapa kehidupanku jauh dari kebahagiaan. Kenapa-kenapa Kau memberiku jalan hidup seperti ini, kenapa Kau jadikan aku wanita yang tidak sempurna, Kenapa?' Kei menunduk, kembali menumpahkan tangis.
"Harusnya aku tidak menikah dengan tuan Ken, ya... harusnya aku tidak menikah dengannya, apalagi mencintainya ini kesalahan terbesar. Lagi dan lagi aku harus mengalami ini, terluka oleh perasaanku sendiri." Kei berbicara sendiri dan menangis sendiri. Pikirannya begitu kalut, berdiri menatap langit gelap.
"Tuhan... aku, Keihana Kazumi jika pernikahan yang kedua ini gagal, dibawah langit ciptaanmu aku berjanji tidak akan pernah menikah dan tidak akan pernah mencintai seorang lelaki lagi, akan ku habiskan sisa hidupku hanya sendiri. Hiks..." menjatuhkan lutut diatas tanah, seakan tubuhnya lemas dan tidak bertenaga.
"Ya Tuhan, Kei..." Dewi yang baru datang terkejut melihat keadaan Kei yang berantakan.
"Mbak..." Kei beranjak memeluk Dewi menumpahkan tangisnya lagi. Dewi mengusap-usap punggung Kei.
"Ada apa? kenapa keadaanmu seperti ini?" Dewi khawatir melihat keadaan Kei. Kei membersihkan sisa airmatanya, terlalu lelah sedari tadi menangis. Dewi mengajak Kei untuk duduk dikursi.
"Kenapa?" Dewi mengulangi pertanyaannya, tangan sebelah membenarkan rambut Kei yang berantakan.
__ADS_1
"Aku pergi dari rumah tuan Ken, mbak."
"Memang ada masalah apa sampai kamu pergi dari rumah tuan Ken?" Kei diam masih enggan untuk menjawab. Dewi mengelus punggung tangan Kei.
"Jika belum siap untuk bercerita tidak apa-apa, tenangkan pikiranmu dulu, yakin semua akan baik-baik saja." Kei mengangguk.
"Kalau tidak mau cerita sudah dong jangan nangis lagi, jelek tau." Kei mencoba tersenyum, meski hatinya masih menangis.
"Aku laper Kei, kamu laper nggak?"
"Iya, perutku kosong tadi siang cuma makan sedikit."
"Cari makanan yuk.."
"Kemana mbak? uangku menipis nih..."
"Yaelah, seorang istri pengusaha kaya tidak punya uang, yang benar saja Kei."
"Aku 'kan pergi dari rumah mbak jadi tidak bawa apa-apa cuma bawa uang cas seadanya."
_______________________
Ibu dan anak itu masih belum menyadari bahwa orang yang sedari tadi mereka bicarakan sudah pergi meninggalkan rumah.
"Mami mau mandi dulu sudah sore." mami Lyra menyudahi obrolan bersama Ken, ia berjalan masuk kedalam rumah. Ken ikut menyusul masuk kedalam rumah dan langsung menuju kekamarnya.
Ketika membuka pintu melihat kesana kemari sedikit heran kenapa kamarnya terlihat kosong.
"Dimana Kei?" bergumam lirih, berjalan menuju kekamar mandi keadaanya juga kosong, dibalkon kamar tidak ada. Membuka ruang kerja siapa tau saja ada disana tetapi tetap saja kosong.
"Kei..." memanggil seperti biasanya. Diatas meja ada kartu Black Card dan kartu kredit milik Kei yang tergelak begitu saja. Ken menautkan kedua alisnya merasa heran, masih belum menyadari.
__ADS_1
Keluar kamar untuk mencari lagi.
"Kei...Kei...Kei...!!!" sampai tiga kali memanggil tetapi Kei tidak muncul, pelayan yang mendengar suara tuan Ken yang berteriak itu langsung menghampiri.
"Ada apa tuan muda?" bertanya tetapi tidak berani menatap, tuan Ken sudah terlihat menyeramkan.
"Dimana Kei?" bertanya dengan nada dingin.
"Ta-tadi nona Kei masuk kekamar anda tuan muda."
"Bodoh! kalau dia ada dikamar aku tidak akan mencarinya!" setengah berteriak.
"Tadi nona Kei buru-buru masuk kekamar dan sepertinya nona Kei tadi menangis, tuan muda."
"Apa...! Kei, menangis?" Ken bertanya memastikan. Pelayan itu hanya mengangguk, sudah gemetar takut.
"Cepat cari diseluruh ruangan!"
"Baik, tuan muda." segera pergi dari hadapan tuan Ken. Ken berjalan keluar rumah.
"Apa Kei terlihat keluar?" bertanya kepada 2pengawal yang ada diluar.
"Tidak tuan."
"Iya tuan." keduanya menjawab berbeda, Ken memandang berganti.
"Jawab yang benar!"
"Maaf tuan, saya tadi masih dikamar mandi jadi tidak tau jika nona Kei pergi. Jojo yang tau."
"Tadi nona Kei izin pergi ingin membeli keperluan wanita ditoko ujung jalan tuan, saat saya menyiapkan mobil nona Kei sudah tidak ada. Saya pikir nona tidak jadi pergi dan kembali masuk kedalam, maka dari itu kita diam saja." mendengar penjelasan dari 2pengawal yang berjaga membuat amarahnya meningkat tinggi, kedua tangan mengepal kuat tanpa aba-aba Ken memukul 2pengawalnya.
__ADS_1
"Dasar bodoh! tidak berguna! kenapa tidak memberitahuku dari tadi! Aakh'..." Ken kembali melayangkan pukulan lagi, kedua pengawal tidak ada yang melawan meski keduanya babak belur. Ken meninggalkan keduanya kembali masuk kedalam. Berlari menaiki anak tangga, menuju keruang kerja segera melihat rekaman CCTV yang terpasang disetiap sudut rumah. Melihat satu persatu rekaman menemukan video saat Kei berdiri dibalik pintu.
Deg... jantungnya berdebar, sudah berpikir negatif. Pasti Kei pergi dari rumah karna menguping pembicaraannya bersama mami Lyra. Rekaman berikutnya terlihat Kei menuruni tangga dengan membawa tas kecil, Ken terus memperhatikan sampai Kei berhasil keluar dari gerbang. Terlihat beberapa kali Kei menoleh kebelakang sebelum berlari kejalanan. Dari rekaman terakhir Ken sudah tidak menemukan rekaman lagi.