
Sudah memasuki pembukaan ke-9 Kei semakin terisak. Perawat segera menyiapkan ruang bersalin dan akan memindahkan Kei kesana.
"Honey...Sweety, katakan aku harus bagaimana? oh, kau jangan menangis seperti itu. Aku semakin panik, tidak tega melihatmu begitu."
"Aku tidak boleh menangis? ini sakit sekali.. kau tidak merasakan!" Kei memarahi suaminya. Disela-sela rasa sakit masih ada tenaga untuk meluapkan amarah. Sudah tidak terhitung buliran airmata yang jatuh, hingga bantal itu sudah basah. Kedua tangan meremas tangan tuan Ken dengan kuat.
Tuan Ken juga meringis menahan sakit ditangan, Kei mencengkram dengan kuku tajamnya. Ia sempat menyesal kenapa kemarin-kemarin tidak memotong kuku itu hingga kini menyakiti kulit tangan.
Meski kedua tangan yang seperti dipasung, tapi kaki tuan Ken tidak bisa tenang. Bergerak-gerak tak berirama, bukti bahwa ia sangat panik. Keadaan ini lebih mengerikan dari badai angin topan, bencana tsunami dikota Aceh, dan baru ini gempa bumi di Sulawesi.
Semua itu lewat.
Perawat menyiapkan alat dengan lengkap, jika sewaktu-waktu dibutuhkan semuanya sudah siap. Ada beberapa gunting dan alat lainnya.
Melihat itu mata tuan Ken melotot, kenapa ada alat seperti itu didekat Kei. Apakah perut Kei akan digunting? jika benar, apa bedanya dengan lahiran Cesar.
"Kenapa ada gunting? memang untuk apa?" disela kepanikannya, tuan Ken menyempatkan untuk bertanya.
Perawat bingung untuk menjawab, sudah pasti akan panjang urusannya. Tapi tuan Ken terus menatap, berati masih menuntut jawaban.
"Gunting ini digunakan untuk menambah jalan lahir, jika diperlukan. Ada gunting jahit dan gunting untuk memotong tali pusar bayi." perawat terpaksa menjelaskan.
Mata tuan Ken terpejam, bagaimana seperti itu? mendengar saja sudah ngeri. Rasanya ia akan pingsan.
Mami Lyra dan sekretaris Lee menunggu didepan. Hanya tuan Ken yang menemani.
Pembukaan sudah genap 10, para dokter sudah bersiap pada posisi mereka.
"Dok, ini sakit sekali. Aku tidak kuat... tolong." Kei terus merintih.
__ADS_1
"Nona, pembukaan sudah lengkap 10. Atur nafas, tarik dan hembuskan pelan."
Kei menuruti perintah dokter, tapi sakit itu semakin tak tertahankan. Cengkraman ditangan tuan Ken berpindah dilengan tangan mencakari bagian itu.
Tuan Ken hanya berpasrah, tak mungkin melarang. Istrinya kesakitan, mungkin yang dirasakan tak sebanding.
Beberapa saat air ketuban sudah pecah, itu berati sudah saatnya berjuang.
"Ayo Nona, mulai mengejan... satu, dua, tiga." dokter memberi arahan. Kei melakukan seperti itu.
Melihat darah keluar dari jalan lahir Kei membuat tuan Ken pucat pasi, apalagi darah itu semakin banyak. Serasa kedua kaki tak mampu untuk menopang, ingin tergeletak dilantai.
"Honey..." suara tuan Ken melemah, berbisik ditelinga Kei ingin memberi kata penyemangat. Ketika tuan Ken menunduk didekat wajah Kei, tanpa aba-aba Kei menjambak rambut itu dengan kuat.
Tuan Ken yang tadi meredup kini matanya melotot karna kulit kepala yang akan mengelupas.
"Nona, sudah saatnya mengejan, satu, dua, tiga..." dokter memberi arahan agar Kei mengejan. Kei melakukan perintah dokter, dibarengi dengan mengejan tangan Kei semakin kuat menjambak rambut tuan Ken.
"Sweety, kau hidupku, cintaku, berjuanglah sayang. Lahirkan anak kita, kau pasti bisa." tuan Ken memberi kata penyemangat. Sesekali mata itu melihat kearah bawah.
"Aku tidak kuat.. ini sakit.. aku lelah." kata itu keluar dari mulut Kei, kedua sudut mata mengeluarkan airmata. Bulir keringat masih bercucuran.
Tubuh Kei semakin melemas, membuat semua dokter khawatir. Mereka takut kondisi Kei tiba-tiba menurun.
Merasakan cengkraman yang tidak lagi kuat membuat tuan Ken memperhatikan istrinya. Sungguh, ia tak tega melihat keadaan istrinya.
"Honey, ingatlah janjimu padaku. Kau tidak akan meninggalkanku. Bukankah kita sudah berjanji akan merawat anak kita bersama. Aku mohon sayang, semangat untuk berjuang. Setelah ini kebahagiaan kita akan lengkap." cairan bening menggenang dikedua bola mata tuan Ken, tak butuh waktu lama airmata itu menetes. Begitu besar cinta tuan Ken kepada Kei membuat takut akan kehilangan sosok wanita baik hati yang selama ini mendampingi dan berhasil merubah sikapnya.
Tak mampu untuk membayangkan, jika kehilangan orang yang dicinta. Akan se-hancur apa dirinya tanpa Kei? Ketakutan terbesar dirasakan saat ini. Irama jantung yang semakin kuat, hingga menyakiti rongga dada. Nafas yang semakin mencekik leher hingga sangat sulit untuk menghirup atau mengeluarkan.
__ADS_1
Tak berdaya, tak ada kuasa untuk berbuat sesuatu untuk meringankan kesakitan itu.
Sederet do'a terbaik selalu dipanjatkan, meminta pertolongan kepada sang Pencipta. Hanya Dia yang mampu memberi keajaiban dan pengatur kehidupan.
Pemilik nafas setiap insan.
Airmata Kei juga menggenang. Genggaman tangan tadi melemah, ia turunkan. Tuan Ken segera meraih dan mencium punggung tangan itu.
Dia memang sudah berjanji pada suaminya, tidak akan meninggalkan mereka. Tapi ia sendiri hanya mampu berusaha, semua ada ditangan Tuhan.
"Maafkan aku, jika aku gagal. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga. Semangat." saat ini tubuhnya terasa lemas, kesakitan teramat menjalari seluruh tubuh. Apalagi pangkal paha yang menjadi pusat kesakitan.
"Nona, bertahanlah. Hanya tinggal sebentar lagi, semangat nona. Kita coba lagi." dokter memberi semangat dan mengarahkan agar Kei untuk mengulangi mengejan. Semua yang berada diruang bersalin itu sudah pucat pasi.
Beberapa kali mengejan, masih belum berhasil. Rambut si jabang bayi sudah terlihat tapi tidak juga keluar. Jalan lahir Kei sempit dan terpaksa mereka menambah jalan agar bayi itu bisa segera keluar.
Tuan Ken benar-benar ngeri ketika perawat memberikan gunting itu pada dokter. Dokter yang lain ikut membantu. Apalagi tangan dokter mulai merenggangkan gunting. Oh...rasanya ia tak sanggup melihat dan ingin pingsan.
Kei memejamkan mata dengan rapat, merasakan seribu kesakitan menjadi satu. Tak bisa lagi untuk mengeluh atau berteriak. Hanya buliran airmata yang mampu menggambarkan rasa sakit itu.
Lebih erat menggenggam tangan suaminya, menyalurkan rasa sakit. Tangan tuan Ken mengelus rambut Kei, melupakan ketakutannya. Ia mencium kening Kei dengan dalam.
Setelah dokter berhasil menambah jalan lahir, kepala bayi semakin terlihat, itu berati sebentar lagi sudah bisa keluar. Hanya perlu satu dorongan dan satu kali mengejan, tapi Kei benar-benar sudah terlihat pucat dan lemas.
Begitu banyak darah yang keluar, tenaga yang terkuras.
"Nona, sekali saja anda mengejan maka baginya sudah keluar. Ayo semangat, tarik nafas... keluarkan."
Kei mengumpulkan tenaga. Dan disisa tenaga yang ada ia mengejan untuk terakhir, hingga akhirnya berhasil.
__ADS_1
Sosok bayi kecil sudah keluar dari rahim Kei, dileher bayi itu terlilit tali pusar sedikit kencang hingga membuat dokter panik dan segera memotong tali pusar agar bayi itu bisa selamat.
Apakah itu menjadi akhir perjuangan dari Keihana Kazumi? Setelah berhasil melahirkan penerus Taisei Comporation.