
Setelah semalam menginap dihotel, kini Ken dan yang lain sudah berkemas untuk pulang ke Jakarta.
Seperti hari kemarin, Kio lebih dekat dengan Lee. Sampai detik ini tidak mau mendekati ayahnya.
Berbeda dengan Kyura, meski takut-takut tapi masih mau bermain dengan Ken.
Skip...
Mereka sudah turun dari pesawat dan kini sudah ada didalam mobil. Kei dan Ken duduk dikursi belakang, sedangkan Lee duduk dikursi depan dengan memangku Kio.
"Mom, Io mau pulang ke rumah baru." pinta Kio.
"Rumah baru yang mana?" bingung Kei.
"Rumah Apartemen Mom. Seperti kemarin-kemarin."
Permintaan Kio membuat Kei menoleh kearah Ken, ingin melihat raut wajah suaminya.
"Tapi Nak..." ucapan Kei terpotong dengan suara Kio.
"Pokoknya Io mau pulang ke Apartemen." Kio berkata dengan suara lantang.
Kei bisa melihat wajah suaminya yang murung dan sedih. Tapi tidak mengatakan apapun. Kei tahu hati Ken pasti sangat terluka, tapi dia pun tidak berdaya. lagi-lagi tidak bisa memaksa Kio.
Kei mengelus punggung tangan suaminya, memberi kekuatan agar Ken bisa lebih bersabar dan mengontrol diri.
Dengan kekecewaan akhirnya Ken menyetujui permintaan Kio untuk membiarkan mereka pulang ke Apartemen. Meskipun begitu, kini semua keamanan Kei dan anak-anaknya hal yang utama. Ada lima orang pengawal yang berjaga didepan apartemen Kei.
Keadaan yang tadinya tenang kini sedikit berbeda dengan kehadiran pengawal-pengawal. Banyak penghuni apartemen sisi kanan dan kiri yang terheran-heran, siapa penghuni kamar apartemen itu hingga dijaga pengawal yang ketat.
Kini didalam mobil hanya ada Lee dan Ken,
"Lee, kenapa semuanya seperti ini? sampai kapan Io akan membenciku?"
"Pasti perlakukan ku sangat kasar sampai Kio marah padaku." Ken melemaskan badan dan terlihat lesu.
"Sabar Tuan, bagaimana lagi, kita juga tidak bisa memaksa Tuan Muda Kecil."
"Tuan Muda bisa melihat kamera pengawas saat anda mengusir mereka." ucap Lee.
Dan kini setelah sampai dirumah, Ken dan Lee sibuk mencari rekaman tujuh bulan yang lalu dimana pada saat Ken mengusir Kei dan Kio.
Saat sudah menemukan rekaman yang dicari, tangan Ken sedikit bergetar takut untuk memutarnya.
Begitu menekan tombol play, jantung Ken seolah berhenti dengan paksa. Dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan kekejaman dirinya pada saat tragedi pengusiran itu.
Dimana dia menyeret Kei dengan paksaan, membentak dan memaki Kei dengan kata-kata menyakitkan. Dan, pada saat Kio muncul dari dalam dengan menangis. Kio menangis terisak dengan memukuli tangannya, miris... dia tidak perduli.
Ken mengusap wajah dengan kasar, kedua mata yang memerah.
Brak...
__ADS_1
Semua sudah berserak dilantai.
"Katakan Lee, apakah itu aku?!"
"Itu bukan aku, Lee. Bukan aku! aku tidak mungkin melakukan itu." Ken menangis seperti anak kecil.
Lee memperhatikan, antara kasihan, tidak tega, kesal juga lucu.
"Pantas saja putraku sendiri membenciku, ternyata perlakuanku sangat kejam."
"Ayo Lee, pukuli aku. Hukum aku Lee, hukum aku untuk menebus kesalahanku. Hatiku hancur Lee, putraku sendiri tidak mau dekat denganku. Aku harus bagaimana Lee, aku harus bagaimana?! katakan sesuatu, jangan diam saja! atau... kau yang akan aku hajar!!!"
Lee tidak menjawab tapi merengkuh tubuh Ken, bukan pelukan sebagai atasan dan bawahan, tapi pelukan kakak untuk adiknya. Bagaikan Tupai bersama si Koi.
"Tidak ada yang perlu dihukum, anda tidak bersalah. Anda sudah melihat bagaimana perlakukan anda kepada mereka, meskipun pada saat itu anda tidak sadar tapi bagi Tuan Muda kecil anda tetaplah anda.
Dan yang anda lakukan pada mereka sangat membekas dihati Tuan Muda kecil, selain itu, anda tidak melihat langsung bagiamana Tuan Muda kecil harus sembunyi saat ingin melihat anda. Pada saat itu anda akan marah dan mengusir mereka kalau mereka muncul dihadapan anda.
Hati Tuan Muda kecil masih terluka, biarkan waktu yang menyembuhkan. Anda harus bersabar untuk menunggu hatinya sembuh. Tuan Muda Kecil pasti akan kembali pada Daddy nya."
"Selama 7bulan aku menyakiti hatinya, apakah aku harus menebus dengan waktu yang selama itu?!" tanya Ken dengan menyusut sudut matanya. Pelukan keduanya sudah terlepas.
"Mudah-mudahan tidak." jawab Lee singkat.
Setelah beberapa menit menenangkan diri, Ken memberi perintah. "Bereskan kekacauan ini."
'Astaga... aku lagi yang akan membereskan semua kekacauan yang dibuat si gila ini. Kenapa harus dibuat kacau kalau akhirnya dibereskan lagi! dasar, keturunan sultan mah bebas!!' Lee mendengus sebal.
Ken melirik tajam, secepatnya Lee berlalu untuk memanggil pelayan membersikan kekacauan itu.
Karna semangat yang menggebu, pukul 5 pagi Ken sudah berdiri didepan pintu apartemen Kei. Bahkan istrinya belum bangun.
Kei mengernyit saat melihat jam didinding pukul 5 pagi tapi sudah ada yang bertamu. Siapa? apakah mami Lyra? papa Herlambang? sekretaris Lee? ah... dia lupa kalau suaminya sudah sembuh, tapi Kei tidak menerka sampai kesana.
Kei pergi ke kamar mandi sebentar untuk mencuci muka dan setelah itu baru membukakan pintu.
Kei setengah terkejut mendapati Ken sudah berdiri didepan pintu, dia memegangi dadanya yang berdegub kencang.
__ADS_1
"Astaga.... Sayang. Ini masih terlalu pagi, kenapa sudah sampai disini?" tanya Kei.
"Aku ingin mengajak kalian jalan-jalan." jawab Ken dengan meringsek maju. Setelah Kei menutup pintu, tiba-tiba Ken mengerang bibirnya. Ini pertama bagi mereka setelah tujuh bulan tidak saling bertemu.
Kei yang tidak siap sampai gelagapan menerima ciuman itu.
Ken melepas pagutan mereka. "Bagaimana kalau kita..." Ken menaik turun kan kedua alisnya.
"Genit! ngawur ah... Nanti kalau anak-anak bangun malah repot." tolak Kei dengan wajah memerah. Entah kenapa rasanya masih malu-malu meong.
"Sebentar saja." bujuk Ken dengan wajah memelas.
"Gagak hitamku terlalu lama bersolo karir, pasti sangat semangat kalau bisa masuk ke sarangmu."
Bukannya terhanyut, Kei justru ingin tertawa kencang. Ada-ada saja bahasa isyarat dari suaminya.
Ken kembali melakukan penyerangan pada candunya, menikmati pagutan-pagutan kecil yang sangat mendamba.
Ken berpindah menyusuri leher jenjang milik Kei, membuat wanita itu terhanyut dalam buaian dengan suara khas yang membuat bulu semakin merinding.
Tangan Ken mulai aktif kesana kemari, tapi ada pengganggu yang menggagalkan kenikmatan mereka berdua.
Terdengar suara Kyura yang menangis mencari keberadaan Kei.
Ken mengumpat kesal dan menjatuhkan kepalanya dipundak Kei. Tapi Kei malah cekikikan.
"Kau masih harus bersabar lagi." ledek Kei sambil berlalu dengan cekikikan.
__ADS_1
Sedangkan Ken menjatuhkan tubuhnya yang lemas diatas sofa dengan mulut yang terus mengumpat dan memaki dengan kesal.