Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kau Akan Baik-Baik Saja, Sweety.


__ADS_3

"Aku pergi dulu." tuan Ken ingin mengakhiri pertemuannya hari ini, ia bisa bertemu dengan Tristan kapanpun. Yang terpenting keduanya sudah berbaikan dan kembali berteman. Saat ini pikirannya masih tertuju kepada Kei, ia tidak bisa lebih lama meninggalkan istrinya.


"Kau tidak ingin merayakan kembalinya persahabatan kita?" Tristan masih ingin berbicara tentang banyak hal, ia ingin mengajak Ken untuk merayakannya.


"Lain kali saja, aku masih ada urusan." meski sudah berteman. Tapi tuan Ken yang memang tidak banyak bicara, ia akan berkata seperlunya saja.


"Ayolah, urusan apa yang lebih penting dari persahabatan kita?" Tristan setengah memaksa. Dulu, sesibuk apapun, Ken tidak pernah menolak ajakannya. Dia lupa bahwa temannya itu sudah memiliki istri, kedudukan istri lebih utama dibanding urusan lain.


"Aku harus kerumah sakit, Kei pasti sudah menungguku." jawabnya.


"Kei dirumah sakit? memang sakit apa?" Tristan bertanya.


"Terlalu panjang jika aku ceritakan, yang jelas saat ini kondisi Kei dan calon anakku sedang lemah." ada sorot kesedihan saat mengatakan itu.


Tangan Tristan berganti menepuk pundak tuan Ken.


"Ternyata kau sudah akan menjadi calon ayah. Selamat Ken, semoga Kei dan calon anakmu baik-baik saja." ada perasaan menggelitik ketika mengatakan itu, kedua kalinya perasaan seperti ini ia rasakan.


"Thank's, aku juga berharap begitu. Untuk itu, aku tidak bisa merayakan kembalinya persahabatan kita. Lain waktu kita pasti bisa mengobrol lagi." kata tuan Ken.


"Iya. Santai saja, masih banyak waktu untuk bertemu. Istri dan calon anakmu lebih penting." Tristan tersenyum yang juga dibalas senyuman oleh tuan Ken.


Tanpa cegahan lagi tuan Ken dan sekretaris Lee keluar dari ruangan itu. Berjalan menuju pintu lift.


"Tuan muda,"


"Hem.."


"Anda benar-benar hebat." sekretaris Lee memuji tindakan tuan Ken yang diluar ekspektasinya.


"Aku tidak sehebat yang kau pikirkan, Lee. Perbuatanku biasa saja, bukankah kita harus membantu teman." meski Lee memuji tindakannya, tapi ia tidak begitu mengaggap itu kelebihan.

__ADS_1


Sekretaris Lee melihat kearah tuan mudanya, tuan Ken banyak sekali berubah.


"Saya tidak berpikir sama sekali anda berbesar hati membantu dan memaafkan tuan Tristan."


"Sebelumnya aku sudah memikirkan langkah apa yang aku lakukan, dan yah... inilah keputusanku. Aku tidak tega membiarkan Tristan terjatuh, bagaimanapun perlakuannya padaku tetap saja aku tidak tega untuk membalasnya." tuan Ken tidak pernah sungkan mengatakan isi hati didepan sekretaris Lee. Tidak ada yang dia tutupi dari tangan kanannya itu.


"Keputusan anda itulah yang membuat saya salut. Mau memaafkan orang yang akan menjatuhkan anda, itu sebuah tindakan yang sangat sulit. Tidak banyak orang mau melakukan itu." sekretaris Lee sangat antusias memuji tuan Ken. Tuan Ken sendiri hanya menyunggingkan senyum tipis.


Ketika lift sudah sampai dilantai dasar, tuan Ken keluar lebih dulu dan diikuti sekretaris Lee yang menyusul dibelakangnya.


Para staf karyawan dilantai loby menundukkan kepala saat tuan Ken berjalan melewatinya.


Sekretaris Lee membuka pintu mobil bagian belakang, tuan Ken segera masuk, sudah tidak sabar ingin menemui istri dan memastikan keadaanya. Meski kondisi Kei sudah membaik, tetap saja hatinya masih diselimuti rasa khawatir. Sewaktu-waktu kesehatan Kei bisa turun lagi jika tidak dalam pengawasan yang ketat.


Lee segera mengemudikan kendaraan roda empat itu menuju kerumah sakit.


Sampai dirumah sakit, tuan Ken berjalan dengan langkah lebar menuju ruangan Kei. Ketika membuka pintu hatinya merasa lega, Kei sedang bercanda dengan mami dan juga adiknya. Itu berati kondisi Kei baik-baik saja.


Berjalan mendekat.


"Ken, kau sudah kembali?" mami Lyra menyambut anaknya. "Kami sedang membicarakan kenakalanmu waktu kecil." mami Lyra menambahi perkataanya.


"Kenapa mami menceritakan itu! itu sangat memalukan, mi." tuan Ken menggaruk pelipis kanannya. Jika maminya benar-benar menceritakan masa kecil itu, ia sangat malu dengan Kei.


"Bukan memalukan, tapi sangat lucu." Kei menjawab dengan senyuman. Tuan Ken sudah berdiri disamping ranjang Kei dan memberikan sebuah kecupan dipucuk kepala sang istri.


"Kau baik-baik saja, Honey?" menanyakan itu pada istrinya. "Aku baik-baik saja sayang, kau tidak perlu khawatir." jawab Kei.


"Huh... kemesraan kakak membuatku iri. Jangan umbar kemesraan didepan jomblo kak, itu mengenaskan." Ray pura-pura kesal.


"Meski kau bilang jomblo, bahkan banyak wanita yang kau kencani Ray!" tuan Ken tentu tau semua yang dilakukan adiknya.

__ADS_1


"Hehe... itu cuma iseng kak." Ray menyengir, perkataan kakaknya memang benar. Dia suka berganti-ganti wanita, hanya untuk bermain tanpa ada niatan untuk menjalin hubungan serius. Karna itu juga, tuan Ken mengkhawatirkan pergaulan adiknya yang bebas.


"Ray, berkencan dengan banyak wanita itu tidak baik. Awas kalau kau jadi bandel, mami akan turun tangan untuk menghukummu!" mami Lyra memberi ancaman pada putra keduanya itu.


"Iya mi, Ray tidak bandel, 'kan Ray anak baik." Ray menaik-turunkan alisnya, menunjukan deretan gigi depan. Mami Lyra menanggapi dengan gelengan kepala.


"Ken, karna kamu sudah kembali. Mami pulang dulu ya, ingin istirahat sebentar." mami Lyra izin untuk pulang.


Tuan Ken mengangguk, "Iya mi. Mami pulang saja, aku sudah tidak ada urusan lagi jadi bisa menjaga Kei." kata tuan Ken.


"Heum... Sayang, mami pulang dulu ya, baik-baik ya Nak." mami Lyra berganti pamit dengan Kei, mengelus rambut Kei sebentar.


"Iya mi. Hati-hati dijalan." ucap Kei dengan senyuman.


"Iya sayang." jawab mami Lyra.


"Kakak ipar aku antar mami pulang dulu, mungkin nanti malam aku datang lagi nemenin kak Ken." Ray ikut berpamitan.


"Iya Ray, makasih ya, kalau nyetir mobil jangan kebut-kebutan." pesan Kei.


"Kak, aku pulang dulu." Ray berpamitan dengan kakaknya. Tuan Ken menganggukkan kepala. "Hati-hati." tambahnya. Berganti Ray yang mengangguk 'tumben kak Ken mengatakan hati-hati? biasanya bodo' amat?' batin Ray dengan melangkahkan kakinya menuju pintu.


Tuan Ken duduk disamping ranjang Kei, mendekap tubuh istrinya dari samping. Tangan sebelah mengelus perut buncit yang kadang bergelombang karna gerakan dari calon anaknya.


"Kau kenapa?" Kei bertanya. Dia bisa melihat kebahagian yang terpancar dari wajah suaminya.


"Tidak pa-pa, aku senang kondisimu sudah membaik."


"Iya sekarang lebih baik dari kemarin. Mudah-mudahan baik-baik saja sampai waktunya tiba."


"Kau akan baik-baik saja, kau sudah berjanji denganku."

__ADS_1


"Aku memang berjanji, tapi takdir Tuhan yang menentukan. Kita hanya bisa berdo'a dan berusaha."


"Sstt... kau akan baik-baik saja Sweetyku. Kita akan melihat anak kita tumbuh kembang. Aku sangat mencintaimu, tetaplah berada di sisiku. Berjuang demi aku dan cinta kita." tuan Ken semakin erat memeluk tubuh Kei.


__ADS_2