Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Saling Menyalahkan Diri Sendiri.


__ADS_3

Cukup lama Ken berada diruang khusus bersama sektretaris Lee, kini sudah didepan pintu ruang rawat Kei dan segera masuk, mendekat keranjang dan duduk samping Kei yang memejamkan mata. Meneliti luka dipipi istrinya dengan cermat, tangan kanannya menggenggam kuat. Jika orang yang melukai Kei itu seorang laki-laki sudah pasti Ken akan menghajarnya sampai sekarat. Tetapi sayang, orang yang melukai Kei seorang perempuan dia tidak bisa menyentuhnya.


'Kei, kenapa kau berbohong? kenapa kau menutupi hal besar dariku? kau meragukanku? kau pikir aku tidak bisa melindungi mu? kau tidak tau betapa khawatirnya aku jika kau kesakitan seperti ini! aku ingin menghajar diriku sendiri karna tidak bisa menjagamu.' Ken berkata dalam hati.


Saat Kei sudah sembuh dia akan mengajukan pertanyaan yang dia pendam, dia ingin tau alasan apa yang Kei berikan untuk kebohongannya. Ken tidak tega harus memaksa Kei menjelaskannya sekarang karna dia tau Kei akan kembali terluka.


Kei sudah terbangun, pertama yang dilihatnya tuan Ken yang menatapnya dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan. Melihat itu Kei sudah sangat ketakutan, pasti tuan Ken akan memberinya pertanyaan bertubi-tubi. Walaupun tadi sudah menyiapkan mental tetapi ketika berhadapan langsung seperti ini sungguh membuat Kei merinding dengan hawa menyeramkan dari tuan Ken.


"Tu-tuan..." Kei menahan sakit diujung bibir sebelah, dia tidak bisa berbicara normal karna sudut bibirnya bengkak. Tangan Ken terangkat untuk mengelus rambut Kei, Kei memejamkan mata dikira tuan Ken akan memukul kepalanya. Setelah merasakan elusan lembut Kei memberanikan diri untuk membuka mata.


"Kau kenapa? aku tidak akan menyakitimu." Ken berkata dengan lembut, Kei menatap wajah suaminya. Wajah yang beberapa saat lalu dingin dan menyeramkan sekarang sudah tidak ada, hanya ada tatapan sayang dimatanya. Namun Kei masih ragu untuk menyimpulkannya sendiri.


"Tuan, maafkan aku..." belum selesai Kei mengakhiri kalimatnya, Ken sudah menyahut.


"Sttt,,, kau masih sakit tidak perlu banyak bicara. Jika masih lelah, tidurlah." Kei menggelengkan kepala.


"Sudah waktunya makan siang, sebentar lagi Lee akan membawakan makanan. Huh..." diakhir kalimat Ken menghembuskan nafas kasar, sulit menyembunyikan perasaannya. Tidak tega melihat Kei yang terus menerus terluka, dalam hati terus menyalahkan dirinya sendiri.


Kei bangun dari tidurnya dan bersandar diranjang, tubuhnya tidak sakit, bahkan luka diwajahnya pun tidak terasa sakit, tetapi entah mengapa melihat tuan Ken yang bersikap beda membuatnya lebih sakit. Kei tau tuan Ken pasti kecewa dan sakit karna telah ia bohongi. Bukan hanya tuan Ken yang menyalahkan dirinya sendiri, Kei melakukan hal yang sama yaitu menyalahkan dirinya sendiri atas kebohongan besar yang dia simpan. Keduanya saling diam, hanya detak jam dinding yang memecah kesunyian.


Sekretaris Lee datang bersama perawat yang mendorong troli makanan, mendekat dan menata didepan tuan Ken dan nona Kei.


Ponsel disaku jas milik Ken berbunyi, Ken mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Aku keluar sebentar." setelah mengatakan itu Ken langsung beranjak keluar. Perawat yang menyiapkan makanan ikut berlalu pergi karna tugasnya sudah selesai.


"Sekretaris Lee,"

__ADS_1


"Anda masih sakit nona, tidak perlu berbicara."


"Huh, kenapa semua orang suka berlebihan. Aku tidak apa-apa, aku lebih sakit melihat tuan Ken berbeda seperti itu!" Kei terlihat kesal.


"Tuan muda berbeda karna sedang menutupi perasaanya nona, bukan hanya anda yang sakit dia lebih sakit dari pada anda."


"Benarkah?"


"Tuan Ken terluka dengan kebohongan yang anda simpan, ditambah melihat keadaan anda yang terluka membuat tuan Ken terus menyalahkan dirinya sendiri karna merasa tidak bisa menjaga anda." Lee berbicara lirih, dia takut tuan Ken tiba-tiba masuk.


Deg...


Kei diam mematung, benarkah yang dikatakan sekretaris Lee bahwa tuan Ken lebih terluka darinya. Kei meneteskan airmata merasa sangat bersalah, mengetahui itu Lee sangat panik.


"Nona, saya mohon jangan tunjukan kesedihan anda didepan tuan Ken. Dia bisa menggila lagi, dia akan kembali khawatir." Kei segera menghapus air matanya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Kei bertanya.


Pintu terbuka Ken masuk masih terlihat berbicara lewat ponselnya, seperti sedang melakukan Videocall. Mendekat keranjang Kei dan memberikan ponsel itu kepada Kei. Kei segera menerima dan melihat kelayar, ternyata mami Lyra yang ada dilayar itu. Saat sudah saling bertatapan lewat panggilan Videocall, mami Lyra terlihat sangat terkejut melihat keadaan Kei.


"Kei tidak apa-apa, mi." Kei tau mami Lyra pasti khawatir.


"Ya Tuhan, sayang... bagaimana bisa wajah kamu terluka seperti itu? siapa yang berani menyakiti menantuku! kurang ajar, aku pasti akan membalasnya. Tunggu kepulangan mami, mami akan membalasnya untukmu Kei." mami Lyra terlihat khawatir dan marah bersamaan.


"Mami tidak perlu memikirkan itu, tidak perlu membalasnya biar Tuhan yang akan membalas."


"Dia sudah berani melukaimu, mami akan membalasnya lebih dari itu! pembalasan dari Tuhan itu bonus buat dia, kita harus melakukan tindakan." mami Lyra terlihat menggebu-gebu, sedetik kemudian kembali khawatir.

__ADS_1


"Sayang, lukamu harus mendapat penanganan. Semoga lekas sembuh ya, maaf mami belum bisa kembali baru beberapa jam mami sampai disini terlalu lelah jika harus terbang lagi ke Indonesia."


"Mi, bicaranya cukup. Kei butuh istirahat." Ken merebut ponselnya dan ingin menyudahi videocall dari maminya.


"Huh, dasar kau ini Ken. Mami masih ingin bicara dengan Kei!" terdengar nada bicara mami Lyra yang sedang kesal.


"Ken tutup telponnya." tanpa mendengar jawaban dari mami Lyra, Ken langsung menutup panggilan videocall.


"Lee, kau tidak makan siang?"


"Tidak tuan muda, saya ada urusan sebentar. Permisi." Lee berpamitan, hanya ingin memberi ruang kepada tuan Ken dan Kei agar bisa bersama.


"Makanlah," Ken mengulurkan tangan untuk menyuapi Kei. Kei menurut, teringat dia harus menuruti perintah tuan Ken.


"Tuan tidak makan?" sedari tadi Ken menyuapinya tetapi tidak menyuapi dirinya sendiri.


"Kau saja, agar segera sembuh." tuan Ken benar-benar terlihat aneh. Tidak seperti sebelumnya, kekecewaan mengubahnya menjadi pendiam untuk sementara waktu.


"Setelah ini aku ingin pulang."


Tak..


Ken menaruh sendok dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras, Kei terlonjak sudah sangat ketakutan.


"Kei! menurutlah, ikuti perintahku dan jangan membantah! aku ingin kau cepat sembuh, jika aku belum mengizinkan kau pulang berarti kau tidak bisa pulang. Mengerti!" dengan cepat Kei mengangguk.


"Maafkan aku, jika menakutimu, aku hanya khawatir."

__ADS_1


Cup.. Ken mengecup kening Kei dengan lembut.


"Setelah ini kau istirahat. Aku ada urusan, aku hanya pergi sebentar." Kei mengangguk lagi. Ken memberikan senyuman, agar Kei tidak lagi merasa takut. Kei membalas tersenyum.


__ADS_2