Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Menceritakan masa lalu. Bagian 3


__ADS_3

"Waktu itu aku belum paham dengan jalan hidupku. Aku sempat bingung kenapa keluarga ku sering berpindah-pindah, dari kota ini ke kota lainnya. Tapi ketika aku beranjak dewasa dan Om Papi kembali menugaskan Ayah Bagas bekerja di Jakarta pada saat itu Om Papi mulai menceritakan semuanya. Termasuk alasan keluarga ku berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghilangkan jejak dari Paman Jason."


"Baru ketika perusahaan Paman Jason mulai mengalami penurunan dan menjual sebagian saham pada Om Papi, saat itu Om Papi menyuruh kami untuk kembali menetap di Jakarta sampai Om Papi merekomendasikan saya sebagai sekretaris Tuan Muda."


"Om Papi memberi pesan pada saya agar menjaga Tuan Muda, beliau sangat hapal dengan sikap Tuan Muda yang keras kepala dan selalu mengedepankan egonya. Beliau takut, Tuan Muda tidak bisa menjaga diri." panjang lebar Lee bercerita.


Mami Lyra, Herlambang dan juga Kei mendengarkan dengan seksama. Kini semua cerita tentang kebaikan tuan Hiro Kenichi telah dijabarkan dengan gamblang tidak ada yang ditutupi atau ditambahi.


Cerita yang pas sesuai dengan apa yang dialami.


"Jadi karna alasan itu kamu masih setia dan selalu melindungi Ken dari bahaya apapun." ucap mami Lyra. Lee mengangguk.


"Meski sikap Ken saat marah begitu mengerikan, tapi kamu tidak takut. Dan juga pada saat Ken memukulmu kau masih tetap mau mendampinginya." lagi-lagi Lee mengangguk.


"Melihat kesetiaan mu pada Ken, aku sempat bertanya-tanya kenapa kamu begitu patuh dan penurut. Bahkan kau sering membahayakan dirimu sendiri demi Ken." ucap mami Lyra.


"Dia bukan hanya Tuan Muda, bukan hanya si Koi, tapi sudah seperti adikku sendiri. Seperti itu yang selalu Om Papi katakan."


Mami Lyra sangat terharu mendengar kepedulian Lee terhadap Ken. Lee mau menganggap Ken seperti adiknya sendiri.


"Terima kasih Lee, saat Ken sudah sadar dia pasti senang mengetahui kebenarannya. Dia pasti sangat senang."


"Aku tidak menyangka kau tumbuh menjadi sosok yang penuh kasih sayang dan hangat." puji mami Lyra.


"Terima kasih selama ini telah menjadi pelindung dan pendampingan Ken. Ketika orang-orang menjauhinya tapi kamu selalu berhasil mengulurkan tangan dan memeluk putraku yang memiliki sikap egois dan pemarah." mami Lyra mengucap terima kasih untuk kebaikan yang dilalukan Lee pada keluarganya.

__ADS_1


"Tante tidak perlu berterima kasih yang saya lakukan tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh Om Papi pada saat memperjuangkan hidup saya."


Mami Lyra mendekatkan diri dengan sebelah tangan melingkari punggung Lee. Tapi Lee tidak membalas, dia merasa enggan. Meski menganggapnya sebagai ibu sendiri, tapi selama ini fisik mereka tidak begitu dekat,


"Kenapa almarhum Papinya Ken waktu kecil selalu mengajak Ken untuk menemui mu?" panjang lebar yang Lee ceritakan, masih ada yang belum dimengerti oleh mami Lyra. Dia langsung menanyakannya pada Lee.


"Dari kecil, selama tinggal di panti dan ikut bersama ayah Bagas saya tidak suka berteman dengan anak seumuran ku. Untuk itu Om Papi memperkenalkan saya pada Ken supaya aku memiliki teman." jawab Lee.


"Sampai seperti itu? almarhum Papinya Ken benar-benar memperhatikan dan memperjuangkan mu." ucap mami Lyra begitu terkejut dengan kebaikan yang dilakukan almarhum suaminya.


Lee mengangguk mantap. "Beliau sangat baik. Kebaikannya melebihi apapun. Saya sangat beruntung diasuh oleh beliau. Semuanya tidak pernah terlupakan." ucap Lee tulus.


Tangan mami Lyra mengelus pundak Lee. Tersenyum meski kristal bening masih saja berjatuhan.


"Setiap waktu senggang saya pasti datang. Saya juga sering berziarah ke makam kedua orang tua saya. Dan semua itu tentu ajaran dari Om Papi. Andai Om masih bisa saya peluk, setiap waktu akan saya peluk."


"Saya memang memiliki orang tua kandung, tapi Om Papi juga seperti ayah kandung saya."


"Dalam benak saya, kebahagiaan Tuan Muda adalah kebahagiaan saya juga. Begitu pun dengan kesedihannya. Setiap melihat Tuan Muda, saya teringat dengan Om Papi. Untuk itu saya akan selalu melindungi dan memastikan kebahagiaan Tuan Muda." kata Lee dengan lirih. Memang itulah yang selalu dipikirkannya. Semua yang dikatakan adalah kebenaran dari dalam hatinya. Sebagai bentuk balas budi kebaikan almarhum tuan Hiro tekad Lee sangat kuat untuk menjadi pelindung keluarga Ken dan memastikan kehidupan Ken sesuai kemauan Ken.


"Saya merasa bersalah, sedikit kelalaian saya Tuan Muda sampai mengalami kecelakaan." Lee masih saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Tidak sekretaris Lee, orang yang pantas disalahkan adalah aku. Andai semua tidak terjadi, mungkin suamiku tidak berbaring lemah dan dia akan baik-baik saja."


"Aku harus bagaimana?"

__ADS_1


"Aku harus bagaimana supaya suamiku segera sadar." Kei menyela pembicaraan. Bagaimana pun kecelakaan itu terjadi karna nya. Dialah orang yang pantas untuk disalahkan.


Tangisan Kei mengisi lorong rumah sakit.


Mami Lyra berganti duduk disamping Kei untuk menenangkan.


"Sstt... sudah Kei, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Sebesar dan sejauh apapun kau menyalahkan dirimu sendiri, tapi ingat, semua ini atas izin Tuhan. Tuhanlah yang memberi takdir ini." mami Lyra berkata bijak. Ia tidak mau Kei terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.


"Kenapa suamiku tidak sadar juga, Mi. Ini sudah terlalu lama, aku takut... takut dengan bayangan buruk." ucap Kei disela suara tangisnya.


"Sabar, Sayang. Jauhkan pikiranmu dari bayangan buruk. Yakin, yakinlah bahwa Ken pasti segera sadar dan akan segera pulih. Jangan berhenti berharap dengan do'a. Tuhan selalu mendengar do'a kita."


"Iya Mi, terima kasih Mami selalu baik dan menyayangi Kei dengan tulus." Kei memeluk erat tubuh mami Lyra. Menumpahkan tangis yang beberapa menit lalu terdengar lagi.


"Lee, jika kau menganggap almarhum Papinya Ken sebagai ayahmu. Dan Ken juga sebagai adikmu. Apa kau tidak mau menganggap aku sebagai ibu mu?" tanya mami Lyra.


"Dari dulu saya sudah menganggap anda sebagai ibu saya sendiri. Intinya, semua keluarga Tuan Muda juga keluarga saya. Tapi saya sudah nyaman dengan diri saya."


"Hem...terima kasih Lee, mulai sekarang, aku juga akan menyayangimu dan keluargamu seperti keturunanku." ucap mami Lyra.


"Iya nggak, Mas?" mami Lyra beralih melihat Herlambang yang sedari tadi hanya diam dan menyimak, tanpa sekalipun ikut bersuara.


"Iya, Sayang. Keputusanmu, keputusanku juga. Walau Mas tidak ikut andil dari dulu, tapi Mas bisa merasakan kebaikan yang dilakukan Lee pada Ken." terang Herlambang.


Mami Lyra tersenyum. Dua momen yang harus dirasakan secara bersamaan. Momen kekhawatiran dengan momen kebahagiaan. Semua teka-teki yang seperti benang kusut, kini sudah bisa dibenahi. Tidak ada salahnya membongkar kebaikan seseorang. Kejadian yang membuat salah paham kini sudah terselesaikan. Kini momen mengkhawatirkan yang membuat mereka siaga.

__ADS_1


__ADS_2