
"Bantuan apa?" tanya Kei. Posisi mereka terhalang dengan dua pengawal yang terus memasang badan didepan nona mereka.
Izham terdiam sejenak, menelan ludah dengan sedikit kesusahan. Bingung dan malu, sekian kali ia meminta bantuan pada wanita yang dulu ia sakiti lahir dan batinnya. Bukan karna dia manusia yang tak tahu malu, hanya saja keadaan lah yang memaksanya kembali berurusan dengan Kei.
Tahu, dia sangat tau apa resiko yang akan dihadapi jika ketahuan oleh Ken. Tapi tekad hati yang dimiliki telah mengalahkan rasa takut.
"Kei, beberapa minggu ini aku sudah naik jabatan dan dipindah ke kantor ini. Aku senang sekaligus bersyukur, gajiku akan lebih besar. Aku bisa membiayai pengobatan Ibu ku." Izham memulai bercerita.
"Hei, Nona kami tidak ada waktu untuk meladeni mu. Pergilah, sebelum kami menghajar mu." salah satu pengawal membentak Izham. Pengawal itu sangat geram melihat Izham.
"Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Kei, kalian yang diam!" bukannya takut, seorang Izham justru berbalik membentak.
"Jaga bicara anda! Nona Muda adalah istri dari Tuan Muda Ken, anda harus memanggil dengan sopan!" pengawal itu memperingati. Tidak tahu jika dulu Kei dan Izham memiliki hubungan khusus.
Ditempatnya Izham tersenyum miring merendahkan ucapan pengawal itu. "Asal kalian tahu sebelum Kei menjadi istri Ken, Kei dulu adalah istriku." ucap Izham masih dengan senyuman yang menyebalkan untuk kedua pengawal itu.
Tentu saja keduanya terbengong, lalu mereka berdua saling pandang. Tidak mengira dengan ucapan Izham adalah kebenaran.
Pasti hanya sebuah kebohongan ataupun akal bulus dari pria didepannya agar lebih leluasa mengobrol dengan nona mudanya.
"Mas...!" Kei memanggil Izham dan menatapnya dengan kesal. Itu masa lalu yang sudah lama dan tidak perlu diungkit lagi. Tapi malah memberitahukan pada dua pengawal. Itu bukanlah hal penting yang harus diberitahukan pada siapapun. Bahkan jika perlu menguburnya rapat-rapat dan menyimpannya sebagai kenangan.
"Kenyataannnya memang seperti itu, Kei." ucap Izham.
"Tidak perlu memberitahukan itu pada mereka." kesal Kei.
"Sebenarnya kamu mau minta bantuan apa? waktuku tidak banyak, suamiku pasti mencari ku. Dan, kalau sampai tau kita saling berbicara, bukan aku yang kesulitan, tapi dirimu sendiri." Kei kembali memperingati mantan suaminya agar tidak membuang-buang waktu. Berbicara berdua dengan Izham sama saja seperti memasang bom waktu yang kapanpun siap meledak. Itu yang membuat Kei khawatir.
__ADS_1
"Baiklah aku akan berbicara intinya saja."
"Tolong bujuk Ken agar tidak memindahkan posisiku ke kantor cabang lagi. Aku tidak mau kembali kesana, selain harus jauh dengan Ibu dan Mira. Disana jabatanku harus turun. Aku sangat menginginkan jabatan yang disini, Kei. Jabatan seperti dulu yang selalu aku impikan. Aku mohon, Kei. Ini kesempatan terakhirku untuk mempertahankan posisiku." akhirnya Izham mengatakan keinginannya.
Jika itu bukanlah Keihana Kazumi, sudah pasti akan memaki lelaki itu dengan kata kasar. Benar-benar lelaki tidak tahu malu. Mengiba dan mengemis jabatan pada mantan istri yang sudah dihinanya dan dibuang dengan kejam.
Dalam hati Kei ikut berbicara. Mas Izham masih sama seperti dulu sangat berambisi dengan sebuah jabatan. Mungkin jika posisinya berada pada dua pilihan, antara istri atau jabatan, pasti akan memilih jabatannya yang selalu didamba-damba.
Kei menghembuskan napas, benar-benar tidak habis pikir dengan lelaki yang pernah menjadi cinta pertamanya. Lelaki pertama yang mengajarkan arti sebuah ikatan cinta dengan kasih sayang melimpah. Belaian yang memabukkan, hingga sulit untuk melepaskan. Sekaligus lelaki yang teramat besar menoleh luka hingga menimbulkan trauma dan luka yang mendalam.
Beruntung ia mendapat lelaki pengganti yang jauh segala-galanya dari yang Izham berikan. Meskipun hidup didalam sangkar mas, tapi kebahagiaannya kini telah lengkap dengan hadirnya dua malaikat kecil.
Kei belum menjawab, ia masih memikirkan jawaban apa yang akan dikatakan. Menolong atau membiarkannya saja.
Bukanlah hal mudah untuk membujuk Ken dalam masalah itu, apalagi ini tentang Izham pasti membutuhkan drama yang sangat panjang. Mengingat sikap over posesif yang dimiliki Ken sangat tinggi dan melewati batas normal. Tentu sangat sulit.
"Kei, aku mohon... sekali ini saja. Plis... aku pasti akan sangat berterima kasih padamu. Tidak akan melupakan kebaikanmu." Izham masih berusaha untuk membujuk. Menghilangkan rasa malu dan merendahkan diri didepan Kei demi sebuah jabatan yang selalu diinginkannya.
"Aku tidak bisa berjanji, Mas. Tapi aku akan coba." jawab Kei tanpa adanya kepastian. Saat ini perasaan Kei benar-benar takut jika saja tiba-tiba suaminya muncul secara tiba-tiba dan memergoki dirinya tengah berbincang dilorong.
"Nona, waktunya sudah sangat lama. Tuan Muda pasti sudah mencari Anda." kata pengawal itu memperingatkan.
Kei mengangguk. "Iya,"
"Maaf Mas, aku pergi dulu." pamit Kei pada Izham.
"Kei, tolong pertimbangkan permohonan ku." ucap Izham.
__ADS_1
Drap... Drap...
Buuuukkkk....
Satu tinjuan telah mendarat tepat dihidung Izham hingga saat itu juga mematahkan tulang hidung dan langsung mengeluarkan cairan merah yang pekat.
"PERMOHONAN APA!!!!!" suara yang mengerikan bagai dewa kematian telah terdengar. Membuat beberapa pasang bola mata yang ada disana melebar ingin keluar.
Bahkan jantung mereka berdetak sepuluh kali lebih cepat dari waktu normal. Detak jantung yang seolah memukuli dada mereka hingga menimbulkan rasa nyeri.
Wajah yang tegas telah mengeras dan lebih dingin dibanding beberapa jam lalu saat berdiri diatas podium.
Wajah Ken benar-benar menakutkan, kulit wajah yang bersih telah memerah karna dorongan amarah yang sangat besar.
Tidak puas membuat hidung Izham berlumuran darah, kepalan tangan Ken kembali melayang mengenai pelipis Izham hingga memerah.
Gerakan tiba-tiba itu kembali membuat semuanya terkejut. Kei menutup mulut dengan telapak tangannya. Ini seperti kejadian waktu diTaman saat ia mengobrol berdua dengan Tristan.
Jika Tristan melawan, tapi Izham tidak melakukan perlawanan hingga tubuhnya sudah tersungkur dilantai. Begitupun Ken masih melayangkan pukulan dan tendangan pada tubuh Izham.
"Sayang, cukup. Aku mohon hentikan!!" teriak Kei.
"Hei...kalian kenapa diam saja! cepat hentikan suamiku." Kei meminta bantuan pada dua pengawal tadi.
Dua pengawal juga sangat takut jika seorang Kendra Kenichi sudah marah.
"Jika kalian berani mencegahku! kalian juga akan aku lenyapkan!!" Ken memandang tajam kearah dua pengawalnya dan memberi ancaman.
__ADS_1
Kedua pengawal itu tidak berkutik dan hanya diam ditempat. Tentu saja ancaman itu sangat mengerikan. Mereka berdua tidak ingin mati konyol ditangan tuan Ken.