
"Honey, aku berangkat. Tidak mencium mu, nanti saja dobel." ucap Ken terburu-buru memasukan jam tangan kepergelangan tangannya.
"Iya, Sayang." jawab Kei. Ia sedang memberi a si pada baby Kyura.
Sedetik kemudian Ken telah keluar kamar memilih menuruni anak tangga daripada menggunakan lift yang dirasa cukup lambat.
Lee yang duduk disofa ruang tamu segera bangkit setelah menangkap sosok tuan mudanya.
"Selamat pagi, Tuan Muda." membungkukkan kepala.
"Pagi, Lee." jawab Ken.
"Pagi Mi," Ken menyapa maminya yang baru datang dari arah meja makan.
"Pagi, Ken. Mana Kei dan Kyura?" tanya mami Lyra.
"Masih dikamar. Ken langsung berangkat Mi, sedikit terlambat." pamit Ken.
"Eh... kenapa nggak sarapan dulu?" mami Lyra ingin mencegah.
"Nanti saja sarapan dikantor." Ken mengajak Lee buru-buru keluar dan langsung masuk kedalam mobil.
Mami Lyra hanya menggelengkan kepala, ia kembali masuk kedalam ruang makan.
"Kenapa sepi Ma?" tanya papa Herlambang.
"Ken langsung berangkat ke kantor. Kei belum turun masih ngurusin Kyura. Kalau Kio tadi bermain sama babysisternya dihalaman belakang." mami Lyra menjelaskan semua aktivitas keluarga Ken agar Herlambang paham.
Herlambang menganggukkan kepala, dia sendiri sudah bersiap dengan pakaian rapi.
Mami Lyra berjalan mendekati suaminya untuk mengambilkan makanan. Menjadi istri yang sigap melayani kebutuhan Herlambang.
"Segini cukup?" tanya mami Lyra yang menyendokkan satu centong nasi kedalam piring.
"Sudah,"
"Kei tidak ikut sarapan?" tanya Herlambang lagi.
"Belum turun. Birkan saja, mungkin masih sibuk ngurus baby Kyura." keduanya kini menikmati sarapan pagi dengan hikmat, tanpa riuh anggota yang lain.
"Sepi juga ya, sarapan berdua." ucap mami Lyra.
Herlambang menghentikan kunyahannya. "Dulu aku sudah terbiasa. Setiap hari selalu sendiri."
__ADS_1
"Tapi sekarang sudah nggak kesepian, kan?" mami Lyra mengerling kearah suaminya. Meskipun mereka pasangan tua, namun jangan diragukan, mereka juga pasangan yang baru menikah hingga keduanya masih terbalut keharmonisan.
Herlambang mengangguk. "Terima kasih, kamu mau menerima ku." tangan Herlambang menggenggam tangan mami Lyra. Keduanya tersenyum hangat.
"Aku kira, aku akan mati dengan kesendirian. Tapi, Tuhan berkata lain. Dia mengirimkan kamu untuk menemani hari tuaku." ucap Herlambang penuh puitis.
Mereka seperti pasangan muda mudi yang sedang jatuh cinta. Bahkan pipi mami Lyra sudah merona malu karna gombalan dari Herlambang.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu. Di umur setua ini tidak terpikirkan mendapat jodoh lagi. Pikirku hanya menemani anak-anak dan cucu saja. Tapi sekarang aku harus menemanimu." ucap mami Lyra malu-malu.
"Nggak mau!!!" terdengar teriakan Kio yang berjalan mendekat.
"Tuan Muda kecil, ini bolanya sudah Mbak cuci." salah satu babysister mengejar Kio dengan membawa bola.
"Oma, Opa, bola Kio masuk kedalam got!! menyebalkan. Mbak Mbak, itu bo doh. Tidak bisa menangkap lemparan Kio." Kio mengadu pada kakek dan neneknya.
"Eh... Kio nggak boleh ngomong begitu loh sayang." mami Lyra memperingati ucapan Kio yang tidak sopan. Tapi bocah itu tidak mendengar, dengan mulut kecilnya terus menggerutu pada dua babysister yang mengasuh.
"Sayang, nanti kalau Opa pulang dari Kantor Opa belikan yang baru. Sudah, Kio nggak usah marah-marah lagi ya," Herlambang menenangkan Kio.
"Hore... Opa baik deh, makasih Opa." Kio kegirangan, lalu berlari menuju Herlambang yang sigap menangkap bocah kecil itu.
"Belikan bola berwarna merah ya, Opa." pinta Kio.
"Mas, jangan terlalu manjain Kio. Nanti keterusan ngelakuin kesalahan. Kalau salah harus diberi pemahaman atau bila perlu diberi hukuman. Nggak baik terlalu manjain cucu." mami Lyra memperingati Herlambang. Ia tidak setuju dengan sikap suaminya yang terlalu memanjakan Kio.
"Nggak pa-pa, namanya anak kecil. Wajar kalau bersikap seperti itu. Nanti kalau sudah dewasa baru kita beri pemahaman pada saat dia melakukan kesalahan." sanggah Herlambang.
Pada akhirnya mami Lyra hanya menghembuskan napas panjang. Selalu saja suaminya terlalu memanjakan Kio.
Mungkin Herlambang terlalu senang mempunyai cucu, meskipun Kio bukan keturunannya, tapi tak ayal Herlambang telah mengaggap Kio sebagai cucunya sendiri. Ia sangat menyayangi Kio.
Apapun diberikan pada cucu kesayangananya.
Pertama kali menemukan Kio dan berinteraksi dengan bocah itu Herlambang telah memiliki ketertarikan karna kecerdasan yang dimiliki Kio.
Tapi kecerdasan Kio imbang dengan sikap keras kepala dan arogan. Walau umurnya masih sangat kecil, tapi dia lah keturunan Ken. Si manusia egois, jadilah sikap itu turunan dari ayahnya.
"Sekarang Opa harus berangkat kerja dulu. Kio baik-baik dirumah, tidak boleh nakal. Oke, Bos kecil." pesan Herlambang.
"Oke Opa. Hati-hati." Herlambang menciumi pipi Kio, dan menggendongnya menuju ke pintu depan. Mami Lyra mengikuti dibelakang.
Sampai diteras, Herlambang menurunkan Kio. Setelah mami Lyra mencium punggung tangan Herlambang, pria paruh baya itu mulai berjalan menuju ke mobil. Di sana sudah ada supir pribadi yang akan mengantarkan ke kantor.
__ADS_1
"Da... dah... Opa.." Kio melambaikan tangannya. Begitupun dengan mami Lyra.
Setelah mobil yang ditumpangi Herlambang telah melewati gerbang, keduanya baru masuk lagi kedalam rumah.
Saat keduanya sampai diruang keluarga, terlihat Kei baru keluar dari lift yang ada di rumah itu.
"Mom..." panggil Kio.
Kei tersenyum, "Iya Sayang," Kei mendekat.
"Sepi Mi, Ken dan Papa sudah berangkat?" tanya Kei.
"Sudah. Ken sudah dari tadi, dia buru-buru berangkatnya tidak sempat sarapan."
"Kalau Papa baru saja berangkat." terang mami Lyra.
"Maaf ya Mi, Kei baru turun. Tadi perut Kyura mungkin sedikit bermasalah, dari tadi pup terus." kata Kei.
"Apa kita bawa ke rumah sakit? biar diperiksa sama dokter?!" mami Lyra terlihat cemas. Ia meneliti wajah Kyura.
"Nggak pa-pa Mi, tadi udah telpon dokter Sofia. Katanya suruh minumin obat dulu, kalau belum reda baru dicek ke rumah sakit."
"Apa Ken tau?!" tanya mami Lyra penasaran. Karna tadi Ken terlihat biasa saja. Biasanya jika terjadi sesuatu pada anggota keluarganya, entah hal sekecil apapun, si tuan over itu akan kalang kabut untuk mengambil tindakan yang berlebihan.
"Enggak lah Mi, kalau tau tidak mungkin dia masuk kantor. Kasihan sekretaris Lee yang harus menggantikan pekerjaan Ken."
"Sini Kyura biar sama Mami, kamu sarapan dulu." mami Lyra mengambil alih Kyura dari gendongan Kei.
"Makasih ya Mi," ucap Kei.
Mami Lyra mengangguk.
"Kio sudah sarapan, Nak?" Kei beralih bertanya pada putranya.
"Belum," jawab Kio.
"Loh, kok belum sarapan? ini udah lewat jam sarapan pagi. Mbak nggak nyuapin Kio?"
"Kio nggak mau makan dengan Mbak. Mbaknya bo doh. Menyebalkan." kata Kio.
"Eh .. siapa yang ngajari ngomong kasar begitu?! nggak boleh. Kalau Io ngatain Mbak seperti itu lagi, nanti Mom hukum. Mau!!" Kei memandang serius kearah Kio. Bocah itu menggeleng.
"Yang ajarin ngomong itu Dad. Dad sering mengatakan itu pada Paman Lee sama orang-orang lainnya." jawab Kio.
__ADS_1
Kei menghembuskan napas panjang. Awas saja kalau Ken sudah pulang dari kantor, dia akan menyiapkan ceramah panjang lebar.