
Naya tak bisa menyembunyikan ke khawatiran. Begitu tersadar, dia langsung menanyakan keadaan ibunya. Bahkan hampir memaksa mencabut infus karena ingin menemui sang ibu.
"Tenang Nay. Jangan seperti ini. Aku akan antar ke tempat ibu, tapi tenangkan dirimu."
"Bagaimana, aku tenang, Akio! Ibu koma. Ibuku koma." Naya mengusap wajahnya kasar. Isak tangis kembali terdengar.
Akio lagi-lagi memeluknya agar Naya bisa tenang dan tidak banyak bergerak kasar. Dia benar-benar takut gerakan Naya bisa membahayakan calon bayi mereka.
"Akhir ini ibu sering batuk, tapi aku nggak tahu kalau ibu sakit separah ini. Bahkan sekarang sampai koma."
"Ibu sudah ditangani dokter, mudah-mudahan bisa segera sadar." Di saat seperti ini, dia hanya bisa menenangkan Naya agar istrinya juga tidak drop. Yang dia tahu, Naya tinggal di kota tidak memiliki saudara, dia hanya tinggal dengan ibunya. Wajar bila Naya cemas dan sangat khawatir.
"Aku pengen ke ruangan ibu," pinta Naya.
"Sebentar lagi, tunggu cairan infus itu habis. Nanti kita ke sana," jawab Akio.
Sebelum Naya berkata lagi, pintu ruangan terbuka dengan menampilkan Kei.
"Bagaimana keadaanmu, Nay?"
Naya menggelengkan kepala pelan dengan memejamkan mata, rasanya begitu sedih. Kei mendekat dan kembali memeluknya.
*
Sampai 3 hari ibu Naya di rawat di rumah sakit, hanya Ken dan Kei yang rutin datang untuk menjenguk. Sedangkan oma Lyra tak sekalipun terlihat datang. Apalagi dengan Kyu. Namun Naya tak terpikirkan akan mereka, dia hanya memikirkan kondisi ibunya yang sama sekali belum mengalami peningkatan. Masih tertidur panjang, atau dalam ahli medis di 'sebut koma.
Sedangkan di rumah mewah Ken, oma Lyra sedang menikmati makan siang tanpa siapapun. Kei berada di rumah sakit, dan dia di rumah hanya dengan para pelayan.
"Oma, ngelamun aja." Kyu yang baru datang sampai tidak diketahui oma Lyra karena sedang melamun.
"Kyu! Itu tidak sopan. Kalau Oma terkejut dan terserang penyakit jantung, kamu mau?"
"Uh, ya enggaklah, Oma. Maaf-maaf, Kyu reflek ngagetin Oma." Kyu menyengir dan mengambil duduk di sebelah omanya.
__ADS_1
"Jam segini sudah pulang?" tanya Oma.
"Tadi guru-guru ada kegiatan, jadi muridnya serentak di pulangkan. Eh, mom kemana? Ke rumah sakit lagi?" Kyu bertanya namun seolah di jawab sendiri.
"Oma nggak ikut?" tanyanya lagi.
"Enggak," jawab oma Lyra singkat, namun raut wajahnya menggambarkan ada sesuatu yang coba ingin diungkapkan.
"Kata mom, kalau ada waktu, Kyu suruh jenguk ibunya kak Naya. Kyu males, tapi mom bakal marah nanti. Apa sekarang aja kita jenguk ke rumah sakit, ya, Oma?"
Oma Lyra tidak langsung menjawab, terlihat berpikir-pikir. Dan, pada akhirnya mengangguk setuju.
*
Selama tiga hari Naya tak beranjak dari sisi ibunya. Akio mengkhawatirkan kondisi Naya yang terlihat kurang istirahat dan tidak makan dengan baik.
"Nay, perut kamu sakit?"
"Enggak. Dia nggak kenapa-napa." Naya tahu, suaminya pasti mencemaskan keadaan bayinya.
"Tapi bagaimana dengan ibu?" Naya ingin menolak, sangat ingin. Akan tetapi melihat wajah Akio, dia menjadi tak tega. Selama dia di sini, Akio juga tidak pulang. Tidak mungkin kalau menyuruh Akio pulang sendiri, sudah jelas pria itu akan menolak.
"Di sini ada banyak dokter dan perawat yang jaga ibu. Ada Mom juga yang gantian berjaga. Bukan hanya kamu, pikirkan juga bayimu, dia juga butuh istirahat dengan nyaman."
Naya memejam sebentar, menghirup udara dan menghelanya pelan. Lalu mengangguk. Dia melihat wajah ibunya dengan mata yang masih terpejam.
"Ibu, Nay, pulang dulu. Nanti Nay ke sini lagi."
"Mom sedang ke kantin, nggak pa-pa kita langsung pulang aja."
Sepanjang perjalanan sampai rumah mereka saling diam. Larut dalam lamunan masing-masing. Naya yang tak lepas dari memikirkan sang ibu, sedangkan Akio memikirkan kesehatan dan kesedihan Naya.
"Aku takut tiba-tiba ibu pergi," ucap Naya.
__ADS_1
"Itu hanya ketakutan yang nggak mendasar. Hilangkan pikiran buruk, berpikir positif kalau ibu pasti sembuh." Akio menanggapi.
"Semalam aku bermimpi, ibu memakai baju putih terlihat cantik dan bercahaya. Dia bilang, aku harus menjaga diri, aku harus mencari kebahagiaanku. Saat aku tanya, apa maksudnya? Tapi ibu nggak menjawab dan pergi begitu saja. Aku benar-benar takut, semoga itu bukan pertanda buruk," cerita Naya panjang lebar.
"Percayalah, itu hanya pikiran negatif mu dan sampai ke bawa ke alam mimpi."
Hening kembali, karena Naya tidak membalas kata penenang dari Akio. Berapa kali Akio memberi kalimat penenang, rasanya semua itu tak mampu membuatnya melega. Sejak ibunya sakit, hatinya selalu dibayangi rasa takut kehilangan, seolah sudah memiliki insting buruk tentang kepergian ibunya.
"Selama ini aku hanya punya ibu, kalau sampai ibu pergi ... lalu aku dengan siapa?"
"Ada aku. Aku yang akan menjagamu selamanya, karena aku suamimu."
Deg! Naya langsung menoleh, namun tak berkata lagi. Semua tak seindah itu, suami, sekarang memang masih suami, tapi setelah anak mereka lahir mereka bukan siapa-siapa lagi.
Sesampainya di rumah, Akio langsung menggiring Naya ke kamar, menyuruhnya untuk beristirahat. Akio membenarkan selimut yang dipakai Naya hingga sebatas perut. Dia tatapi, sampai tidak tega melihat wajah Naya yang lelah dan sendu. Lingkar hitam di bawah mata kentara terlihat. Tubuh kurus seolah bertambah kurus. Beruntung tidak terjadi hal serius dengan kehamilan Naya.
"Tidurlah. Aku nggak akan kemana-mana," ucapnya. Setelah Naya memejamkan mata, dia beralih mengambil tidur di sisi ranjang yang lain. Tak lama, dia pun ketiduran.
Satu jam berikutnya.
Akio terbangun karena mendengar ketukan di daun pintu, dia menoleh ke samping namun Naya masih bermimpi. Tak ingin istrinya terganggu, dia segera bangkit untuk membuka pintu.
"Ada apa?"
"Maaf mengganggu, Tuan. Ini penting," ucap pelayan di depan pintu sambil menunduk, tanpa berani bertatap muka karena dia tahu telah melakukan kesalahan dengan menganggu tidur majikannya. Namun, apa yang disampaikan sangatlah penting, dia harus segera memberitahu kabar duka.
"Nyonya besar tadi menghubungi Anda, tetapi tidak di jawab. Beliau titip pesan, saya harus membangunkan Anda, karena ...."
"Karena apa?!" Akio tidak sabaran. Dia sedikit kesal karena tidurnya terganggu.
"Ibunya Non Naya, meninggalkan dunia, Tuan."
"Apa?!" Akio sangat terkejut. "Jangan bicara sembarangan!"
__ADS_1
"Tidak Tuan, Nyonya besar sendiri yang memberi kabar. Anda di suruh segera ke rumah sakit."
"Ya Tuhan ...." Akio mengusap wajah beberapa kali. Detak jantungnya berdebar tak karuan. Bagaimana dia harus menyampaikan kabar duka itu pada Naya. Sungguh di luar dugaan, Naya pasti lebih syok dan kemungkinan langsung drop.