
"Baby boy ini tampan sekali," Dewi gemas memandangi bayi kecil itu.
"Apa dia udah diberi nama?" Dewi menambahi.
Kei menggeleng, lalu melihat kearah suaminya. "Sayang, kita harus segera memberi nama."
"Eum... sebenarnya aku sudah ada nama untuk jagoan kita, tapi kalau kau mau memberinya nama, tidak pa-pa." tuan Ken tidak memaksakan kehendak, ia meminta persetujuan dari Kei.
"Tidak pa-pa katakan saja siapa, nanti aku bisa menambahi." ucap Kei.
"Ryuga Kenichi. Ryuga artinya anak laki-laki pemberani dan sukses."
Kei mengerutkan dahi, ia nampak berfikir. "Nama yang bagus. Tapi aku mau menambahkan nama, boleh?" tanya Kei. Dia ingin menambahkan nama yang sudah dipilihnya.
"Boleh, Honey."
"Akio Ryuga Kenichi. Bagaimana? apa kamu setuju?"
"Bagus. Aku setuju." tuan Ken tersenyum.
"Mami, setuju tidak dengan nama tadi?" Kei menanyai mami Lyra. Bagaimanapun ia adalah neneknya, juga berhak memberi ide nama untuk cucu pertama.
"Mami setuju-setuju saja, Kei. Nama yang kalian pilih bagus,"
"Oke. Mulai sekarang dia sudah mempunyai nama, Kio... bagus nggak kalau kita panggil dengan nama baby Kio?"
"Kenapa manggilnya baby Kio? Bagaimana kalau baby Ryu?" kata tuan Ken. Ia tidak begitu suka dengan ide istrinya.
"Ya kalau mau manggil baby Ryu juga tidak pa-pa." sahut Kei. Ia sendiri lebih suka dengan panggilan baby Kio.
Setelah semua sudah setuju, kini baby boy itu akan dipanggil dengan sebutan baby Ryu. Kei menyetujui suaminya. Meski ia lebih suka dengan panggilan baby Kio.
Mereka melanjutkan dengan mengobrol, Dewi asik mengobrol dengan Kei, menanyakan seputar persalinan. Ia juga perlu mempersiapkan diri, meski masih ada waktu 2bulan lebih tapi ia sudah mulai ada kecemasan. Baginya itu juga pengalaman pertama melahirkan buah hati.
Dirasa sudah cukup waktu menjenguk, sekretaris Lee mengajak Dewi untuk pulang. Membiarkan Nona Kei untuk beristirahat, karna itu sangat dibutuhkan dalam masa pemulihan.
Mami Lyra juga meminta izin untuk pulang sebentar, ia juga butuh istirahat. Tubuh tuanya rentan merasa lelah.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Kei dan tuan Ken diruangan itu. Beberapa dokter baru saja selesai memeriksa kondisi Kei. Mengatakan jika kondisi nona muda sudah membaik, dan hanya tinggal masa pemulihan.
Tuan Ken sedang menyuapi Kei dengan makanan bergizi yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
"Kamu kenapa, Sayang?" Kei merasa aneh, sedari tadi tuan Ken diam saja. Seperti memikirkan sesuatu.
"Tidak pa-pa. Sweety, kemarin-kemarin sebelum melihat proses persalinan, aku menginginkan 4orang anak. Tapi, aku berubah pikiran. Kita cukup punya baby Ryu saja."
"Kenapa?"
"Aku takut. Bahkan setelah menyaksikan proses melahirkan tadi tubuhku lemas seperti mau pingsan. Melihat gunting dan peralatan lainnya sampai saat ini aku kebayang-bayang." tuan Ken bergidik ngeri.
Kei tersenyum, didalam mulut masih menikmati bubur yang disuapi tadi.
"Aku juga ingin punya banyak anak." jawaban dari Kei membuat tuan Ken sedikit terkejut.
"Kenapa? bukankah melahirkan itu sakit sekali?"
"Memang. Sebelum melahirkan dan saat bayi mulai akan keluar tubuh ku sakit sekali. Tapi, setelah melihat bayi kita lucu dan imut rasa sakitnya sudah hilang."
"Tap-tapi... Em... apa sarangmu masih bisa aku masukin?" tuan Ken terlihat kikuk saat mengatakan itu. Menggaruk kepala yang tidak gatal.
Tuan Ken terlihat berpikir, bola mata yang menari kesana kemari. Bagaimana menyusun kata untuk menanyakan itu pada dokter?
Tak lama tuan Ken berdiri, melangkahkan kaki.
"Sayang, mau kemana?" tanya Kei. Ia penasaran suaminya mau kemana?
"Honey, tunggu sebentar."
"Kau mau kemana?" Kei mengeraskan suara karna tuan Ken sudah berjalan menjauh.
"Sebentar," dengan suara itu tuan Ken sudah tak terlihat lagi.
"Sus, apa baby Kio belum bangun?" Kei bertanya pada perawat yang bertugas menjaga anaknya.
"Belum Nona, ini baru satu jam, baby Kio tidur. Kalau sudah dua jam belum bangun, baru dibangunkan." jawab perawat yang memperhatikan bayi kecil dalam box.
__ADS_1
Sedangkan tuan Ken sudah duduk tenang diruangan dokter.
"Selamat sore tuan, ada perlu apa?" tanya dokter Sofia. Tapi dalam ruangan itu bukan hanya dokter Sofia saja, kebetulan para dokter sedang berkumpul dan berdiskusi seputar profesi mereka.
"Aku ingin menanyakan sesuatu," kata tuan Ken dengan nada santai. Kedua tangan merentang diatas pinggiran sofa.
"Silahkan, tuan. Anda ingin bertanya tentang apa." dokter Sofia bersikap sangat ramah. Meskipun dalam hati menggerutu, tapi itu rahasia hatinya.
"Apakah sarang Kei masih ada lubangnya?" tuan Ken bertanya langsung.
Para dokter kebingungan, mereka tidak mengerti dengan pertanyaan tuan Ken.
"Maaf, sarang apa yang anda maksut?" dokter Sofia berganti bertanya. Ia memperjelas pertanyaan tuan Ken.
Tuan Ken menggaruk pelipis, ia sendiri bingung harus menggunakan kata apa untuk menyebutnya.
"Eum, sarang yang kalian gunting tadi." akhirnya dia menemukan ide.
Lagi para dokter saling pandang, mereka benar-benar tidak tau maksut tuan Ken. Sebagian sudah pucat, ia takut tuan Ken marah jika mereka tidak paham.
"Biasanya kalau barang yang sudah digunting pasti akan rusak, tuan. Tapi sekali lagi, maaf. Kami masih belum mengerti dengan sarang yang anda maksut." salah satu dokter ikut menyahut.
"Apa? jadi sarang Kei sudah rusak?" tuan Ken terkejut, tubuhnya tegak sempurna. Mata yang melotot hampir keluar. Hanya kata rusak yang ia cerna, yang lain terabaikan begitu saja.
Bukan hanya tuan Ken, para dokter juga terkejut dengan respon yang ditunjukan. Apa mereka salah menjawab?
"Jadi... milikku sudah tidak bisa masuk kesarangnya?"
Para dokter semakin bingung. "Tuan, anda bisa lebih spesifik? yang anda maksut, milik anda tidak bisa masuk kesarangnya itu apa?"
"Kalian bodoh! ah, Lee tidak ada, sebenarnya aku malas menjelaskan panjang lebar. Kalian ingat, waktu Kei melahirkan menggunting bagian itu, ck..." diakhir tuan Ken berdecak, kesal dengan banyak dokter tapi tidak maksut dengan pertanyaannya. Ia bingung harus menjelaskan, lebih tepatnya malas menjelaskan.
Dokter Sofia tersenyum geli, ia baru mengerti yang di maksut sarang adalah bagian inti tubuh.
"Tuan, meski sarang nona sudah digunting tapi kami sudah menjahit kembali. Setelah jahitan itu kering dan normal, anda bisa melakukan hubungan suami istri seperti sebelumnya." meski sedikit geli tapi harus menjelaskan agar tidak salah pengertian. Ia memang belum menikah, tapi profesinya sebagai dokter tentu paham dengan sistem reproduksi dan lainnya.
"Benarkah? lalu kapan jahitan itu bisa kering?" tuan Ken terlihat antusias, ia tak sabar mendengar jawaban dari dokter.
__ADS_1
"Biasanya satu minggu atau 10 hari sudah kering. Tapi, meskipun jahitan itu kering, anda harus menunggu masa nifas nona Kei selesai."