
Bel rumah berbunyi, Kei yang sudah bersiap pergi sekalian membuka pintu. Ingin melihat tamu siapa yang datang ke rumahnya.
Ceklek ....
"Naya?" Sangat terkejut mengetahui menantunya datang ke rumah. Bukan karena tidak senang, dia hanya kaget karena tidak biasanya Naya datang sendirian.
Kei memeluk tubuh Naya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Kamu sehat kan, sayang?" tanyanya.
"Naya, sehat, Mom." Naya duduk dan berusaha bersikap biasa saja. Padahal dalam hati menyembunyikan kekecewaan ketika datang ke rumah itu. "Maaf kalau Naya datang tiba-tiba."
"Nggak pa-pa, sayang. Mom, senang kamu mau datang. Tapi, kenapa tidak menelpon dulu. Hari ini Mom ada janji dengan Tante Dewi," ucap Kei tak enak hati. Dia memang sudah ada janji dengan Dewi untuk menemaninya berbelanja sesuatu. Dan janji itu pun sudah direncanakan dari jauh-jauh hari, tidak enak seandainya harus membatalkan begitu saja.
"Tidak pa-pa, kalau begitu Mom pergi saja. Naya pikir ke sini ingin mengunjungi mommy atau oma. Mencari teman untuk bercerita. Tapi, Naya bisa pulang sekarang," ucap Naya berbohong, padahal dia datang memang ingin berbicara empat mata dengan seseorang. Bahkan seperti kebetulan mendapat kesempatan karena ibu mertuanya akan pergi.
"Oh iya, ada oma. Kamu bisa minta ditemani oma dulu. Mom nggak lama, kok, begitu Dewi selesai berbelanja, Mom akan langsung pulang."
"Memang oma di mana?" tanya Naya sambil mengedar seolah mencari keberadaan perempuan tertua di rumah itu.
"Oma ada di kamarnya. Entah, sejak satu minggu ini oma memang jarang keluar. Kamu langsung ke kamar oma aja, ya, oma pasti senang kamu datang," ujar Kei. Dia menteng tasnya kembali dan bersiap untuk pergi.
"Maaf, ya, Mom harus pergi sekarang." Kei mendekati Naya dan memeluknya sebentar. Dia juga menyempatkan diri untuk mengelus perut Naya. "Baik-baik, ya, cucu Mom."
"Hati-hati, Mom."
__ADS_1
"Iya sayang. Terima kasih," ucap Kei dan berlalu keluar rumah.
Melihati kepergian ibu mertuanya, Naya kembali duduk di tempat yang tadi. Dadanya bergemuruh, dia memejam sesaat untuk menyiapkan hati. Begitu hatinya telah ikhlas dan rela, dia berjalan menuju kamar oma.
Naya langsung membuka pintu, mengedar ke seluruh ruangan dan mendapati perempuan sepuh sedang duduk di dekat jendela. Tepat di depannya ada balkon luas yang terhubung langsung dengan kamar itu.
"Apa kabar, Oma?"
Mendengar suara itu oma Lyra seketika menoleh. Kentara sekali raut wajahnya sedang terkejut.
Baru berhadapan dan belum mengatakan apapun, namun air mata Naya mulai mengembun di pelupuk mata. Sungguh, ketika dia menginjakkan kaki sebagai menantu di rumah itu, dia sangat menghormati oma meski perempuan tertua dari keluarga suaminya tidak pernah menyukainya.
"Na-Naya ...?"
"Oma masih ingat namaku?" Naya tersenyum getir. Perempuan itu berjongkok dan mengambil duduk di bawah kaki oma Lyra. Persis seperti seorang yang sedang melakukan sungkem.
"Boleh aku bicara dengan Oma?" Naya menghela napas berat. "Aku nggak tahu apa yang Oma bicarakan dengan almarhum ibuku hingga Beliau berpikir keras dan akhirnya jatuh sakit."
Deg! Oma Lyra membatu di tempat. Tatapannya menunduk dalam. Dari mana Naya mengetahui itu.
"Apa segitu besar kebencian Oma terhadapku? Kenapa Oma tidak menghina dan mencaci ku? kenapa harus berbicara dengan ibu?"
Dari sini air mata mulai merebak membanjiri pipi Naya. Sangat menyayangkan tindakan oma yang justru menemui ibunya dan berbicara yang mungkin saja menyakiti, hingga ibu Naya terbawa beban pikiran dan sampai membuatnya jatuh sakit.
__ADS_1
"Di dunia ini hanya Beliau yang aku punya. Andai Naya tahu kalau Oma sangat ingin aku pergi, aku pasti akan pergi saat itu juga. Aku bukan perempuan egois yang menginginkan tahta atau jabatan, aku hanya ingin menunggu sampai dia lahir agar status anak ini jelas. Setelahnya, aku akan menyerahkan dia pada keluarga ini dan aku akan pergi dari kehidupan kalian."
Oma bergeming, membiarkan Naya berbicara panjang. Namun, siapapun yang saat ini berhadapan dengan oma, pasti tahu bahwa perempuan itu tengah menyesal.
"Oma selalu menganggap aku yang bersalah, aku yang merebut cucu oma dari Zee, bukan? Menganggap ku wanita tak punya hati."
"Mungkin selama ini Oma tidak pernah tahu seberapa berat aku menanggung rasa bersalah. Aku memang dinikahi cucu oma, tapi nggak sekalipun aku memanfaatkan keadaan. Sebisa mungkin menempatkan diri hanya seperti pembantu, bukan berperan sebagai seorang istri. Karena aku punya niat tulus untuk mengembalikan Akio pada Zee. Hanya sampai menunggu anak ini lahir, aku berjanji akan mencari Zee dan mengembalikan keadaan seperti dulu."
"Naya memahami kebencian Oma terhadapku, posisiku memang tersudutkan sebagai perempuan yang tiba-tiba hadir karena sebuah kesalahan. Tapi hukuman ini terlalu berat, Oma. Aku harus kehilangan satu-satunya tumpuan hidupku." Naya terisak pilu di hadapan oma Lyra. Dadanya begitu sesak tak kuasa menahan kesedihan.
"Oma sangat menginginkan kepergianku, bukan? Naya akan segera pergi, Oma. Tapi aku mohon untuk satu permintaan, ketika aku melahirkan dan menyerahkan anakku pada keluarga ini, aku mohon jangan benci kehadirannya. Cukup aku saja yang Oma benci, jangan sampai dia juga harus menanggung kesalahan ku."
"Nay ... O-ma minta maaf. Oma tidak tahu kalau semua akan seperti ini. Oma tidak ada maksud sampai membuat ibumu me-meninggal. Ampuni perempuan tua ini. Aku memang tidak suka kamu tiba-tiba menikah dengan Akio, aku bertemu ibumu secara tidak sengaja dan sedikit berbicara kasar padanya." Oma Lyra akhirnya membuka kejujuran. Mata tuanya menyorotkan penuh sesal. Dia pun tak menyangka, di usia yang sudah sangat renta justru berbuat dosa besar. Mungkin Tuhan pun tidak akan mengampuni dosanya.
Sejak ibu Lestari di kabarkan koma, oma Lyra mulai dihinggapi rasa bersalah. Kejadian itu tidak berselang lama dari pertemuannya dengan ibu Naya. Dia melontarkan hinaan terhadap ibu Naya yang tidak becus mendidik anak, dan sempat juga menyuruhnya untuk membujuk Naya agar berpisah dengan Akio.
"Kesalahan yang diperbuat seorang anak bukanlah tanggung jawab orang tuanya. Setiap orang tua tidak mungkin mengajarkan hal buruk. Bahkan mereka turut kecewa dan marah ketika gagal mengajarkan kebaikan. Ini semua mutlak kesalahanku bersama Akio. Harusnya Oma tidak melibatkan ibuku."
"Laporkan tindakanku ke pihak hukum, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku," ucap Oma bersungguh-sungguh.
Naya tersenyum teduh. "Untuk apa, Oma? Semua sudah terjadi. Andai aku berpikir, Oma adalah orang penyebab ibuku meninggal, seumur kehidupanku, aku pasti membenci Oma. Tapi, semua terjadi, walau Oma mempertanggung jawabkan perbuatan Oma, ibu tidak mungkin kembali."
"Saat ini aku hanya berusaha iklhas. Berpikir bahwa semua yang terjadi adalah garis Tuhan. Mungkin sudah takdir ibu pergi dengan seperti ini."
__ADS_1
"Benci, Oma. Oma sangat pantas kamu benci. Kesalahan Oma tidak pantas mendapat maaf darimu."
Naya menggeleng. "Aku sudah berlapang dada memaafkan Oma."