
Apa yang harus Ken lakukan, setelah Kio terbangun ia langsung menangis mencari dirinya.
Ken langsung menghampiri. "Eum jagoan Dad sudah bangun. Kenapa menangis?" tanya Ken.
"Dad jangan pergi." pinta Kio.
"Dad tidak pergi. Dad disini nemenin Io." Ken mendekap tubuh putranya.
Setelah Kio tenang, ia memberanikan diri untuk mengorek lebih dalam tentang permasalahan Kio yang tidak mau punya adik.
"Io, Dad mau tanya. Kenapa Io nggak mau punya adik?"
Bocah kecil itu menggeleng, "Io nggak mau punya adik, nanti Dad dan Mom nggak sayang lagi sama Io. Io marah sama Mom dan adik bayi." sentakn nya marah.
"Hei, kenapa berpikiran seperti itu, Hem? dengar, Dad dan Mom tetap sayang denganmu. Kau jagoan Daddy dan Mommy walau Kio punya adik bayi, kami tetap sayang sama Io."
Kio terus memperhatikan Ken, mengedipkan mata beberapa kali. Bocah itu belum memberikan jawaban.
"Kau putra Dad yang pertama, kau akan tetap menjadi kesayangan dan kebanggaan kami. Mengerti?"
Akhirnya kepala Kio mengangguk, tanpa jawaban, tanpa keyakinan. Ia pun seperti terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Anak pintar. Kio kangen nggak sama Mom? mau nggak jenguk Mom dirumah sakit." Ken membujuk. Ia berharap putranya mau diajak kerumah sakit.
Ia masih cemas dengan keadaan Kei, apakah istrinya masih bersedih?
Selain itu, ia juga sangat merindukan Kei. Beberapa jam tidak melihat wajah istrinya membuat rasa rindu menumpuk.
"Kio mandi dengan babysister, Dad juga ingin bersiap. Oke..."
Meski tanpa semangat tapi bocah kecil itu mengatakan Oke.
Ken menggendong Kio untuk keluar kamar, mencari keberadaan babysister dan menyuruhnya untuk mengurus Kio. Setelah itu, ia sendiri kembali kekamar untuk bersiap-siap.
Berapa lamanya bersiap kini sudah selesai. Ayah dan anak itu sudah bersiap untuk kerumah sakit.
"Kita mampir ke Mall beli bunga buat Mom, ya," ajak Ken. Sebenarnya Ken ingin mengembalikan mood putranya dengan membelikan mainan dan makanan kesukaannya.
Lagi-lagi Kio hanya mengangguk. Ia menjadi anak pendiam.
__ADS_1
Berhenti di Mall, Ken mengajak Kio jalan-jalan, mengajak ke tempat permainan khusus anak kecil tapi bocah itu tidak mau. Seolah keceriaannya menghilang.
Beberapa kali Ken menghembuskan nafas, benar-benar membutuhkan tenaga extra. Ternyata sangat susah mengurus anak kecil membutuhkan kesabaran yang besar untuk menghadapi tingkahnya yang polos tapi susah untuk dibujuk.
Meski Ken membelikan banyak mainan dan barang-barang yang disukai Kio tapi senyum bocah itu terlihat tidak sepenuh hati. Ken tak melihat keceriaannya lagi.
Sampai dirumah sakit, segera menuju keruang rawat Kei. Istrinya sedang berbaring miring dan dibujuk oleh mami Lyra.
"Honey," Ken muncul dibalik pintu.
"Kio..." Kei langsung duduk dan ingin beranjak menghampiri putranya.
Ken mencegah, dengan langkah lebar ia menghampiri Kei. Kio mendekap tubuh Ken hingga menghadap kebelakang, kepalanya enggan untuk menoleh.
"Kio, Sayang. Sini dengan Mom." pinta Kei dengan penuh harap.
Kio diam saja, tidak menjawab dan tetap tidak mau menoleh.
"Sayang, Lihatlah, anak kita membenciku." ucap Kei. Airmatanya sudah berderai.
"Ssstttt, anak kita hanya butuh waktu." tangan Ken menghapus airmata Kei.
Tuan muda yang biasa arogan dan dingin harus kebingungan untuk menenangkan anak atau istrinya. Mami Lyra mencoba merayu Kio agar mau berpindah gendongan, beruntung Kio mau menganggukkan kepala.
Mami Lyra mengajak Kio keluar.
Ken segera mendekati Kei dan merengkuh tubuh istrinya. Kei terlihat lemas dengan menangis tersedu-sedu dan terdengar menyayat hati. Sungguh Ken tidak tega.
"Sstt, diamlah. Putra kita baik-baik saja, setelah suasana hatinya membaik, dia akan kembali dekat denganmu." Ken mengelus rambut Kei.
"Aku sangat sedih, bagaimana bisa, Kio membenciku. Dia tidak mau dekat denganku." ucap Kei disela tangisnya.
"Sampai kapan dia seperti itu? aku tidak ingin jauh darinya. Kau harus lakukan sesuatu. Kau harus membujuknya." wajah Kei mendongak, mengiba kepada suaminya sendiri. Perasaannya sebagai ibu harus tersayat karna penolakan dari putranya.
"Aku sudah memberikan pengertian, tapi Io masih kecil kita tidak bisa memaksanya. Biarkan sementara waktu seperti itu, dengan pelan dia pasti bisa mengerti. Ini hanya salah paham, dia berpikir kita akan melupakannya. Untuk itu dia marah padamu." terang Ken.
"Jangan menangis, aku tidak suka melihat airmata mu." Ken kembali menghapus airmata Kei. Airmata yang mengalir deras dipipi pucatnya.
Hal yang paling dibenci Ken adalah saat melihat Kei kesakitan dan menangis. Ia berada diposisi yang membingungkan. Rasa bahagia akan memiliki keturunan lagi harus terabaikan dengan keadaan yang cukup sulit.
__ADS_1
"Aku nggak menyangka Kio sampai semarah itu saat tau aku hamil. Harusnya seumuran dia, merasa senang memiliki adik, tapi Kio sebaliknya."
"Aku juga kesulitan memberikan dia pengertian. Sikapnya seperti ku, sedikit keras."
"Iya lah, dia 'kan keturunanmu." sindir Kei dengan melirik.
"Aku belum menyapa si kecil," ucap Ken. Tangan kanan terulur untuk mengelus perut Kei. Meski perut itu masih datar, tapi ada nyawa yang tumbuh, beberapa bulan lagi akan membuncit dan bergerak-gerak tak beraturan. Ken tidak sabar menunggu itu.
"Kapan dia akan membesar, aku tidak sabar ingin merasakan tendangannya."
"Ini baru berumur satu bulan, masih banyak bulan lagi."
"Semoga saja dia tidak membawa pengaruh buruk," ucap Ken.
"Apa maksudmu?" tanya Kei keheranan dengan ucapan Ken.
"Maksudku, semoga kau tidak mengidam hal yang aneh."
Kei tersenyum, ia tau Ken takut dengan aksi ngidam yang aneh. Tapi dia juga tidak bisa memprediksi. Keinginan ngidamnya muncul secara dadakan, tanpa adanya rencana.
Melihat Kei tersenyum, Ken ikut tersenyum. Rasa khawatir yang membelenggu tadi sudah terbayar saat melihat istrinya baik-baik saja. Tapi entah saat Kio nanti datang dan masih marah pada Kei, pasti akan bersedih lagi.
"Kalau senyum begitu sangat cantik," ucap Ken.
Kei menanggapi dengan tersipu malu.
"Aku ingin pulang, tidak mau berlama-lama dirumah sakit." pinta Kei.
"Tunggu persetujuan dari dokter, baru boleh pulang."
"Aku tidak betah lama-lama disini," Kei merengek.
"Keihana Kazumi! jangan membantah, jika dokter belum mengizinkan pulang, kau tidak boleh pulang."
'Cih.. apa yang aku harapkan dari lelaki arogan ini, dia tidak akan berubah.' sungut Kei dalam hati. Mulut yang tadi menyunggingkan senyum kini menjadi cemberut.
Ken sangat gemas, ia beranjak dan langsung menyerang candu yang sangat ia rindukan. Mengulum dengan dalam dalam, merasakan kenikmatan yang selalu didamba.
"Uhuk...uhuk.." Lee yang terkejut sampai terbatuk-batuk. Tak sengaja membuka pintu dan langsung disuguhi adegan 16. Menyebalkan.
__ADS_1