
Berjarak 3hari dari pemeriksaan awal kini Ken kembali mengantarkan Kei untuk melakukan operasi. Sedari tadi Kei hanya diam, saat ini mereka sedang diperjalanan menuju ke Rumah Sakit.
"Tidak perlu seperti itu, kita akan tetap lakukan sesuai jadwal." Ken melirik.
"Aku sudah bilang nggak mau!" berbicara manyun tapi tidak bisa menolak atau membantah.
"Haaah... wanita itu makhluk paling menyusahkan. Dikasih kemudahan tapi menolak." Ken menggeleng. Kei mendengus sebal. 'Kau bersikap semaumu tuan muda. Sebenarnya apa maksudmu melakukan ini! huh, membuatku bingung. Apa dia sudah tau kalau aku yang mendonorkan ginjal lalu dia ingin membalas budi? apa Tante Lyra memberitahukannya? ck... susah sekali membaca pikiranmu.'.
"Kenapa berdecak seperti itu! kamu marah padaku? mengumpat, kesal padaku!" sudah marah dan menggeser duduknya. Kei menghela nafas, memutar bola mata. Dia selalu saja arogan, tidak mau memahami orang. Orang lainlah yang harus memahami sikapnya yang aneh. Hoho... Kei sabar sabar.
"Tidak, kenapa suka sekali berasumsi sendiri, aku berdecak karna lidahku sariawan." Kei berbohong mencari aman saja, agar urusan cepat selesai dan lelaki itu tidak terlalu lebay.
"Sariawan? kenapa bisa?" Ken langsung menoleh.
"Ya bisalah tuan, mungkin semua orang bisa terkena sariawan."
"Nanti di Rumah Sakit minta obat sekalian. Mana bisa canduku terkena sariawan."
"Candu?" Kei tidak mengerti maksut Ken.
"Ah, sudah lupakan."
Sekretaris Lee si pendengar setia hanya tersenyum setiap kali mendengar obrolan penumpang dibelakangnya.
"Lee..!!" suara Ken terdengar kesal. Dia tau sekretarisnya itu sedang menertawainya.
"Iya tuan muda. Maaf."
"Sehari 30kali kau mengucap itu."
__ADS_1
'Lalu aku harus mengucap apa tuan muda? kau yang memang tidak terbantahkan.' Lee ikut kesal dengan sikap tuan mudanya yang seenaknya sendiri, tetapi apa daya dia hanya bawahan saja.
Mobil sudah sampai didepan rumah sakit, Lee turun lebih dulu untuk membukakan pintu. Mereka berjalan masuk, sebelum turun tadi Kei sudah menyiapkan masker seperti kemarin agar tidak ada yang mengenali wajahnya. Entahlah berdekatan dengan tuan Ken membuat nyalinya menciut dia tau suaminya itu orang yang berpengaruh, banyak orang mengenalinya jika tau tuan Ken mempunyai istri seperti dirinya bisa saja tuan Ken menjadi gosip seluruh Negeri.
Setelah melakukan prosedur Kei akan dibawa keruang operasi, meski sudah pernah masuk keruang itu tetap saja merasa gugup dan tegang. Meremas jemari dan menghirup udara agar sedikit rileks.
Ken mendekat, Kei mendongak menatap wajah suaminya. Tangan Ken terangkat memegangi kedua pipi Kei.
"Tenang, tidak perlu takut. Semua pasti baik-baik saja." mata Kei berkaca-kaca, merasa tenang mendengar kalimat yang diucapkan tuan Ken. Andai selalu bisa mendapat perhatian seperti itu, tetapi tidak ingin berangan jauh. Dia takut semua hanya semu, bayangan semu yang akan menjauh dan menghilang. Kei menunduk, tak tau seperti apa perasaannya sendiri. Dia hanya ingin menangis. Ken memeluk dan memberi ketenangan, namun Kei semakin terisak. Teringat ucapan seseorang, jika aku sudah sukses aku akan membiayai operasi kakimu. Tapi setelah sukses lelaki itu mencampakkannya dengan kejam. Kini keinginan nya terpenuhi oleh lelaki lain, lelaki yang dulu membencinya.
"Sstt... kenapa menangis?" Ken menghapus airmata itu dan bertanya lembut. Baru kali ini Kei mendengar suara lembut itu, andai dia suami normalnya sudah pasti saat ini sangat bahagia. Sekuat tenaga Kei mengatur perasaan agar tidak terlalu jatuh hati dengan tuan Ken, jika suatu saat mereka berpisah dia tidak akan terlalu bersedih.
"Tidak, hanya teringat almarhum ayah dan ibu. Mereka pasti sangat senang jika aku berjalan normal." Kei menunduk sedih. Tidak sepenuhnya berbohong, kedua orang tuanya dulu sangat mengharapkan putri semata wayangnya itu bisa berjalan normal tetapi karna terkendala biaya sampai Kei besar masih belum bisa mengupayakan tindakan operasi.
"Begitu, awal kamu sangat menolak." Ken masih ragu dengan alasan Kei.
"Apa yang aneh, jangan terlalu dipikirkan."
Perawat datang memberitahukan bahwa operasi akan segera dilakukan.
"Tenang saja. Aku akan menunggu." Ken menggenggam tangan Kei, Kei mengangguk dan tersenyum. Hatinya tenang mendengar ucapan itu meski entah itu tulus atau hanya kata bohong.
Ken menunggu diluar ruangan dia menyuruh Lee untuk memundurkan semua jadwal pentingnya hanya demi menunggu Kei. Dari lorong terdengar high heels menggema, Tante Lyra berjalan menuju Ken yang duduk dikursi tunggu. Meski ada ruangan khusus tapi tuan muda itu ingin menunggu didepan ruangan operasi.
"Ken, operasi nya sudah berjalan?" Ken mengangguk.
"Sayang, mami berterimakasih akhirnya kamu mengupayakan kesembuhan kaki Kei." Tante Lyra mengelus bahu Ken.
"Setelah bersama, memang benar kata mami, dia baik dan tulus untuk itu Ken melakukan itu."
__ADS_1
"Kamu benar Ken, kamu sangat benar. Dia wanita yang berbeda dari kebanyakan, dia tulus, dia mempunyai hati yang mulia. Dia memang pantas mendapat perlakuan baik."
"Dari awal mami sangat yakin, apa ada sesuatu yang mami sembunyikan?" Ken bertanya penasaran. 'Mami memang menyembunyikan sesuatu Ken, sesuatu yang besar yang menyelamatkan nyawamu. Tetapi mami tidak bisa memberitahu karna mami sudah berjanji, semoga suatu saat Kei mau mengakui dengan sendirinya agar kamu tau bahwa satu ginjal mu itu milik Kei.' Tante Lyra melamun.
"Mi..."
"Ah, iya.. tidak! mami tidak menyembunyikan apapun. Mami tidak ada rahasia apapun."
Beberapa jam menunggu dokter sudah keluar.
"Operasinya berjalan lancar tuan." kata dokter.
"Alhamdulillah..." Tante Lyra mengucap syukur dan sangat gembira.
"Lalu, bagaimana Kei?" Ken bertanya.
"Nona sebentar lagi akan dipindah keruang rawat. Anda bisa menjenguk disana, tetapi saat ini masih belum sadar. Mungkin sekitar 3jam lagi nona sudah sadar."
"Harusnya kau tidak terlalu banyak memberi dosis suntik bius agar Kei segera sadar." kata Ken dengan nada yang sedikit sinis. Tante Lyra dan Lee sama-sama melihat kearah Ken.
"Maaf tuan, kami melakukan sesuai prosedur. Memang seperti ini, setelah 3jam nona baru akan sadar." dokter memberi keterangan, namun dihati merasa kesal sendiri. Semua yang dilakukan memang sesuai prosedur, profesi sebagai dokter tidak bisa seenak sendiri semua sudah ada aturan. Ken hanya membuang muka.
"Eum, dokter maafkan anak saya. Dan terima kasih atas usaha dokter sudah melakukan operasi untuk menantu saya."
"Tidak apa-apa nyonya, ini sudah tugas saya. Anda tidak perlu mengucap terima kasih."
"Hah.. 3jam itu sangat lama, aku harus membuang waktu berharga selama itu." Ken merasa kesal sendiri. Sikap Ken memang aneh.
"Nyonya saya permisi masih ada pasien lain." dokter ingin mencari aman tidak mau terlalu lama berada didekat tuan Ken.
__ADS_1