
Hari-hari begitu cepat untuk dilalui, 2minggu-pun sudah terlewati dengan berbagai aktivitas. Apalagi untuk sepasang dua manusia yang akan mengikat janji suci, hari-hari sebelumnya disibukkan dengan persiapan sebelum pernikahan, seperti mengurus surat-surat yang dibutuhkan ke kantor KUA. Membeli kebaya, karna pernikahan itu hanya sederhana maka Dewi memilih untuk memesan kebaya putih. Meski hanya model kebaya, tentu bukan kebaya abal-abal. Kebaya yang didesain khusus dari butik terkenal diJakarta.
Dirumah sederhana itu kini tengah sibuk menyiapkan segala tempat dan dekor kecil-kecilan. Itu semua sesuai keinginan Dewi, tidak perlu mengadakan pesta, bahkan teman kantor tidak ada satupun yang tau selain keluarga tuan Ken.
Pagi ini bukan hanya Dewi saja yang sedang sibuk berhias, tapi ibu hamil itu lebih sibuk lagi. Dari bangun tidur Kei sudah merajuk kepada suaminya. Tuan Ken sendiri sudah frustasi dengan keadaan, putus asa menuruti semua keinginan aksi ngidam semakin hari semakin aneh.
"Huhu... pokoknya aku juga mau didandani seperti mbak Dewi!" Kei merajuk, pura-pura menangis diatas ranjang. Tuan Ken baru selesai mandi, Kei sendiri sudah mandi lebih dulu. "Kau jangan menginginkan yang aneh-aneh Honey, kau tidak bilang sebelumnya. Waktunya juga sudah tidak banyak lagi, mereka sudah akan melakukan ijab qobul."
"Terserah, nggak mau tau, aku ingin didandani seperti mbak Dewi." keinginan ibu hamil itu tidak bisa dinegosiasi. Tuan Ken membuang nafas, tidak berdaya dengan keinginan istrinya.
Tok...tok...
"Masuk..!" Ken setengah berteriak menyuruh seorang yang mengetuk pintu untuk masuk. Mami Lyra yang muncul dari balik pintu, berjalan masuk mendekati anak dan menantunya.
"Ken, Kei, kalian belum bersiap? bukankah sebentar lagi acaranya akan segera dimulai." tanya mami Lyra, menatap Ken dan Kei bergantian. "Kei menginginkan sesuatu, mi." jawab Ken singkat, tidak melihat kearah istrinya sama sekali. "Kamu menginginkan apa, sayang?" mami Lyra bertanya kepada Kei.
__ADS_1
"Aku ingin didandani seperti mbak Dewi, mi. Biar aku cantik seperti princes-princes." Kei memasang wajah imut. Mami Lyra tidak bisa menahan senyumannya. "Ya sudah, kamu tinggal dandan yang cantik saja nanti sudah mirip princes,"
"Tapi Kei ingin berdandan seperti pengantin, pokoknya sama seperti mbak Dewi. Pakai jasa rias dengan kebaya putih." mami Lyra melirik kearah Ken. Tuan Ken mengangkat bahu sebentar, dia juga tidak tau. Bukan karna uang yang harus dikeluarkan untuk menyewa jasa rias atau untuk memesan kebaya yang diinginkan Kei hanya saja durasi yang seperti dibatasi, maka itu tuan Ken merasa bingung.
"Baik sayang, mami akan atur semuanya. Sebentar ya..." mami Lyra mengambil ponsel yang disimpan ditas mahalnya. Terlihat sibuk menghubungi seseorang. Ken merasa lega saat mami Lyra ikut mengatasi keinginan Kei, dia segera menuju keruang ganti untuk berpakaian.
Tidak berapa lama, ada beberapa orang yang datang dan bersiap merias ibu hamil itu. Kebaya putih sudah ada, mami Lyra mempunyai banyak koneksi teman-teman yang memiliki salon dan juga butik. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menuruti keinginan Kei, mereka hanya perlu menyiapkan kocek yang lumayan karna pekerjaan yang mendadak itu.
Tuan Ken yang sudah bersiap sedang menunggu disofa. Tadi sebelum berganti Kei menyuruh tuan Ken memakai jas berwarna hitam seperti yang dipakai sekretaris Lee.
"Hem..." tuan Ken berdehem, ternyata sedang menerima panggilan dari sekretaris Lee yang menanyakan posisinya.
"Apakah istriku masih lama?" Ken bertanya kepada orang yang sedang merias Kei. "Sebentar lagi Ken." mami Lyra yang menjawab.
"Lee menyuruh kita segera datang, ijab qobul akan segera dimulai." Ken memberitahu. "Iya, tinggal sedikit lagi."
__ADS_1
Dan benar saja, hanya beberapa menit menunggu kini Kei sudah siap. Kei berdiri dan membalikan tubuhnya menghadap kearah tuan Ken. "Sayang..." dengan tersenyum manis Kei memanggil suaminya yang tidak sadar jika dia telah selesai dirias. Ken yang sedang fokus dengan layar ponsel segera menoleh kearah Kei yang tadi memanggilnya. Dan... Tara.... tuan Ken pun terkejut, terkejut melihat penampilan istrinya yang sudah selesai dirias seperti pengantin.
Tuan muda itu membeku, kedua mata elangnya terus menatap Kei yang begitu cantik dengan penampilan seperti itu. Tuan muda itu terpesona dengan kecantikan istrinya, dengan wajah full make-up dan juga memakai kebaya yang sangat pas membetuk tubuhnya yang semakin berisi semenjak hamil.
"Sayang kenapa diam saja, aku sudah selesai." kata Kei menyadarkan kesadaran tuan Ken. "Oh...iya Baby..." tuan Ken gugup, dia berdiri dan membenarkan jasnya yang sedikit berantakan, berjalan mendekati istrinya. "Kau sangat cantik, Honey. I love you, my wife." Ken berbisik ditelinga Kei, membuat Kei merinding nikmat, Kei tersenyum cerah setelah mendengar kata pujian dari suaminya.
Tidak membuang waktu mereka segera berangkat kerumah Dewi. Beberapa kali Lee terus menghubungi tuan Ken. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini mobil sport tuan Ken terparkir dijalan depan dan lagi terpaksa mereka berjalan masuk kedalam gang rumah Dewi.
Setelah sampai, rumah berukuran sedang itu sudah ramai dengan perkumpulan orang yang akan menjadi saksi dipernikahan Lee dan Dewi.
Kedatangan tuan Ken dan Kei menyita perhatian orang-orang, mereka semua fokus melihat kearah dua pasangan yang berhias seperti pengantin juga. Lee berdiri untuk menyambut bos-nya itu, dan setelah itu kembali duduk diposisi yang sama. Pak penghulu yang baru kembali dari kamar mandi malah mengambil posisi didepan taun Ken dan menjabat tangannya. "Apakah pengantin pria sudah siap?" pak penghulu bertanya. Sekretaris Lee dan Dewi terbengong. Sedangkan tuan Ken segera melepas jabatan tangan itu, menatap tajam. Penghulu itu mengerutkan dahi, merasa tidak suka dengan perlakuan tuan Ken yang tidak sopan. Tetapi apa perduli tuan Ken, dia dingin dan angkuh.
"Pak penghulu, pengantin prianya saya bukan tuan Ken. Tuan Ken ini atasan saya." Lee menjelaskan. "Oh... Anda pengantin prianya? penampilan kalian hampir sama, saya bingung karna pengantin prianya ada 2. Dan saya pikir mas ini pengantinnya." kata pak penghulu itu, dia menggeser duduknya menjadi didepan Lee.
"Lalu pengantin wanitanya yang mana? kenapa kalian berpakaian mirip? apakah mas dan mbak juga mau ijab qobul?"
__ADS_1
"Hei... kami sudah menikah bahkan istri saya sudah hamil. Kita berpakaian seperti ini karna istri saya sedang ngidam ingin memakai pakaian yang sama seperti pengantinnya." panjang lebar tuan Ken berbicara, orang yang biasa irit bicara harus menjelaskan sepanjang itu sudah tau bagaimana ekspresi tuan Ken? tentu kesal dan emosi.
Beberapa orang yang ada diruangan itu saling berbisik dan menahan senyum. Mereka tidak berani bebas berekspresi karna melihat raut wajah tuan Ken yang begitu dingin, mereka sudah merasa segan sekaligus merinding.