Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Senyum Sekretaris Lee.


__ADS_3

Seperti perintah tuan Ken, Kei harus ikut keKantor meski dia tidak ingin. Apa boleh buat, dia tidak bisa menolak perintah dari suami arogannya itu.


"Mbak Dewi juga akan kembali keKantor 'kan?" Kei bertanya kepada Dewi.


"Iya, setelah jam istirahat selesai harus kembali keKantor."


"Ya sudah mbak bareng kita saja."


"Eh... tidak perlu Kei. Biar aku naik motorku saja." Dewi menolak keras ajakan Kei, tidak mungkin berada satu mobil dengan mereka.


"Cuaca diluar sedang panas banget mbak, tidak apa-apa mbak bareng kita saja, tujuan kita juga sama."


"Sungguh Kei, aku kembali keKantor mengendarai motorku saja." Kei terlihat sedih dengan penolakan dari mbak Dewi, melirik kearah tuan Ken.


"Apa?" Ken tau Kei sedang meliriknya. Kei cemberut dan memajukan bibir. Ken menghela nafas.


"Kau ikutlah." perintah tuan Ken. melihat kearah Dewi sebentar dan kembali melihat kerah Kei. Kei menyunggingkan senyum terbaik untuk tuan Ken yang mau memberi izin.


"Hari ini aku terlalu baik padamu, kau harus membalasnya." Ken menatap Kei. Senyum dibibir Kei memudar, setelah mendengar kalimat dari tuan Ken. Ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal, melihat itu berganti tuan Ken yang tersenyum tipis.


Ken berdiri, semua ikut berdiri. Melangkahkan kaki keluar dari Restauran, Kei dan Dewi mengikuti dibelakang. Kei menggandeng tangan Dewi dan mengajaknya untuk masuk kedalam mobil yang tadi.


"Siapa yang menyuruhmu masuk kedalam mobil itu!" Kei membalikan badan.


"Tetapi aku tadi menaiki mobil ini, tuan."


"Akhir ini kau pandai membantah, Keihana Kazumi!" Ken terlihat sangat kesal. Menyebut nama Kei dengan lengkap. Kei terkejut, ternyata tuan Ken mengingat nama lengkapnya. Masih menggandeng tangan Dewi, Kei berganti mendekati mobil tuan Ken.

__ADS_1


"Kau, duduklah didepan." Ken memberi perintah kepada Dewi.


"Baik tuan." Dewi menganggukkan kepala dan membuka pintu mobil bagian depan. Sekretaris Lee membukakan pintu belakang untuk tuan Ken dan nona Kei, setelah itu dia masuk dibagian kemudi dan segera melajukan mobilnya menuju keKantor.


Dikursi belakang seperti biasa Ken meraih Kei untuk duduk didekatnya, menyandarkan kepala dibahu Kei. Tidak ada rasa canggung meski didalam mobil itu ada orang lain.


"Hei, kenapa kau berdandan cantik seperti ini. Kau pasti sengaja?" tuan Ken baru memperhatikan penampilan Kei.


"Aku memang seperti ini tuan, dandanan ini seperti biasanya."


"Tidak, kau menggunakan penjepit rambut. Lipstikmu berbeda, parfummu... ah.. kau menggunakan parfum terlalu banyak! kau ingin menggoda siapa diluaran tadi?" Kei memutar bola mata, terkadang merasa kesal jika tuan Ken kambuh dengan sikap posesifnya yang sangat-sangat berlebihan.


"Bagaimana aku harus menjelaskan." kata Kei, nadanya seperti sudah pasrah. Memukul dahinya dengan pelan.


"Kau tidak mau menjelaskan! berati benar perkataanku?" sudah kesal.


"Bagus jika kau sadar. Kalau begitu, cium aku."


"Apa?"


Dikursi depan Dewi yang mendengar percakapan tuan Ken dan Kei tersenyum sendiri, merasa lucu dengan pasangan suami istri itu. Ternyata tuan Ken mempunyai sikap posesif, ini pertama kali baginya melihat sisi lain dari tuan Ken.


"Dilarang tersenyum sendiri." suara dingin sekretaris Lee membuatnya tersadar, segera menoleh kearah sekretaris Lee yang berwajah datar.


"Bukankah senyum itu ibadah tuan, kenapa dilarang?"


"Pernyataan seperti itu berlaku disaat-saat tertentu, tetapi tidak didekat tuan Ken." Dewi tidak mengerti ucapan sekretaris Lee, kembali fokus melihat kedepan. Dikursi belakang masih saja terdengar perkataan yang menggelikan.

__ADS_1


"Besok jika ingin keluar tidak perlu memakai parfum, jangan memakai warna lipstik seperti itu!" Ken masih mempermasalahkan penampilan Kei. Kei sendiri sudah ingin turun dari mobil dan menjauh dari tuan Ken, saraf telinganya seperti akan putus mendengar larangan-larangan.


Dewi mengigit bibir bawahnya karna menahan senyum, melirik kearah belakang. Penasaran ingin melihat wajah tuan Ken yang sedang cemburu.


"Jangan melirik kebelakang, kau akan terkena pasal." memperingati kembali dengan suara dingin.


"Hah..." dan kembali Dewi tidak mengerti ucapan dari sekretaris Lee. 'Ish... ini orang berbicara menggunakan bahasa jaksa penuntut hukum atau bahasa alien sih, kenapa susah dimengerti artinya.' Dewi membatin. Menatap kesal kearah sekretaris Lee.


"Jika kau kesal, harimu akan buruk."


'Aaaa'... aku bisa gila duduk didekatnya, ternyata kau itu sangat menyebalkan tuan sekretaris! aku menyesal berada didalam mobil ini, seperti pada jaman penjajahan yang tertindas. Ingin bernafas dan berekspresi saja tidak boleh.'


Sekretaris Lee tidak bisa menahan diri untuk melihat kearah Dewi, wanita itu fokus melihat kedepan dengan bibirnya yang bergerak-gerak seperti sedang memaki seseorang. Lee tersenyum sangat tipis, bahkan orang yang melihatnya tidak akan tau jika dia tersenyum.


Mobil sudah sampai didepan Kantor, Lee mematikan mesin dan keluar lebih dulu untuk membukakan pintu. Ken dan Kei sudah keluar, beberapa karyawan yang baru datang dari luar sehabis makan siang melihat kearah mereka. Kei menunduk, merasa malu untuk menatap orang-orang. Ken menggenggam tangan Kei dan mengajaknya masuk.


Mengetahui ada yang tidak beres, Lee menghampiri pintu depan samping kemudi yang diduduki Dewi dan membuka pintunya.


"Harusnya aku tidak membukakan pintu untukmu, kenapa tidak keluar?" Dewi menyengir kuda dan menggaruk pelipisnya.


"Maaf tuan, aku tidak bisa membuka saftbelt nya." Dewi menunduk malu. Tanpa basa-basi Lee menundukkan badan didepan Dewi membantu melepas saftbelt posisi yang sangat dekat membuat keduanya bisa menghirup parfum masing-masing. Dewi memperhatikan wajah sekretaris Lee yang sangat dekat, jantungnya berdetak lebih kencang sekuat tenaga menahan nafas, dia sangat gugup berada diposisi ini. Keduanya saling menatap satu sama lain, Lee lebih dulu menyudahi tatapan itu dan berdiri tegak.


Setelah saftbelt sudah terlepas, Dewi segera keluar dari dalam mobil. Rona wajahnya terlihat memerah.


"Anda tidak ada ada bakat menjadi orang kaya, nona." Lee berkata lirih didepan Dewi sebelum berlalu pergi. Dewi membelalakkan mata dan membuka mulut lebar-lebar, sedetik kemudian menghentakan kaki, tangan yang terkepal kuat.


"Dasar tuan sekretaris menyebalkan, gila... manusia aneh, jika anda bukan tangan kanan tuan Ken dan bukan atasanku, Hem... aku pastikan akan menghajar mu dengan jurus taekwondo yang aku kuasai. Akan aku hajar sampai kau menjadi tulang lunak... Aaa'...." Dewi memaki-maki sekretaris Lee yang sudah masuk kedalam Kantor. Hatinya baru saja berdebar berdekatan dengan sekretaris Lee, tetapi sekretaris Lee menghempaskan jiwanya begitu saja.

__ADS_1


Sekretaris Lee bisa melihat reaksi Dewi dari jendela kaca yang besar. Bibirnya menyunggingkan senyum, entah merasa senang melihat wanita itu terlihat kesal. Padahal jantungnya tadi berdetak kencang saat berdekatan dengan Dewi, tetapi dia sangat pandai menutupi.


__ADS_2