
Acara makan malam telah usai, biasanya akan dilanjut dengan bercengkrama diruang keluarga. Namun malam ini memutuskan untuk pergi kekamar masing-masing.
Ken duduk tenang disofa ruang kamarnya. Kei yang baru selesai mengASIhani putrinya tengah bersiap menidurkan Kyura kedalam box bayi.
Kyura sudah tenang dalam tidurnya, Kei beralih mendekati Ken dan duduk sampingnya.
"Hari ini lelah sekali?!" tanya Kei. Melihat raut wajah suaminya yang begitu kelelahan dan seperti memikirkan sesuatu.
Ken menghembuskan napas panjang, tiba-tiba tangannya terbentang dan meraih Kei kedalam pelukannya. Menciumi pucuk kepala Kei untuk menghirup aroma shampo seperti kebiasaan yang sering ia lakukan ketika sedang santai.
Tidak menjawab dan tidak mengatakan apapun, Ken menikmati pelukan hangat yang ia ciptakan sendiri. Rasa penat yang menggelayuti membuatnya enggan untuk melakukan apapun bahkan sekedar bersuara pun ia malas.
Kei pun terdiam dalam pelukan suaminya, ia tau suaminya sedang banyak pikiran. Mungkin dengan menyalurkan kehangatan dan energi positif membuat Ken lebih rileks untuk menyandarkan bahu.
"Honey, aku lelah." sekian menit terdiam, Ken mulai bersuara. Dia pun mengeluhkan rasa lelah yang menderanya.
Kei mengangguk. "Istirahat saja, tidak perlu terlalu dipikirkan. Kita sedang berusaha mencari anak itu, Tuhan lah yang menentukan. Kalau tidak bisa menemukan, kita do'akan, dimanapun dia berada semoga Tuhan selalu melindungi." Kei berkata dengan bijak.
"Bukan hanya anak itu saja," kata Ken.
"Lalu apa lagi?" tanya Kei.
"Kau tidak tau, si breng sek itu kembali bekerja di kantor pusat. Dan itu .... menyebalkan." kata Ken dengan gaya angkuh sekaligus kesal.
Pelukan keduanya terpaksa melonggar karna Kei mendongak menatap Ken. "Siapa?" Kei penasaran.
"Siapa lagi? mantan suamimu yang laknat itu!" sungutnya kesal.
Kei melebarkan bola mata dan menahan tawa. Apa-apaan suaminya ini berpikir tentang Izham?
"Wah... dia kembali?" Kei malah melempar candaan.
Ken sangat terkejut mengetahui respon Kei yang terlihat senang mantan suaminya kembali. Kedua matanya menatap dengan tajam.
"Jadi kau senang kalau dia kembali?" sentaknya dengan kemarahan.
"Tidak, tidak. Maaf, aku hanya bercanda." Kei tersenyum manis dengan dua jari yang diangkat keatas membentuk huruf V.
Ken memutar bola mata, ia sangat malas. Buruk, moodnya semakin buruk. Tidak lagi meladeni, ia beranjak pergi kekamar mandi.
Kei mematung, hanya gerakan bola mata yang mengikuti kemana arah Ken pergi.
Niat hati hanya ingin melontarkan candaan, tapi tak disangka malah menjadi bumerang.
__ADS_1
'Alamak... mati lah kau, Kei' batinnya nanar mendengar pintu kamar mandi yang ditutup dengan keras.
Jika hari biasa ia sangat mudah meluluhkan tuan arogan itu, tapi selama 42 hari ini menjadi hari luar biasa dengan sikap Ken yang kadang uring-uringan tanpa sebab pasti.
Dan, bodohnya Kei memercikkan kemarahan pada Ken. Bagaimana ia akan meredam api kemarahan itu.
Ia sedikit lupa kapan terakhir kali suaminya itu marah besar.
Biasanya ia bisa membujuk dengan cara jitu, yaitu memberikan sesuatu servise yang sangat disukai Ken, tapi ia sendiri harus berpuasa selama itu.
"Berpikir Kei, ayo berpikir. Bo doh nya kau, bo doh... bo doh ..." Kei menerutuki ke bo dohannya sendiri.
Kini Kei sudah berjalan mondar-mandir didepan kamar mandi, menunggu Ken menyelesaikan ritual membersihkan diri. Tidak terdengar suara kran air yang mengalir, apakah Ken sudah selesai.
Kei semakin gencar menggerakkan kaki kesana kemari, dengan menggigit bibir bawahnya mencoba mencari ide agar suaminya tidak marah lagi.
Tapi nihil, dirinya yang semakin takut malah membuat otaknya kian melemah untuk menemukan ide.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, Ken sudah muncul dari balik pintu. Melirik kearah Kei dan berjalan melewatinya begitu saja menuju ruang ganti.
Kembali Kei menunggu didepan ruang ganti. Sampai Ken sudah segar dengan pakaian santai yang membuatnya semakin coll.
"Sayang," panggil Kei dengan ragu-ragu.
"Hem.." Ken hanya berdehem. Ia duduk dimeja rias untuk menyisir rambutnya yang setengah basah.
"Kamu masih marah?"
"Maaf, aku tadi cuma bercanda." ucap Kei merasa bersalah.
"Becanda mu tidak lucu." kalimat singkat padat dari Ken.
Kei Memperhatikan Ken, dulu lelaki itu arogan, dingin dan menyeramkan. Sekarang sudah memiliki anak dua seperti anak kecil, suka ngambek, membuat Kei geleng-geleng kepala.
"Dulu kau memanggil si breng sek itu dengan sebutan Sayang juga?" tanya Ken tiba-tiba, ia menekankan kata sayang.
'Eh, kenapa bahas yang dulu sih?! hadeh, kalau ngambek ngalah-ngalahin Kio. Kalau begini susah dibujuk. Dasar, pecemburu buta!!' kesal Kei dalam hati.
"Tidak, aku panggil dia dengan sebutan Mas." Kei yang lelah berdiri kini duduk di pinggiran bed.
"Kalau bukan karna permintaanmu, aku tidak sudi menerima lelaki busuk itu untuk bekerja lagi dikantor ku!" sinis Ken.
__ADS_1
"Kau menyuruhku menerima lelaki itu bukan karna masih ada rasa, kan?" tanya Ken dengan serius.
"Astaga... Tidak Sayang. Demi Tuhan, tidak ada rasa apapun. Kau tahu sendiri, aku hanya kasihan dengan perekonomian mereka. Itu Saja."
"Kita sudah punya anak, pernikahan itu sakral, tidak bisa untuk bermain-main. Kau tau sendiri siapa pemilik cintaku. Yaitu, kamu." Kei mengeluarkan jurus ngegombal.
Meski begitu Ken masih belum percaya.
"Kau kan pemilik perusahaannya, ya udah tinggal pindahkan lagi pria jelek itu ke kantor cabang. Bereskan?!" usul Kei.
"Tidak semudah itu, Elizabeth! semua ada prosedurnya!" Ken beranjak dari duduknya dan menyentil kening Kei sedikit keras hingga Kei mengaduh kesakitan.
"Auh..." Kei meringis. Kening yang biasa dikecup dengan lembut, kini terlihat memerah karna gerakan tangan Ken yang cepat dan sedikit keras.
Setelah mengaduh kesakitan, Kei melirik ke arah Ken dengan kesal sambil sebelah tangan mengusap kening yang sakit. Mulutnya berdecak dan menggerutu kesal.
Seolah Ken tidak perduli, ia memposisikan diri bersiap untuk berbaring.
"Kok tidur sih," protes Kei. Melihat Ken sudah berbaring disampingnya.
"Aku lelah," Jawab Ken singkat.
"Ish... jangan tidur dulu, kita belum baikan?" kata Kei.
"Kau tidak akan bisa tidur tanpa memelukku." ucap Kei dengan sombong.
Tapi Ken diam saja dan pura-pura memejamkan mata dengan membelakangi Kei.
Kei masih mengomel tidak jelas dan kini telah berbaring disamping Ken.
Menunggu beberapa saat tapi suaminya tetap memunggunginya.
Kei memberanikan diri untuk memeluk dari belakang. Semoga saja suaminya akan luluh.
Dengan gerakan cepat Ken sudah berbalik, "Kapan sarangmu akan sembuh?!" tanyanya tiba-tiba.
Membuat Kei terkejut sekaligus lucu. Dasar, monster mesum.
Kei tersenyum geli. "Sepuluh hari lagi," jawab Kei.
Ken merubah posisi lagi, ia telentang dan menutup kedua mata dengan lengan tangan.
"Ayo tidur." ajaknya setengah frustasi.
__ADS_1
Sekuat tenaga Kei menahan tawa agar tidak pecah. Suaminya sangat lucu, bisa-bisanya didunia ini ada suami macam Kendra Kenichi.