
Ken, Lee dan beberapa anak buah telah mengecek semua isi Mall, tapi tak satu pun rekaman kamera pengawas yang memunculkan wajah Kei.
Selain itu, para anak buah membawa foto dan berkeliling mencari disekitar Mall. Semua usaha telah dilakukan tapi tak jua membuahkan hasil.
Hampir menjelang maghrib tidak menemukan petunjuk apapun. Ken menyuruh Lee menghubungi Tony menanyakan hasil pencarian di daerah stastiun, tapi hasilnya pun nihil.
"Tuan Muda, makanlah dulu, dari tadi anda belum mengisi perut anda dengan makanan." Lee mengingatkan. Tapi malah mendapat lirikan tajam dari dua bola mata Ken.
"Apa aku bisa makan kalau belum menemukan istri dan anakku?" sentak Ken.
Beginilah sulitnya dekat dengan Kendra Kenichi kalau sedang marah atau bad mod. Semua ucapan dari orang sekitar tidak ada yang benar. Lee benar-benar manusia yang memiliki stok kesabaran luar biasa, bisa tahan berhadapan dengan Ken meski dalam keadaan apapun.
"Kalau anda sakit lagi, maka pencarian kita akan semakin lama." tidak banyak kata yang terucap tapi langsung ke intinya.
Ken melirik sinis, tapi tak lama kemudian tangannya mengambil garpu dan mulai memasukan secuil daging kedalam mulutnya.
Batin Lee tertawa, tapi ia tahan. 'Dasar, kau memang tidak pernah berubah Koi.'
Lee membuang pandangan dan pura-pura tidak tahu, agar Ken lebih leluasa menghabiskan makannya. Tapi hal yang tidak dipikirkan tiba-tiba mampu menghentikan kunyahan Ken.
"Ada apa, Lee?!" tanya Ken tidak sabaran, ketika Lee sudah mengakhiri panggilan dengan seseorang.
"Tuan, Tony memberi laporan, ternyata Nona pergi ke kampung halamannya menggunakan jasa kereta api." jelas Lee.
"Benarkah? ayo kita susul mereka." perintah Ken yang langsung berdiri dan segera menelan bulatan daging dengan buru-buru. Lee hanya menggelengkan kepala lalu mengikuti dibelakang.
Ketika keluar dari mall, ternyata cuaca sedang buruk. Hujan deras disertai petir. Meski begitu tidak menyurutkan niat mereka menuju ke stasiun kereta api.
Skip.
Setelah sampai disekitaran stasiun, Lee mengambil payung untuk Ken. Mereka menuju pusat informasi yang ada di stasiun, disana sudah ada Tony yang menunggu.
__ADS_1
Setelah Ken datang Tony langsung memperlihatkan catatan keberangkatan kereta menuju kota Yogjakarta dengan jadwal keberangkatannya sore.
"Lee, istriku pasti datang ke rumah budenya yang dulu mengatakan aku sebagai pekerja dealer motor. Kau ingat!" Ken menunjuk Lee dengan jari telunjuknya, agar Lee mengingat waktu itu.
"Sepertinya begitu, Tuan." jawab Lee. Padahal dia sudah lupa, dia pun hanya menjawab asal.
"Hubungi maskapai penerbangan, katakan malam ini kita akan terbang ke Yogyakarta." perintah Ken.
'Nah, aku sudah memprediksi ini, tuan muda akan membuat jadwal semaunya sendiri.' batin Lee lesu.
"Baik Tuan Muda," hanya itu yang bisa Lee katakan. Tidak mungkin akan menolak, bisa saja wajahnya akan babak belur kalau tidak sigap melaksanakan perintah.
Lagi-lagi Lee harus menghubungi pihak penerbangan. Tapi dahinya mengerut, bahkan kedua alis tebalnya sudah hampir menyatu. Sesekali melirik ke arah Ken. Dan masih terlihat gelisah.
Wajah Lee sedikit pucat, entah apa yang harus dijelaskan. "Tuan Muda, sepertinya malam ini tidak bisa melakukan penerbangan." kata Lee dengan takut.
Rahang Ken langsung mengeras. "Apa maksudmu Lee, kenapa tidak bisa!" bukan pertanyaan, tapi sebuah bentakan.
"Akh... sial!!! sial!!! bang sat!! bagaimana seperti itu Lee!"
"Aku ingin menyusul mereka saat ini juga!" Ken mencengkram kerah baju Lee. Tony yang tidak jauh memajukan tubuh untuk menghalangi, tapi Lee mengangkat tangan sebagai tanda penolakan. Biarkan saja tuan muda itu berbuat sesukanya. Lee bisa membaca, Ken tidak akan menyakitinya.
Dan benar, setelah itu Ken mendorong tubuh Lee dan melepaskan cengkraman. "Kau tidak becus!"
"Cepat pikirkan sesuatu agar aku bisa menyusul Kei malam ini juga," Ken berbalik dan memijat tengkuk leher bagian belakang. Dia pun tengah memikirkan sesuatu.
"Lee, kita berangkat saja naik kereta api seperti Kei kemarin." Ken menyeringai seolah menemukan ide yang tepat.
Lee melirik Tony, tapi Tony menggeleng dan menyodorkan selembar kertas jadwal keberangkatan kereta. Seolah kebaikan belum berpihak pada Ken, karna baru saja kereta jurusan Yogyakarta telah berangkat sekitar satu jam lalu. Dan harus menunggu besok pagi jika akan kesana menggunakan kereta.
Mengetahui itu, Ken sudah membuat kekacauan diruang itu. "Lee, bakar stasiun ini! dasar, semua tidak berguna!!" ucap Ken dengan kemarahan.
__ADS_1
Petugas yang ada disana sampai ketakutan melihat Ken mengamuk. Lee dan Tony sudah tidak bisa mencegah. Bahkan Tony mengerut disudut ruangan, takut terkena pukulan tuan Ken.
"Tuan, ayo kita pulang." Lee mendekati Ken dan mengajaknya pulang, meski keberhasilan tipis tapi Lee berusaha.
"Kau mengajakku pulang?! yang benar saja, Lee!" mata Ken seolah menyala, tidak setuju dengan usul Lee. Tapi tak ada yang bisa dilakukan.
Kertas dan barang-barang yang ada diruangan itu sudah tak berbentuk. Tony dan yang lain masih berdiri mematung ditempatnya. Belum berani membereskan kekacauan yang dilakukan si monster mengerikan.
"Tuan, kita sudah mengetahui keberadaan Nona. Tapi hanya masalah waktu, bersabarlah, besok pagi buta kita terbang ke Yogyakarta untuk menyusul Nona. Bersabarlah untuk beberapa jam saja. Sebaiknya sekarang kita pulang dan beristirahat." Lee memberi usul, meski dengan takut-takut. Mudah-mudahan Ken mau menurut.
"Ganti rugi kerusakan itu," Ken melangkah keluar. Berjalan dipinggiran stasiun. Banyak penumpang yang menunggu dengan tujuan yang berbeda-beda.
Belum terlihat Lee menyusul langkahnya, tapi dibelakang Ken ada anak buah yang mengawal kemanapun Ken melangkah.
Ken mendudukan diri dikursi kosong yang tidak terlalu ramai. Menyangga dagu dengan telapak tangan. 'Honey, Kio, Kyura, besok Dad akan menyusul kalian. Semoga kalian baik-baik saja.' batin Ken. Matanya menatap lurus ke depan memperhatikan lalu lalang orang-orang didepannya.
Hampir semalam suntuk Ken tidak tidur, tapi jam tiga pagi mami Lyra masuk kekamarnya untuk mengecek. Melihat putranya sedang gelisah, mami Lyra menemani Ken dan menyuruh Ken meminum obat supaya Ken bisa tenang. Dan benar, setelah meminum obat, Ken bisa tidur dengan damai.
Tepat pukul tujuh tiga puluh, Ken dan Lee sudah bersiap. Begitu diikuti drama Kendra Kenichi yang mengomel karna jadwal terbang molor gara-gara tidak ada yang membangunkan.
Ingin sekali Lee menggunakan lakban untuk menutup mulut Ken, supaya tidak bersuara disepanjang perjalanan.
Ken dan Lee mulai melakukan penerbangan menuju Yogyakarta.
__ADS_1
Ketika sudah didalam pesawat, hati Ken sedikit tenang, hanya sekitar dua jam saja dia bisa menemui anak dan istrinya. Ken benar-benar sudah tidak sabar.