
"Kurang ajar, pasti kau yang menjebak ku tuan Ken!" Tasya melayangkan tatapan marah.
Terdengar gelak tawa bibir Ken, "Apa kau bilang? aku menjebak mu? harusnya aku yang mengatakan itu padamu, wanita licik." Ken membalas tatapan itu, sorot mata yang menyiratkan kebencian.
"Tunggu saja pembalasanku. Aku tidak terima dengan semua ini, akan aku hancurkan kalian semua!" Tasya benar-benar terlihat marah, ia mengancam, mungkin itu terdengar mengerikan tapi tidak dengan Ken.
"Tidak ada pembalasan lain Nona! kau akan berlindung dengan siapa? orang yang menyuruhmu sudah ada di sel tahanan, kau pun akan menyusul dan membusuk disana!" kini Lee ikut berbicara.
Sesaat semua mata menuju kearahnya. Begitu juga dengan Tasya. "Apa maksudmu sekretaris sialan!" bentaknya.
Lee tersenyum miring. "Kau bersekongkol dengan Deny untuk menjebak tuan Ken, merencanakan kehancurannya? sebelum itu terjadi, kalianlah yang akan hancur."
Lee mengalihkan pandangan kearah tuan Ken. "Saya sudah menghubungi polisi tuan, sebentar lagi mereka akan datang." ucap Lee pada tuan Ken.
"Bagus Lee, masukan wanita licik itu kedalam penjara dan pastikan jangan sampai dia bisa keluar."
"Apa... po-polisi? tidak-tidak, aku tidak mau dipenjara." Tasya menggeleng-gelengkan kepala.
"Tuan-tuan, maafkan saya tuan. Tolong jangan laporkan saya. Saya tidak mau dipenjara." akhirnya Tasya memohon-mohon pada tuan Ken.
"Tolong tuan, ibu saya sedang sakit. Saya butuh uang banyak untuk membawanya keruma sakit karna itu saya menerima tawaran dari Deny." Tasya mengucapkan sebuah alasan, kedua matanya mengeluarkan airmata. Ia menangis supaya mendapat pengampunan dari Ken.
"Meskipun Ibumu sedang sakit, harusnya kau tidak melalukan ini. Kau seorang wanita, bagaimana jika posisimu sama sepertiku? pernikahanmu hancur hanya karna sebuah fitnah dan uang? Ibumu tidak akan senang melihat caramu mencari uang dengan cara yang salah." Kei ikut bersuara.
"Nona Kei, mohon jangan percaya ucapannya, dia hanya berbohong. Saya sudah menyelidiki semuanya, dia wanita pekerja malam. Tidak memiliki siapa-siapa karna dia berasal dari panti asuhan, sudah banyak korban yang dia tipu. Dia sering menyamarkan jati diri dan berpindah-pindah tempat." Lee mengatakan kebenaran. Ia menatap wajah Tasya dengan pandangan merendahkan.
"Tidak, kau yang berbohong!" bentak Tasya. 'Dasar sekretaris sialan! jika kau tidak membuka kejahatan ku, aku pasti sudah bisa pergi dari sini.' batin Tasya geram.
__ADS_1
"Kau benar-benar wanita jahat. Bahkan sampai membawa nama Ibumu untuk menutupi kebusukanmu!" Kei berdiri dan mendekati Tasya menghadiahi dua tamparan sekaligus.
Pipi mulus yang putih dengan riasan tebal kini terlihat memerah.
Tasya memegangi pipinya yang memanas, ia mendesis.
Ken dan Lee sampai terkejut dengan aksi Kei yang tiba-tiba menampar Tasya dengan keras.
"Kau benar-benar wanita licik! Aku beruntung Tuhan masih berbaik hati pada keluargaku, tidak membiarkan rumah tanggaku hancur ditangan wanita murahan seperti mu!" ucap Kei marah, tangannya sudah geram ia menjambak rambut Tasya yang panjang dan hitam.
"Tolong lepaskan, ini sakit." Tasya merintih kesakitan memegangi tangan Kei yang dengan kuat menjambak rambutnya.
"Ayo Honey, hajar terus. Jangan beri ampun." Ken mendukung istrinya yang menganiaya Tasya.
Sedangkan Lee hanya menyaksikan kebrutalan seorang Keihana Kazumi yang biasa terlihat kalem dan tidak bringas. Baru kali ini, ia melihat sosok lain dari istri tuan mudanya.
"Lepaskan, lepaskan apa. Hah? aku tidak akan melepaskan mu, kau sudah mengusik ketenangan keluargaku! Kau tidak memikirkan masa depan putraku yang akan hancur dengan ulahmu! kau tidak pantas mendapat ampunan, kejahatanmu sudah melampaui batas." Kei masih meluapkan amarahnya.
"Permisi tuan," empat anggota Polwan berdiri didepan pintu, mereka baru saja datang dan langsung melihat Kei sedang menjambak rambut Tasya. Mereka mendekat dan melerai.
"Berhenti, Nona." salah satu Polwan menghentikan aksi Kei.
Kei melepaskan rambut Tasya yang sudah sangat berantakan, ia mengatur nafas yang beraturan karna emosi.
"Kami sudah menerima laporan dari sekretaris Lee, dan akan membawa buronan ini kekantor polisi. Sudah lama kami mencari, dia sering berpindah-pindah dengan mengganti identitas bahkan melakukan operasi wajah dan bagian tubuh lainnya untuk itu kami kesulitan untuk menangkapnya.
Sudah banyak orang-orang penting menjadi korban." satu Polwan memberi penjelasan.
__ADS_1
"Dan kami sudah bekerja sama dengan pihak kepolisan asal Singapore untuk menangkap tersangka lainnya yaitu pak Deny. Hasil bukti-bukti yang diberikan sekretaris Lee sudah kami tindak lanjuti dan mereka sedang memproses sidang untuk lanjutan." imbuhnya.
"Saya harap mereka berdua mendapat ganjaran setimpal untuk perbuatannya yang ingin menghancurkan keluarga saya. Bahkan wanita itu sudah berani membuat istriku menangis. Berikan hukuman seberat-beratnya." kata Ken.
"Tentu tuan. Kami juga berterima kasih pada anda dan sekretaris Lee karna hasil dari laporan itu kami bisa menangkap buronan yang dicari."
"Urusan kami sudah selesai, kami permisi."
Dua Polwan lainnya menyeret tubuh Tasya yang memberontak tidak ingin ikut, dia berteriak-teriak minta tolong dan mengucap kata-kata yang tidak pantas.
Bisa dipastikan ia pasti menyesal telah menerima tawaran dari Deny yang menyuruhnya untuk menghancurkan keluarga Ken. Keputusannya membuat ia sendiri masuk kedalam jeruji besi.
Padahal ia sangat pandai berkamuflase. Tapi ibarat pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan sewaktu terjatuh juga.
Meski para Polwan sudah membawa Tasya pergi, tapi Kei masih terlihat marah.
"Honey, kau sangat hebat. Harusnya kau memberikan tamparan lagi." ucap Ken. Ia melangkah mendekati Kei.
"Heum, dan harusnya aku juga memberikan hukuman untuk suamiku!" jawab Kei sinis.
"Apa maksudmu, Honey?" tanya Ken tak mengerti.
"Apa aku harus memutar video itu lagi, Hem? menunjukan bagaimana kau juga menikmati mencumbu wanita palsu itu!" sentak Kei.
"Hah.. itu tidak benar. Aku sama sekali tidak menikmati, bahkan aku pun jijik disentuhnya."
"Coba saja kalau kalian belum tau rencana mereka, pasti kau melakukan hubungan itu 'kan?" Kei yang marah meninggalkan Ken begitu saja. Ia menuju ke lift yang akan membawa kekamarnya.
__ADS_1
"Heh, kenapa jadi begini Lee?" Ken kebingungan, ia tidak memprediksi ini sebelumnya. Tidak tau jika Kei akan marah padanya meskipun ia tak melalukan hubungan itu.
Lee tak bisa mengatakan apapun, ia hanya mengangkat bahu sebentar. 'Huh, tugasku belum selesai. Ini sangat melelahkan. Aku tidak yakin dengan mereka, pasti aku yang akan direpotkan. Oh Tuhan, kenapa aku harus berada diantara mereka.' Lee mengeluh dalam hati. Mengeluhkan sesuatu kedepannya, hanya dia yang tau.