Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Melegakan.


__ADS_3

Lee yang baru saja selesai membersihkan diri sedang bercermin dengan menyisir rambutnya. Jadwal hari ini ia akan datang kekantor lebih dulu sebelum datang lagi kerumah sakit, tapi sebelum semua dilakukan ponsel diatas meja berdering memekakkan telinga, segera tangannya menyambar ponsel itu dan menggeser layar berwarna hijau.


Lee tidak memperhatikan siapa nama penelpon itu, setelah mendengar suara Ray yang begitu panik saat menjelaskan keadaan dirumah sakit ia segera menutup telpon dan bergegas menyambar kunci mobil. Setengah berlari menuruni anak tangga dan akan mencari keberadaan Dewi yang ternyata masih berada didapur. Sebelum menghampiri istrinya, lebih dulu Lee mengatur nafas dengan sebaik mungkin tidak ingin menunjukan kepanikannya didepan Dewi yang akan menambah kekhawatiran Dewi tentang kondisi Kei, sahabat istrinya itu.


"Istri..." panggil Lee selembut mungkin menutupi kepanikannya. "Iya Suami." Dewi menjawab panggilan suaminya, tangannya yang tadi sibuk mengelap pinggiran kompor kini ia hentikan dan beralih melihat kearah suaminya yang berdiri tepat dibelakangnya.


"Aku berangkat kekantor dulu." pamit Lee. Meski ia ingin segera berlari keluar rumah dan segera datang kerumah sakit tapi ia harus menahan diri agar istrinya itu tidak curiga dan tidak berpikir yang aneh-aneh.


"Iya, hati-hati... Nanti kalau pulang, aku ingin dibelikan Siomay yang mangkal didekat Kantor ya." pesan Dewi. "Oke istriku. Suamimu ini akan membelikan yang kau inginkan. Ya sudah aku berangkat sekarang, bye bye..." Lee mendekati tubuh Dewi dan memberikan kiss seperti biasanya saat ia akan pergi.


Dewi tersenyum lebar dan mengantarkan suaminya sampai didepan pintu, bahkan kakinya enggak beranjak sebelum melihat mobil suaminya itu pergi meninggalkan Apartemen mereka.


Ketika mobil yang ditumpangi sudah keluar dari halaman Apartemen, Lee menekan pedal gas dan menambah laju kecepatan mobilnya. Pikirannya panik dan tegang, pikiran itu tertuju pada kondisi Kei dan tuan mudanya.


Sampai didepan rumah sakit segera berlari menuju keruang rawat Kei. "Tuan Ray, bagaimana?"


"Keadaan kakak ipar mengalami penurunan." Ray menunjukan raut kesedihan. "Dimana tuan muda?" saat ini yang Lee khawatirkan adalah tuan mudanya, pasti tuan Ken sangat terpuruk melihat kondisi istrinya semakin menurun.


Mami Lyra yang duduk disamping Ray masih terisak, tidak perduli dengan kehadiran Lee.

__ADS_1


"Kakak tadi minta kunci mobil dan pergi entah kemana, aku tidak tau. Aku tidak berani mencegahnya, kamu tau sendiri kakak seperti apa." jawab Ray. Pikiran Lee sangat kacau, dia takut terjadi sesuatu pada tuan mudanya. Dimana dia harus mencari tuan Ken?


Dia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nomor tuan Ken. Berkali-kali melakukan tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Beruntung otaknya masih bisa encer, segera mencari nomor seseorang dan menyuruhnya untuk melacak nomor tuan Ken.


Dokter yang menangani Kei terlihat keluar dari ruangan itu, segera semuanya mendekat. Mami Lyra sangat berantusias bertanya. "Dokter, bagaimana keadaan Kei dan calon cucu saya?" harap-harap cemas menunggu dokter membuka mulut.


Sebelum menjelaskan dokter itu menghela nafas. Berada diruangan rawat itu seperti berada diujung tanduk. Sebelum keluar dokter tadi sudah merasa was-was jika dirinya akan berhadapan dengan tuan Ken, tapi kenyataanya tuan over itu tidak ada. Untuk itu dokter bisa sedikit bernafas lega.


"Detak jantung Nona Kei tadi sempat terhenti, setelah kami mengupayakan tindakan dengan defribrilator detak jantung Nona Kei kembali normal. Nyonya tidak perlu khawatir lagi, mudah-mudahan tidak lama nona Kei bisa segera sadar. Kita tetap berdo'akannya." kalimat yang didengar dari dokter barusan membuat mami Lyra, Ray dan juga Lee bernafas lega. Sedetik kemudian rasa khawatir yang berlebihan tadi telah sirna.


Satu orang yang harus segera diberitahu tentang kondisi Kei, yaitu tuan Ken. Lee harus bertindak cepat menemukan tuan mudanya. Terus mengamati ponsel yang digenggam, menunggu ahli IT untuk melacak nomor tuan Ken.


"Baik Nyonya besar, saya permisi." pamit Lee dan melangkah pergi. Tanpa mami Lyra menyuruhnya, dia sudah dari tadi kepikiran untuk mencari keberadaan tuan Ken. "Hah...Toni, kerjamu lelet sekali! kau tidak tau ini darurat. Aku harus segera mencari tuan Ken." dijalan menuju keluar rumah sakit Lee berbicara sendiri tanpa fokus melihat jalanan, kedua mata itu menyorot layar ponsel.


Tring...Tring...


Akhirnya yang ditunggu-tunggu menghubunginya, Lee langsung menggeser layar berwarna hijau. "Katakan, dimana keberadaan tuan Ken?" tanpa basa-basi, Lee langsung bertanya pada intinya.

__ADS_1


"Aku melihat sinyal ponsel tuan Ken berada dirumahnya sendiri." jawabnya. "Oke..." Lee memutuskan sambungan telpon secara sepihak dan mulai mengendarai mobil menuju kerumah tuan Ken.


Memacu dengan kecepatan tinggi mobil itu sudah sampai dihalaman rumah tuan Ken. Dilihat mobil Ray memang terparkir dihalaman depan dengan tidak beraturan. Dia segera melangkahkan kakinya menuju kekamar tuan Ken.


Tok...tok... "Tuan muda... Tuan muda...!" Lee mengetuk pintu dan memanggil-manggil tuan Ken, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Memutuskan untuk masuk saja. Ketika membuka pintu ternyata tuan Ken sedang tertidur pulas dengan posisi terduduk dilantai dan menyandarkan tubuhnya dipinggiran ranjang. Penampilannya sungguh berantakan, bahkan bukan seperti tuan Ken yang biasanya.


Kali ini tiada yang melegakan bagi Lee selain melihat keadaan fisik tuan mudanya baik-baik saja. Meski Lee tau perasaan dan hati tuan Ken saat ini sedang terpuruk, tapi setidaknya tuan muda yang arogan itu tidak melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri.


Lee tidak ingin mengganggu tidur tuan Ken, ia lebih memilih duduk disofa dan menunggu sampai tuan Ken terbangun dengan sendirinya.


Untuk membunuh kebosanan, Lee membuka ponsel dan melihat-lihat daftar pekerjaannya.


Hampir satu jam tuan Ken masih memejamkan mata, ketika Lee akan berdiri tubuh tuan Ken bergerak. Lee mengurungkan niat untuk turun kebawah, dia tau tuan Ken akan segera bangun.


Dan benar saja, mata tuan Ken mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke-retina mata.


"Lee.." tuan Ken menyadari keberadaan sekretarisnya itu. "Tuan muda," Lee bersikap tenang. "Sejak kapan kau dikamarku? dan kenapa kau menungguku?" nada bicara tuan Ken terdengar biasa saja.


"Sejak satu jam yang lalu tuan muda. Saya tadi kerumah sakit mencari anda, tapi anda tidak ada."

__ADS_1


"Aku lelah Lee." raut wajah tuan Ken terlihat frustasi, bahkan tuan mudanya itu seperti tiada semangat untuk hidup. Lee mendekat dan membantu tuan Ken berpindah keatas ranjang.


"Tuan muda, saya membawa berita yang mungkin bisa membuat anda tidak begitu khawatir. Detak jantung Nona Kei sudah kembali normal."


__ADS_2