
Rumah sakit dengan bangunan yang sangat megah dan senantiasa berbau obat-obatan itu nampaknya masih belum mengizinkan Nona muda dari tuan Ken untuk pulang. Hingga pagi keempat Kei masih berbaring tak berdaya diranjang kesakitannya. Jenuh, tentu saja. Bosan, itu yang dirasakan. Mau bagaimana lagi dokter masih belum mengizinkan Kei pulang.
Tentu para dokter tidak ingin ambil resiko jika membiarkan nona muda itu pulang, jika terjadi sesuatu yang berbahaya para dokter juga akan terkena imbas meski tidak tau apa-apa. Itulah hebatnya tuan Ken, tidak mau tau dengan nasib para dokter.
Tuan Ken sedang membersihkan diri dikamar mandi yang ada diruang Kei.
Seorang perawat juga sedang membersihkan badan Kei dengan handuk kecil yang dibasahi dengan air hangat lalu mulai mengusap bagian tangan. Tuan Ken baru saja keluar, kini berjalan mendekat. "Kau keluarlah." tuan Ken menyuruh perawat itu untuk keluar. "Baik, tuan." perawat itu membungkuk sebentar sebelum pergi. Tapi tuan Ken menghentikannya. "Tinggalkan itu." tuan Ken menyorot mangkuk berbahan stainless yang sedang dibawa perawat tadi.
Perawat itu mengangguk dan menaruhnya kembali diatas nakas, setelah itu berlalu dari sana.
Tuan Ken melalukan seperti yang dilakukan perawat tadi, mengusap badan istrinya dengan lembut. Kei memperhatikan apa yang dilakukan tuan Ken, terus menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ada apa?" tuan Ken bertanya lembut. "Tidak ada apa-apa. Kenapa kau mau melakukan ini?" Kei berganti bertanya. "Maksutmu?" tuan Ken tidak mengerti, fokus dengan apa yang dikerjakan.
"Kenapa mau repot-repot mengurusku? biarkan perawat saja yang melakukan ini." Kei tidak enak hati jika suaminya turun tangan mengurus hal yang tidak pernah tuan Ken lakukan.
"Ini tidak merepotkan. Ini kemauan ku sendiri, aku memang harus mengurusmu. Kau istriku, kau saja rela membahayakan dirimu demi calon anak kita, kenapa hal seperti ini aku tidak bisa lakukan." panjang lebar tuan Ken memberi penjelasan.
Kei terhenyak mendengar kalimat itu. Inikah sisi lain dari seorang Kendra Kenichi, sosok hangat dan sangat perduli? tapi selama ini Kei belum melihat sisi itu. Kei benar-benar terpaku dengan sikap tuan Ken barusan, begitu perhatian dan telaten mau merawatnya.
Menerawang jauh ke masa lampau, dimana pertama kali bertemu dengan pria didepannya ini. Begitu dingin dan kejam, setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti pisau tajam selalu berhasil membuat hatinya terluka karna hinaannya. Tapi kini pria yang menjadi suaminya ini sudah berubah, Kei tidak menyangka perubahan tuan Ken sebesar ini.
Rasa cintanya saat ini bertambah, siapkah jika ia harus meninggalkan tuan Ken?
__ADS_1
Hatinya begitu takut, saat melahirkan nanti ia takut gagal berjuang. Siapkah meninggalkan cintanya?.
"Terimakasih sudah menjadi suami yang terbaik." Kei mengucapkan dengan tulus.
"Aku yang harusnya berterimakasih, kau mau berjuang demi melahirkan malaikat kecil kita." tuan Ken tersenyum, setelah selesai dirinya duduk dipinggiran ranjang Kei menyisir rambut Kei. Tuan Ken benar-benar merawat istrinya dengan baik.
Hati Kei sangat bahagia, apa yang diucapkan suaminya selalu kata-kata indah bahkan pujian. Kei sangat bersyukur berada disaat seperti ini mendapat perhatian yang penuh dari orang-orang terdekat.
Mami Lyra dan Ray sudah datang, mereka lebih dulu mendekat keranjang Kei. "Pagi sayang. Bagaimana keadaanmu?" mami Lyra berdiri disamping Kei. "Baik Mi. Mami pagi-pagi sudah datang kesini?" Kei menunjukkan senyum untuk mertua yang sangat baik padanya.
"Mami sudah tidak sabar ingin melihat kondisimu. Bagaimana dengan cucu mami, apakah baik juga?" mami Lyra mengelus perut Kei, tertawa ketika mendapat respon gerakan kecil dari calon cucunya.
"Kakak ipar, aku ingin merasakan tendangan calon keponakanku. Boleh?" Ray juga ingin mengelus perut kakak iparnya. Sebelum itu mata tuan Ken sudah bagai busur panah yang siap menembus buruannya.
"Kau ini Ken...Ken..." mami Lyra hanya menggelengkan kepala melihat keduanya.
"Kau juga Ray, kalau ingin mengelus perut wanita hamil, cari istri dulu baru kau bisa merasakan tendangan janin didalam perut istrimu sendiri." mami Lyra mengatakan itu tidak dengan serius, hanya untuk mencairkan suasana.
"Aku belum kepikiran buat nikah, Mi. Aku ingin mengelilingi dunia dan bebas melakukan apapun yang aku mau." jawab Ray santai.
"Kau lupa, setelah lulus kuliah tidak akan bebas!" seolah tuan Ken ingin mengingatkan kembali tentang obrolan penting malam itu. Ray menghela nafas.
"Ken, kau jangan terlalu mengekang kebebasan adikmu. Biarkan ia menikmati masa mudanya." mami Lyra ikut andil pembicaraan itu.
__ADS_1
"Mami jangan terlalu memanjakan dia. Ray bukan lagi anak ABG, dia sudah dewasa Mi. Sudah waktunya dia belajar mandiri dan bertanggung jawab." tuan Ken ingin menghentikan pergaulan Ray yang sudah cukup bebas. Dia tidak ingin adiknya lebih terjerumus dalam pergaulan bebas seperti remaja sekarang. Dia tau itu hanya akan merusak hidup Ray.
"Iya mami tau, tapi jangan terlalu berlebihan. Mami percaya denganmu, kau pasti tau yang terbaik untuk adikmu." kata mami Lyra.
"Kau tidak keKantor?" mami Lyra kembali bertanya. "Tidak Mi. Semua biar diurus Lee. Dia yang akan membawakan berkas kantor. Aku harus mengawasi istriku yang sedikit bandel." ketika mengatakan kata 'bandel' tuan Ken melirik kearah Kei.
Tok...tok...
Lee masuk kedalam, penampilannya sudah rapi dengan pakaian formal. Dia harus menggantikan tugas tuan Ken diKantor, tapi karna ada urusan mendesak Lee terpaksa menyusul tuan Ken kerumah sakit.
"Tuan muda, Nyonya Besar." Lee membungkuk sebentar. "Ada apa, Lee?" Ken bertanya. Pasti ada sesuatu, karna tadi Lee sudah menelpon jika dirinya hari ini akan masuk kekantor.
"Tuan muda, ada sesuatu yang harus saya beritahukan." kata Lee sedikit lirih. Tuan Ken mengangguk dan berjalan menuju kesofa yang lumayan jauh. Mami Lyra dan Ray mengajak Kei mengobrol.
Terlihat Lee dan tuan Ken sedang membicarakan sesuatu yang penting, seketika raut wajah tuan Ken berubah merah seperti menahan amarah.
"Mi, tolong jaga Kei sebentar. Aku ada urusan dikantor." tuan Ken menitipkan Kei untuk dijaga mami dan juga adiknya.
"Iya Ken, kau sudah beberapa hari tidak pergi keKantor. Pergilah, ada Mami dan Ray yang akan menjaga Kei."
"Honey, kau tidak apa jika aku tinggal sebentar? tidak lama, setelah selesai aku akan segera kembali."
"Tidak pa-pa, sayang. Pergilah, hati-hati."
__ADS_1
Ken mendekat dan mencium kening Kei sebelum berlalu dari sana.