
Setelah pulang dari memeriksa kandungan, Kei bersikeras ingin mengunjungi rumah Dewi. Berbagai cara sudah tuan Ken lakukan agar istrinya itu mengurungkan niat.
"Bagaimana bisa kau dan mbak Dewi akan menikah dan sama sekali tidak memberitahuku! kalian menganggap aku sebagai apa? patung? keterlaluan!" diperjalanan Kei mengomel dengan sekretaris Lee. Tuan Ken tersenyum tipis, 'rasakan kau Lee, kau juga terkena omelan ibu hamil. Emang enak! haha...' tuan Ken menertawai sekretarisnya yang sedari tadi terkena omel istrinya.
"Maaf nona." kata maaf yang sudah ketiga kalinya dari sekretaris Lee.
"Kalian jahat, tinggal 2minggu lagi pernikahan kalian dan tidak memberitahuku! apa kalian tidak ingin aku datang? Hua.... kalian jahat. Kalian jahat!" ibu hamil itu terlalu kecewa ketika sahabatnya akan menikah tapi tidak memberitahunya. Mood ibu hamil itu berubah buruk.
"Hei, Honey kenapa menangis? pernikahan itu masih 2minggu lagi, kita masih bisa datang." tuan Ken yang paling anti melihat Kei menangis ikut andil menenangkan istrinya.
"Nona, aku sudah berniat memberitahu anda, tapi karna sibuk jadi aku lupa."
"Benarkah? kenapa tidak bilang dari tadi! kalau begitu aku tidak jadi menangis." ucap Kei, segera menegakkan badannya dan duduk seperti semula. Tuan Ken dan sekretaris Lee saling melirik lewat kaca spion, Lee mengangkat bahunya pertanda dia sendiri bingung. Tuan Ken melirik dan mengangkat sebelah sudut bibirnya, ingin memukul kepala ibu hamil itu agar sembuh dari sikap anehnya. Berpikir, satu yang aneh lalu orang sekitarnya juga ikutan aneh.
Sampai didepan gang rumah Dewi semua turun dijalan depan, kedua bodyguard itu membuka payung atas perintah tuan Ken karna cuaca begitu terik tentu saja tidak ingin istri tercintanya terkena sinar matahari.
"Lee, kenapa rumah calon istrimu itu harus masuk kedalam, menyusahkan! kasihan istriku harus berjalan jauh." tuan Ken menggerutu kesal.
"Saya juga tidak tau tuan muda, rumah mereka dari dulu memang disini." hanya itu jawaban Lee. Orang-orang itu sudah sampai didepan pintu, Lee mengetuk pintu dan tidak lama Ibu Maryam membuka pintu untuk tamu dadakannya. Begitu terkejut mengetahui bukan orang biasa yang datang kerumahnya.
"Tuan, nak Lee, nak Kei silahkan masuk." Ibu Maryam menyuruh tamunya untuk masuk.
"Sebentar saya akan memanggil Dewi." Ibu Maryam tau orang-orang itu pasti ada perlu dengan anaknya. Segera menghampiri Dewi yang sedang sibuk mencuci dibelakang.
__ADS_1
"Tuan Ken, Kei, dan juga calon suami." Dewi memelankan suaranya ketika memanggil calon suami, dia sendiri malu memanggil dengan sebutan seperti itu tapi sekretaris Lee yang memintanya memanggil dengan sebutan itu.
"Ada apa, kenapa kalian semua datang bersama?" Dewi terlihat bingung.
"Tidak pa-pa mbak, aku tadi pulang dari periksa kandungan dan ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu."
"Kamu sudah hamil Kei?" Dewi bertanya antusias, dia memang tidak mengetahui tentang kehamilan Kei. "Iya mbak, Alhamdulillah..." kata Kei.
"Selamat ya Kei, semoga sehat selalu. Tapi, bukannya kau sendiri yang bilang, jika kau mandul?" Dewi sangat ingat, Kei dulu pernah bercerita tentang ketidaksempurnaannya.
"Iya mbak, tapi waktu itu aku belum periksa. Setelah diperiksa ternyata aku tidak mandul." terlihat kebahagiaan diwajahnya, naluri seorang ibu meski perutnya masih datar tapi Kei senang mengusap perutnya.
"Sekali lagi selamat ya, sekarang kebahagiaanmu lengkap. Do'akan aku agar menyusul sepertimu." kata Dewi malu-malu, meski kedua pria dewasa itu tidak melihat kearahnya.
"Hem... mbak jahat! kenapa tidak memberitahuku jika sudah jadian dengan sekretaris Lee, bahkan 2minggu lagi kalian akan menikah." Kei merajuk lagi.
Sekretaris Lee yang mendengar gerutuan panjang dari tuan Ken merasa panas, ingin sekali membungkam mulut itu dengan menyumpal kain. Tentu saja rumah Dewi berbeda dengan rumah tuan Ken yang seperti istana, Dewi hanya seorang OB diperusahaan tuan arogan itu dengan gaji yang hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.
"Lee, kakiku kram, sofa ini terlalu pendek." mengeluh lagi. 'Jika anda mengeluh lagi, aku akan memberikan gratisan piring cantik, tuan!' batin Lee kesal.
"Lee..."
"Stop tuan muda! jika anda protes lagi saya akan memberi Anda gratisan piring cantik!" baru kali ini Lee berani melayangkan protes. Tuan Ken menatap tajam. "Apa maksudmu memberiku gratisan piring cantik! kau pikir aku pembeli perabotan! hah...! aku ingin bertanya jadwal hari ini, bukan protes. Kau aneh Lee, jangan ikut-ikutan menjadi aneh, aku bisa gila!" tuan Ken terlihat kesal.
__ADS_1
"Maaf tuan muda, saya kira anda akan mengeluh lagi." Lee menunduk takut dan malu, ternyata tuan mudanya ingin menanyakan jadwal bukan untuk protes lagi. Kedua wanita itu masih asik dengan obrolan-obrolan seputar persiapan pernikahan, tanpa memikirkan tuan Ken yang sudah bosan berada disana. Keringat membanjiri pelipis dan bagian tubuhnya.
"Honey... ayo kita pulang, aku ada jadwal penting dikantor." tuan Ken sudah tidak betah lagi duduk disana, dirinya yang memakai pakaian formal merasa sangat kepanasan.
"Sebentar lagi ya... aku masih membahas hal penting tentang persiapan pernikahan." Kei belum mau diajak pulang.
"Itu bukan tugasmu Honey, biarkan itu jadi urusan wedding organizer." tuan Ken sudah terlihat malas.
"Sebentar saja ya... kalau nggak kalian kembali saja ke Kantor biar aku disini."
"Hei... no! kau harus pulang bersamaku. Aku tidak bisa bermain-main dengan keselamatanmu." perkataan yang tidak bisa dibantah. Kei hampir lupa bahwa suaminya itu posesif.
"Baiklah, baiklah kita pulang sekarang." dengan berat hati dan juga sudah merasa risih dengan sikap tuan Ken akhirnya Kei mau diajak pulang.
Setelah berpamitan, semuanya kembali berjalan kejalan raya.
"Kei, katakan, apakah perutmu sakit? baby kita tidak kenapa-kenapa kan?" tangan tuan Ken mengusap perut Kei yang masih datar. "Aku tidak pa-pa." menjawab singkat, Kei sendiri masih agak ngambek karna tuan Ken mengajaknya pulang.
"Kau baik-baik saja, lalu bagaimana dengan anak kita? dia pasti kelelahan!" ucap tuan Ken dingin.
"Kelelahan karna apa? aku tidak melakukan apapun, sayang." Kei lupa jika suaminya itu selalu berlebihan dalam segala hal.
"Kau tadi berjalan jauh, bukan hanya kau, anak kita juga pasti kelelahan." tuan Ken terlihat cemas. Kei menghembuskan nafas, tentu dengan memutar bola mata malas. Bahkan dia hanya berjalan beberapa meter saja, itu tidak akan kelelahan, justru badannya enak karna bergerak selama ini dia hanya duduk dan rebahan saja.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara calon istrimu Lee, secepatnya kau harus membawanya pindah, jangan tinggal ditempat tersembunyi lagi!"
'Saya lagi yang kena imbas, tuan muda?' Lee hanya membatin, tidak mau menjawab, dibiarkan tuan muda itu kesal.