
Menunggu beberapa jam, dokter sudah berjalan masuk keruang perawatan tuan Ken membawa lembaran hasil pemeriksaan.
Ken sendiri sudah terbangun dan sedang bersandar diranjang ke-sakitannya.
"Selamat sore tuan, Ken." dokter menyapa ramah, biasanya para dokter dan perawat ketakutan saat merawat keluarga tuan Ken atau tuan Ken sendiri, tetapi saat ini mereka sedikit lebih rileks karna tuan dingin dan arogan itu tidak akan mungkin membentak atau berbicara dengan nada dingin karna mulutnya sedang terluka. Ken menganggukkan kepala.
"Hasil pemeriksaan sudah keluar tuan, untuk pemeriksaan rahim nona Kei hasilnya sedikit kurang baik, rahim nona Kei tidak begitu subur karna itu kemungkinan nona Kei membutuhkan waktu sedikit lama supaya memiliki keturunan. Tapi bukan berati nona Kei tidak bisa punya anak atau mandul, nona Kei masih bisa punya anak. Masih ada kemungkinan 60persen nona Kei bisa hamil, kita juga bisa melakukan progam hamil. Progam hamil bisa mempercepat masa kehamilan, dengan menjaga kesehatan dan menjaga pola makanan nanti dokter kandungan yang akan menjelaskan lebih detail." Dokter menjeda ucapannya sebentar, membuka lembaran yang lainnya.
"Untuk pemeriksaan bekas jahitan, benar tuan bahwa nona Kei pernah melakukan operasi pengangkatan sebelah kanan ginjalnya. Luka jahitan itu diperkirakan baru beberapa bulan yang lalu. Untuk masa kehamilan seorang wanita dengan hanya memiliki 1ginjal ada resikonya, biasanya akan mengalami preeklampsia, yang merupakan jenis tekanan darah tinggi yang terjadi pada masa kehamilan. Ada juga bayi lahir prematur dan juga terkena diabetes gertasional itu yang umum terjadi, tetapi ada juga yang tidak mengalami itu jika terus berkonsultasi masalah kesehatan. Nona Kei baru beberapa bulan mendonorkan ginjalnya saya sarankan agar nona Kei menunda kehamilannya, karna ada kemungkinan bekas jahitan akan kembali terbuka." panjang lebar dokter itu menjelaskan. Ken mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama, ada perasaan senang dan bingung dibenak Ken. Senang, karna ternyata Kei masih punya kesempatan untuk hamil dan itu 60persen yang berarti banyak kemungkinan berhasil. Ken bertanya-tanya Kei mendonorkan ginjalnya untuk siapa? hanya sekilas teringat bahwa dulu dia juga pernah mendapat pendonor ginjal dan itu juga disebelah kanan. Sampai sekarangpun dia tidak mengetahui orang baik hati yang sudah mendonorkan ginjalnya dengan suka rela, maminya selalu mengelak dan tutup mulut jika dia menanyakan tentang pendonor itu.
Ken terdiam sejenak, mencerna dua pernyataan itu. Tersadar dari lamunan Ken meminta hasil pemeriksaan itu dan akan menyimpannya, setelah Kei dan dirinya bisa berbicara dia akan menanyakan semuanya.
Dokter lelaki itu permisi untuk keluar, Ken menganggukkan kepala. Setelah dokter keluar, Ken kembali menatap mami Lyra. Mami Lyra mengalihkan pandangannya.
Perawat datang dan membuka kedua daun pintu dengan lebar, tenyata untuk memindahkan Kei agar menjadi satu ruangan seperti perintah tuan Ken. Perawat mendorong brankar Kei dan menempatkan disebelah ranjang tuan Ken.
Mata Ken tidak lepas dan terus tertuju pada wajah istrinya yang sangat dia rindukan, wajah itu terlihat pucat.
Ken mengetik sesuatu dan memberikan ponsel kepada Lee. "Suruh 10 pengawal untuk berjaga didepan pintu!" Lee membaca dan mengangguk.
"Tuan muda, saya akan pergi sebentar untuk mengambil pakaian dan juga laptop agar tetap bisa memantau keadaan Kantor." Ken mengangguk.
__ADS_1
Mentari baru saja menampakan sebagian sinarnya dengan malu-malu, belum memberikan cahaya yang terang. Kei baru saja terbangun, mengerjapkan mata dan melihat sekeliling. Mami Lyra tertidur disampingnya, dan disebelah kanan ada suami yang juga masih terlelap. Seluruh wajahnya terdapat luka, Kei teringat kejadian perkelahian antara tuan Ken dan Tristan. Air matanya menetes begitu saja, perkelahian itu terjadi karna dirinya.
Tidak lama Ken juga terbangun, seluruh badannya terasa kaku dan kram ketika menoleh kearah Kei istrinya itu sedang meneteskan airmata. Ken menggeleng, "Kau kenapa?" menahan rasa sakit disudut bibir dan menanyakan penyebab Kei menangis.
"Tuan tidak apa-apa, tuan terluka begitu parah gara-gara aku." Kei berbicara lirih. Ken menggeleng dan tersenyum, "Ini bukan salahmu." Kei ingin bangun tetapi perut bekas jahitan itu berdenyut nyeri hingga mendesis kesakitan. Mami Lyra terbangun.
"Kamu kenapa sayang, luka bekas jahitannya sakit?" mami Lyra bertanya dan menekan tombol dokter. Tidak berapa lama dokter dan perawat sigap menghampiri ruangan itu, ruang rawat dengan ruang dokter hanya berjarak 3 ruangan saja hingga dokter bisa segera datang.
"Ada apa Nyonya?" dokter dan 2perawat datang.
"Hei... biarkan perawat wanita yang memeriksa perut istriku!" Ken mengatakan dengan pelan tapi tetap saja dokter yang mendengar kata itu sebagai ancaman, dokter itu menyerahkan tugas pemeriksaan kepada 2perawat. Dia berganti menghadap kearah tuan Ken dan juga ingin memeriksa keadaan sudut bibirnya karna tuan Ken sudah bisa berbicara.
Perawat sudah selesai memeriksa dan mengoles obat pendingin.
"Tuan, anda jangan terlalu memaksa untuk berbicara."
"Bibirku sudah tidak apa-apa!" Ken menatap tajam. 'Gawat, jika tuan Ken sudah bisa bicara siap-siap saja jika melakukan kesalahan sedikit saja tuan dingin itu akan memberi ancaman.'. dokter itu menggerutu dalam hati.
"Baik tuan, anda bisa melakukan yang anda inginkan anda boleh berbicara apapun yang terpenting jangan dipaksa."
__ADS_1
"Hem..." Ken hanya berdehem, mengalihkan pandangan melihat kearah istrinya lagi.
"Bagaimana istriku, apa lukanya baik-baik saja?" bertanya lirih.
"Luka nona Kei baik tuan, kami sudah mengoles gel pendingin agar bekas jahitan itu tidak terasa panas dan nyeri."
"Kalau begitu kami permisi dulu tuan, 2jam lagi kami akan melakukan pengecekan." Ken mengangguk, dokter dan perawat meninggalkan ruangan itu.
"Kau sudah baik-baik saja." Ken bertanya pada Kei. "Harusnya aku yang menanyakan itu pada tuan." Kei membalikan pertanyaan.
"Aku seperti ini karna kau selingkuh dengan Tristan!" meski lirih tetapi masih terdengar mengerikan bagi Kei.
"A-aku tidak berselingkuh dengannya tuan, anda salah paham." Kei membantah. Mami Lyra yang baru keluar dari kamar mandi mendekati mereka.
"Ken, kalian baru saja sadar jangan membahas masalah itu dulu." ucap mami Lyra.
"Baiklah, jawab satu pertanyaanku. Untuk siapa kau mendonorkan sebelah ginjalmu!" Ken sudah tidak sabar mengetahui hal itu.
Deg... Kei terkejut mendengar pertanyaan tuan Ken. Bagaimana tuan Ken mengetahui itu? memandang kearah mami Lyra tetapi dia menggelengkan, Ken tahu keduanya sedang memberi kode. Ken mengambil surat pemeriksaan dan memberikannya kepada Kei.
__ADS_1