Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kenapa Kamu Pergi


__ADS_3

Sesampainya di rumah Naya, Akio langsung mengetuk pintu tidak sabaran. Dia ingin bertemu dan memastikan keadaan Naya baik-baik saja.


"Nay, buka pintunya. Nay ...!!!"


Brak ... brak ...! Karena tidak sabaran, ketukan itu berubah menjadi gedoran keras. Beberapa tetangga samping kiri-kanan sampai keluar rumah, demi mengetahui apa yang terjadi.


Namun Akio tidak peduli, rasa cemas membuatnya semakin gencar ingin menghancurkan pintu di depannya.


"Nay, kamu di dalam kan? Jawab aku, Nay?! Apa terjadi sesuatu padamu? Nay ...!" Akio menendang pintu dengan keras, namun tak sampai roboh.


Dia berbalik dan melihat ke arah supirnya. "Sejak kapan Naya masuk ke dalam?"


"Sekitar pukul 2 siang tadi, Tuan," jawab sang supir dengan suara pelan karena ketakutan.


"Selama itu dan Anda tidak berbuat apapun?! Bagaimana terjadi sesuatu dengan istriku? Kenapa Anda tidak profesional menjaga istriku?!" sentak Akio dengan rahang mengeras.


"Maafkan saya, Tuan. Mohon maafkan kelalaian saya. Sa-saya tadi ketiduran."


"Apa?!" Akio mengusap wajah gusar. "Aku tidak akan memaafkan Anda kalau sampai terjadi sesuatu pada Naya!" Ingin sekali Akio melayangkan tinju untuk pria lebih tua darinya itu, namun sikapnya tak sekejam sang ayah yang tempramental. Dari kecil hingga dewasa dia tidak pernah melakukan kekerasan.


"Sekarang bantu aku dobrak pintu itu!" perintah Akio.


"Baik Tuan."


Tak ada jalan lain, Akio tak memikirkan apapun. Yang terpikirkan hanya mendobrak pintu dan melihat ke adaan Naya di dalam.


Dobrakan pertama pintu masih kokoh terkunci rapat. Tak patah semangat, mereka terus berusaha mendobrak pintu hingga akhirnya terbuka.


Akio berlari masuk ke dalam kamar. Dan ... jantungnya berdetak tak karuan mendapati kamar Naya tak ada siapapun. Tubuhnya membeku di depan pintu, kalau Naya tidak ada di dalam. Lalu ... kemana Naya pergi?


Tidak lama supir yang mengantar Naya ikut menyusul Akio, pria itu sangat terkejut tidak menemukan nona mudanya di dalam.


"Nay ... di mana kamu, Nay?" Akio berbalik menuju dapur. Nihil, tak ada siapapun. Lagi, mencari ke setiap sudut ruangan namun tetap tidak ada siapa-siapa. Ya Tuhan ... kemana kamu, Nay?

__ADS_1


Akio berjalan cepat menemui supirnya kembali. "Apa kamu yakin, Naya masuk ke rumah ini? Di mana istriku? Kenapa tidak ada di manapun!" berang Akio dengan kilatan tajam. Kewarasan dan kesopanannya hampir menghilang.


"Yakin, Tuan. Nona berpesan pada saya untuk menunggu di sini, setelah itu nona masuk ke dalam. Saya melihatnya sampai nona menutup pintu."


Ingin sekali Akio meneriaki pria tua itu dengan kata bodoh! "Kenapa Anda tidak menjaganya di depan pintu!"


"Maaf, ini ada apa?" Salah satu tetangga Naya yang dulu sempat mengantar Naya ke rumah sakit, tiba-tiba menghampiri.


"Saya sedang mencari Naya. Tadi dia datang ke mari, tapi tidak ada." Akio menjelaskan dengan suara normal, tidak meninggi seperti tadi.


"Oh, Naya ...?"


"Iya. Apa ibu tahu Naya kemana?" Akio berharap ada titik terang keberadaan istrinya. Mungkin saja istrinya sedang berkunjung ke rumah ibu itu atau tetangga lainnya. Yah ... dia berharap begitu. Dia akan segera menjemputnya.


"Tadi ibu lihat Naya keluar lewat pintu belakang. Pas saya panggil dan tanya dia mau kemana, katanya mau pindah ke tempat jauh. Tapi dianya cuma bawa tas kecil. Setelah itu Naya pergi lewat jalan pintas yang ada di jalur belakang rumah," terang ibu tadi.


Keterangan barusan membuat tubuh Akio melemas. Tapi tidak dengan detak jantung yang justru bertalu-talu tak karuan.


"Ibu tidak sempat tanya lagi, soalnya dia terlihat buru-buru."


Akio membuang napas berat. "Terima kasih, Bu. Saya akan melanjutkan untuk mencari Naya."


"Oh iya, silahkan-silahkan."


Akio berjalan mengikuti jalan setapak di belakang rumah Naya. Ternyata gang kecil itu tertembus langsung pada jalan raya. Dia berjalan dengan pemikiran berkecamuk. Kemana Naya pergi, dan alasan apa membuatnya pergi. Pikiran Akio buntu, tak terpikirkan alasan apapun.


Dia terus menyusuri jalan, tak lupa menanyai setiap pejalan kaki, apakah mereka sempat melihat Naya berada di sekitaran sana, sore tadi. Foto Naya sedang tertidur dia jadikan sebagai petunjuk, agar mudah mengenali lewat wajahnya.


Namun, semua itu tak membuahkan hasil. Orang-orang tidak melihat Naya ada di sekitar sana. Sebagian lagi tidak mengenali wajah yang ditunjukan.


Akio terduduk lemas di atas trotoar. Tidak memperdulikan keadaan sekitar, ada beberapa orang menatapinya dengan aneh. Sungguh dia tak peduli.


Suara panggilan Allah mengundang merdu dari masjid-masjid besar yang ada di sekitar sana. Langit mendung bercampur mega hitam membuat hari hampir gelap gulita. Penerangan jalan sudah dinyalakan.

__ADS_1


Pikiran Akio semakin kacau, hari telah berganti petang. Lalu kemana Naya pergi? Kemana dia harus mencari. Satu-satunya tempat dia tahu hanya rumah Naya yang dulu, selain itu Akio tidak tahu tempat yang sering dikunjungi istrinya itu.


Sudah tak terhitung dia membasuh wajah beberapa kali. Dia tak tahu lagi harus bagaimana.


Keadaan yang lelah dipaksa lagi untuk berjalan, seolah tak patah semangat untuk kembali mencari Naya.


"Pak, maaf, apa bapak tadi melihat wanita ini berjalan di sekitar sini?" Akio bertanya lagi dengan seorang bapak-bapak pedagang bakso keliling, siapa tahu bapak itu sempat melihat.


Bapak yang ditanya itu sedang mengingat-mengingat.


"Dia sedang hamil, Pak, perutnya sedikit membesar," ujar Akio mengatakan ciri-ciri fisik Naya.


"Bapak kayak melihat sekilas, tapi tidak tahu pasti wanita tadi yang kamu cari atau bukan. Mata bapak ini sudah sedikit kabur, jadi agak kurang jelas. Tapi wajahnya sedikit mirip dengan yang di foto ini." Bapak itu menunjuk ke layar ponsel Akio.


"Apa wanita yang bapak lihat tadi membawa tas kecil?" tegas Akio menyorot penuh harap.


"Benar. Iya, sepertinya tadi bawa tas kecil."


"Iya benar itu, Pak. Bapak tahu wanita itu kemana?"


"Sepertinya dia menaiki mobil taksi. Tapi bapak nggak tahu ke mana tujuannya. Yang bapak tahu Mobil itu dari arah timur menuju ke barat."


Lagi-lagi tak ada petunjuk lebih spesifik. Namun dari keterangan beberapa orang tadi, sudah jelas bahwa Naya sengaja pergi.


Akio berkeliling sampai pukul 11 malam. Tak menghiraukan keadaanya yang sudah tidak ada kerapian sama sekali. Perut keroncongan dengan sendi-sendi berdenyut juga dia abaikan.


Pikirannya hanya tertuju pada Naya dan calon anak mereka.


Pak Jupri ikut mencari keberadaan Naya, tetapi tidak berani berdekatan dengan Akio. Dia mengikuti dengan jarak beberapa meter.


Setelah kembali lagi ke rumah Naya, Akio menyuruh supir untuk menyetir mobilnya. Lalu mobil yang satu lagi di tinggal di sana. Dia sudah tak ada daya untuk menyetir mobil.


Kenapa kamu pergi, Nay?

__ADS_1


__ADS_2