
Sudah 2minggu Kei libur tidak masuk kantor, hari ini Kei sudah kembali masuk. Kemeja peach dipadu dengan blazer hitam, rok hitam diatas lutut menjadi pilihan hari ini semakin pas dengan baju yang ketat membuat lekuk tubuh semakin tercetak.
Kei berdiri didepan meja rias meneliti penampilannya sudah oke atau masih ada yang kurang, dirasa sudah cukup Kei tersenyum tipis. Meski dihati merasa gugup setidaknya hari ini hari pertama dia melihat dunia luar dengan keadaannya yang normal, berjalan dengan kaki normal tanpa alat bantu tongkat. Kei memprediksi ketika sampai dikantor akan terjadi kehebohan tetapi dia akan meng-atisipasi dengan sikap masa bodoh, cuek seperti yang diajarkan tuan Ken sebelumnya.
Ken baru selesai mandi dan melihat istrinya sedang tersenyum didepan cermin menghampiri dan mendekap dari belakang.
"Aahk'... tuan, kau menganggetkanku!" jantung Kei berdetak kencang, nafasnya memburu kala Ken mengendus leher dan telinganya.
"Benarkah, kau cantik sekali hari ini." Ken memejamkan mata menikmati aroma parfum yang yang digunakan Kei, semakin menghirup dalam.
"Apa hari kemarin aku tidak cantik?" Kei sudah tidak terlalu canggung dengan sikap Ken yang menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya, Kei akan menikmati kebersamaan mereka sudah tidak memikirkan hal buruk. Untuk kedepannya Kei akan berpasrah dengan takdir Tuhan, membiarkan takdir itu menjadi petunjuk. Tidak bisa memungkiri pesona tuan muda arogan, meski arogan namun Ken punya cara sendiri menunjukkan kasih sayangnya meski kadang terlewat batas atau terlalu berlebihan. Tidak ada yang bisa Kei lakukan selain menurut dengan perintah dan permintaan suami anehnya.
"Kemarin cantik, tapi hari lebih cantik. Ah... aku takut." Ken mendesah berat dengan ekspresi kesal.
"Takut?"
"Takut kau jadi pusat perhatian para lelaki."
"Tidak mungkin jadi pusat perhatian, dari sebelumnya mereka tidak pernah memperhatikan ku." Kei mengelus pipi Ken yang masih berada diatas bahunya.
"Sekarang kau sudah berbeda! aku ingin menyembunyikan mu saja." terlihat merajuk.
"Jangan, aku ingin melihat dunia luar yang bebas, tidak mau terkurung dalam sangkar emas."
"Tidak boleh ada lelaki yang memperhatikanmu, hanya aku yang berwewenang memperhatikan mu." Kei memutar bola mata, tuan Ken menunjukan sikap posesif.
"Tenang saja semua akan aman, tidak ada yang lebih spesial darimu."
"Aku akan meng-awasimu, jangan sampai ada lelaki yang mendekatimu! berbicara denganmu! apalagi kontak fisik denganmu! memandangmu dengan pandangan kagum! semua akan ada pasalnya!"
"Hahaa... kau itu berlebihan tuan. Sebelum kau membuat pasal, aku pasti akan takut lebih dulu." Kei cekikikan, geli mendengar ultimatum tuan Ken.
"Huh, akhir-akhir ini aku menjadi banyak bicara gara-gara kau!"
"Aku sudah katakan, akan mengajarimu banyak kata."
"Aku butuh canduku untuk menghilangkan lelah, setelah banyak berbicara."
"Candu?"
"Bibir manismu adalah canduku." Ken mengedipkan satu mata. Kei mencubit tangan Ken yang melingkar dibagian perutnya.
__ADS_1
"Dasar gombal." Kei sudah bersemu malu.
"Sayangnya candumu sudah rapi aku tidak akan mengizinkan kau merusaknya."
"Aku tidak bersemangat."
"Em... baiklah."
Cup...
Kei mencium bibir Ken sekilas.
"Sudah.." ucapnya.
"Tidak berasa."
"Sudahlah... nanti kita terlambat."
"Sekali saja." tidak mengindahkan larangan, Ken sudah menyerang candunya. Walau berkali-kali menikmati Ken tidak akan puas, ingin menikmatinya terus menerus. Sudah merasa puas Ken melepas ciumannya, Ken mengusap bibirnya.
"Lihat, lipstiknya berantakan lagi." Kei cemberut.
"Haha..." Ken tertawa puas dan pergi keruang ganti. Kei membenarkan lagi lipstik yang berantakan. Setelah selesai, ia lebih dulu keluar kamar menuruni tangga menuju kemeja makan untuk melakukan sarapan bersama.
"Pagi sayang, kakinya sudah benar pulih nak?"
"Sudah mi," senyum merekah menggambarkan perasaanya yang sedang bahagia.
"Mami bersyukur dan sangat senang melihat mu bisa berjalan normal, kamu terlihat sangat cantik dan menawan. Mami yakin Ken pasti sudah jatuh hati padamu, melihat penampilanmu yang sekarang." Kei tersenyum.
'Aku masih belum tau mi, tuan Ken jatuh hati denganku atau tidak. Dia tidak pernah mengungkapkan isi hatinya, membuatku bingung. Dari perhatian dan kasih sayang yang ditujukan memang tuan Ken sangat baik, tetapi semua tidak bisa menjadi patokan jika orang baik dan perduli dengan kita itu tandanya cinta. Seorang wanita butuh kepastian mi, tetapi Kei akan menunggu saat nanti tuan Ken menyatakan perasaannya.'
Sekretaris Lee baru datang dan memberi hormat, setelah itu berlalu kekamar tuan Ken. Tepat sampai diatas tuan Ken sudah keluar dari kamar dan akan menuruni tangga.
"Selamat pagi tuan muda."
"Pagi, kau terlambat 5menit Lee." Ken memberikan tas kerja kepada asistennya itu.
"Iya tuan, saya sedikit terlambat."
"Apa mimpimu seindah itu sampai membuatmu terlambat!"
__ADS_1
"Sangat indah, tuan muda."
"Kurasa mimpimu belum indah sebelum kau memiliki candu." Ken menuruni tangga.
'Candu lagi, candu lagi. Apa tidak ada kosa kata lain, menyebalkan! Setelah sore kosa kata itu akan berubah menjadi pasal. Hargg... tuan muda aneh.'
"Jangan mengumpat dalam hati Lee, aku bisa tersedak makanan nanti." Ken memperingati.
'Eh, ajaib. Kenapa tuan muda bisa tepat begitu? apa dia punya ilmu kebatinan? gawat...'
"Aku tau yang kau pikirkan, Lee." Ken hanya berucap asal. Padahal sekretaris Lee sudah takut jika tuan mudanya itu mempunyai ilmu kebatinan, tamatlah riwayatnya.
"Tidak ada keberanian untuk mengumpat tuan muda." Lee berbohong demi karir.
"Pagi Ken." Tante Lyra tersenyum menyapa Ken yang baru saja sampai dan duduk ditempat biasa. Sekretaris Lee ikut duduk dikursi paling ujung.
"Pagi mi." Kei mengambilkan makanan untuk Ken.
"Mami tidak ada jadwal hari ini?" Ken bertanya, biasanya nyonya sosialita itu selalu sibuk dengan kegiatan bersama teman-teman sosialita juga.
"Sepertinya tidak ada, digrup WhatsApp masih sepi belum ada notif."
Kei melirik bergantian, begitulah kehidupan orang-orang kalangan atas. Begitu mudah menghamburkan uang dan waktu untuk bersenang-senang.
Ketika mulai menyantap makanan semua terdiam hanya dentingan sendok yang beradu.
"Ken, kapan kita mengunjungi Rey di Tokyo."
"Jika mami ingin kesana Ken akan menghubungi Pilot untuk mengatur jadwal penerbangan." Ken mengunyah makanan dengan santai.
"Adikmu selalu sibuk jika mami menghubungi."
"Mami tidak perlu khawatir Ken tidak akan lepas pengawasan."
"Hem... mami percaya. Mami hanya rindu dengannya." Ken mengangguk.
"Sudah selesai. Kita berangkat." semua bersiap mengikuti Ken dibelakang, Tante Lyra mengantarkan sampai didepan pintu. Melambaikan tangan ketika mobil itu sudah akan melaju.
Didalam mobil Ken menyandarkan kepalanya dibahu Kei, sudah seperti tidak ingin berpisah. Selalu menempel disetiap kesempatan.
"Ada jadwal apa hari ini, Lee?"
__ADS_1
"Anda ada pertemuan dengan tuan Tristan, tetapi pertemuan kali ini meminta bertemu diruangan anda."
"Cih... kenapa harus bertemu dengannya! membuat hariku buruk!"