Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Rencana yang hampir berhasil


__ADS_3

Suatu hari, ketika Akio tak henti mengecek nomor Naya, pria itu dikejutkan dengan sesuatu yang tak disengaja.


Zee ... foto profile whatsApp Zee tertampil pada layar ponselnya. Akio sangat terkejut, itu artinya Zee sudah membuka blokiran nomornya.


Akio membuka pesannya yang dulu dia kirim ke nomor Zee, dan semua sudah tertanda centang biru. Zee sudah membuka pesannya.


Akio segera menghubungi nomor itu, tetapi tidak di jawab, dia lakukan berkali-kali, tapi sepertinya Zee memang tidak mau menjawab. Setelahnya dia mengirim pesan permintaan maaf.


Tidak ada maksud apapun, dia ingin meminta maaf atas kesalahannya dulu terhadap Zee. Entah Zee akan memaafkannya atau tidak. Dia berharap hubungannya bisa diperbaiki, sebagai saudara, adik, maupun sahabat.


Selang beberapa hari, Akio kembali dikejutkan dengan sebuah pesan masuk dari ponselnya. Pesan itu dari Zee yang menanyakan tentang kabarnya.


Sungguh, hal itu membuat Akio terbelalak kaget. Benarkah itu dari Zee. Terjeda beberapa waktu, dan akhirnya mereka mulai saling berkabar lewat pesan singkat.


Sejauh mereka berkabar, Zee tidak mengizinkan Akio menghubunginya, dia hanya ingin berkabar melalui pesan saja. Selain itu, Zee meminta agar Akio tidak melacak keberadaanya. Suatu saat bila dia sudah siap, dia akan memberitahukan di mana dia berada.


Mereka berkabar hanya sebagai pesan biasa, tanpa membahas orang lain, maupun membahas Naya. Akio hanya menghargai Zee. Bagaimanapun Zee pasti masih sakit bila membahas Naya. Itu pikirnya. Tanpa Akio tahu, semua berbeda dari yang dipikiran Akio.


*


Tiga bulan berlalu.


Seorang perempuan tengah duduk di sebuah bangku kosong. Rutinitas yang sering dilakukannya sepanjang hari. Kehamilannya sudah semakin sempurna, perutnya semakin membuncit namun berat badannya tidak mengalami perubahan signifikan.


Seorang perempuan lain berjalan mendekat dengan gerakan tergesa-gesa. "Aku harus pergi, ada kuliah pagi."


"Iya, hati-hati."


Tak lama, seorang pemuda juga terlihat menyusul langkah Zee. Dia berhenti sejenak di hadapan perempuan itu. "Kak, aku juga harus pergi. Kakak hati-hati."


"Harusnya kamu yang hati-hati, Faskieh, bukan aku."


Faskieh menyengir. "Kakak harus hati-hati karena Kakak cuma sendiri di apartemen. Kalau ada apa-apa, hubungi nomorku segera," pesannya.

__ADS_1


"Siap." Perempuan itu mengembangkan senyum.


Bukan hal mudah Naya bertahan bersama mereka. Apalagi ketika dulu dia harus mempergigih keinginannya untuk meluluhkan hati Zee dan mau mengabulkan permintaan terakhirnya.


Terakhir, karena setelah menyerahkan anaknya kepada Zee, dia akan pergi.


Jika di tanya, sanggupkah berpisah dengan darah daging yang dikandung selama sembilan bulan lebih?


Jawabannya, tidak akan sanggup. Tetapi sebuah tekad, mengalahkan segalanya. Hal berat pertama sudah dia lalui meski tertatih dengan luka, yaitu berpisah dengan Akio. Luka yang ke dua pun dia pasti bisa melalui. Meski harus menangis darah, semua takkan mempengaruhi tekadnya.


Malam hari ketika mereka bertiga sedang menikmati makan malam. Ponsel milik Zee memecah keheningan mereka. Zee berusaha abai, dia tidak menjawab telepon karena tahu siapa yang menghubunginya.


Satu kali, ke dua kali, ke tiga kali. Zee masih abai. Dia sesekali melirik ke arah Naya.


"Kak, teleponnya berisik banget. Angkat, gih. Siapa tahu penting," ujar Faskieh merasa terganggu dengan suara deringan ponsel Zee.


"Apa sih! Biarin aja," jawab Zee bersungut.


Mungkin penasaran, bagaimana Naya bisa tinggal bersama mereka.


Awalnya Naya menolak, tetapi kondisi badan yang melemah membuatnya tak ada pilihan lain. Untuk mencari rumah sewa pun dia tidak memiliki uang. Sampai saat itu Dina belum juga mengirimi uang penjualan rumah, karena ternyata rumah itu belum laku dijual. Dina hanya memberi beberapa uang dari sisa gajinya untuk membantu Naya di sana.


Faskieh sendiri sangat membutuhkan uang untuk pengobatan kekasihnya, dia tidak mungkin menghentikan pengobatan itu demi Naya. Akhirnya dia memilih menawari Naya untuk berbagi apartemen.


Semakin hari, Zee semakin luluh melihat keadaan Naya yang tidak kunjung sehat. Kebencian dan hatinya yang keras mulai luluh dengan keadaan.


Dan, sekira lamanya satu bulan Naya tinggal bersama Faskieh. Zee mulai menanggapi keberadaan Naya, mulai membuka diri untuk berbicara ringan dengan perempuan itu.


Semakin lama, Zee bisa menilai, Naya memang baik dan tulus. Zee mulai nyaman dan semakin dekat, hingga akhirnya mengizinkan Naya untuk tinggal bersamanya.


Bukan hal mudah bagi Zee maupun Naya sendiri untuk berdamai, setelah mereka memiliki riwayat bersama dengan orang yang sama. Memiliki riwayat pernah bersama dengan Akio.


Namun, keduanya mencoba saling ikhlas, mencoba memaafkan dan berdamai dengan waktu.

__ADS_1


Sempat beberapa kali Zee menyuruh Naya kembali ke Indonesia, tetapi beberapa kali juga Naya menolak keras. Dia ingin melahirkan di sana.


Zee pernah menyuarakan sudah merelakan Naya untuk kembali kepada Akio, dan mengatakan kepada Naya agar tidak terbebani lagi dengan rasa bersalah, namun semua itu sudah tidak bisa mempengaruhi pikiran Naya. Dia justru berbalik membujuk Zee agar mau kembali kepada Akio.


"Jawab saja, Zee. Aku tidak pa-pa. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Akio," ucap Naya.


Deg! Zee menoleh ke arah Naya. Perempuan itu tahu kalau yang menghubunginya adalah kak Io.


Ponsel sudah tidak berdering, tetapi berganti dengan pesan masuk. Mata Zee membeliak ketika membacanya.


"Maaf Nay, aku harus menjawab teleponnya," ucap Zee meminta izin. Naya mengangguk.


"Halo ...? Bagaimana dengan Al? Apa dia terluka parah?" Zee terlihat khawatir. Tetapi orang di seberang justru tertawa.


'Maaf Zee, aku harus berbohong supaya kamu mau menjawab telepon.'


"Hah? Keterlaluan kamu, Kak. Jadi, kamu cuma bohongin aku? Ngeselin!"


'Kalau nggak gini, sampai bertahun-tahun kamu nggak mungkin mau menjawab. Ini ide dari daddy juga.'


"Ah, rese! Kamu ingkar janji, Kak."


'Eh, tunggu! Jangan dimatikan dulu. Aku ingin bicara langsung seperti ini. Sebentar saja.'


"Mau bicara apa? Kita udah bicara lewat pesan."


Naya yang tak sengaja mendengar pembicaraan Zee dan Akio, menunduk dalam. Kedua sudut matanya lembab dengan cairan, bahkan detik berikutnya sudah menetes.


'Kenapa mataku mengeluarkan air mata? Ini yang kamu inginkan, hati. Ini yang kamu perjuangkan selama ini. Harusnya kamu senang, sebentar lagi rencanamu berhasil menyatukan mereka kembali.'


"Merelakan itu sangat sulit, Kak. Berhenti berkorban, jika hatimu sudah tidak sanggup."


Naya menoleh. Faskieh menatapnya dengan iba. Naya segera membersihkan air matanya. "Aku masih sanggup, Faskieh. Aku pasti sanggup. Lihat, betapa hubungan mereka masih kuat. Mereka akan kembali seperti dulu."

__ADS_1


"Lalu Kakak?"


"Aku ... aku mencari kedamaian ku sendiri."


__ADS_2