Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Aneh


__ADS_3

Ketika jam pembelajaran telah usai, Zee segera mengemasi buku ke dalam tas. Salah nggak sih, kalau dia ingin menghindar dari pangerannya untuk sementara waktu? Alasannya jelas masih kecewa dan sakit hati dengan perkataan Akio tadi.


Ketika bangkit dan hendak melangkah, Akio mencegah dengan menarik pergelangan tangannya. Mau tak mau dia harus berhenti.


Di sisi lain, Naya yang juga akan keluar kelas harus cancel demi melihat adegan yang entah kenapa membuat hatinya seolah tergelitik. Sedikit terusik melihat Akio terang-terangan memegang tangan Zee. Padahal itu bukan urusannya.


"Zee tunggu aku. Kita pulang bareng," kata Akio yang masih bisa di dengar samar-samar oleh Naya. Entah kenapa hatinya mendadak mencelos. Come on, Naya, kamu kenapa sih?!


Dan, setelah Akio juga Zee meninggalkan kelas. Selang beberapa saat Naya juga terlihat keluar berjalan menuju depan kampus. Setelah ini dia memutuskan untuk langsung kerja part time meski masih ada waktu longgar sekitar 1 jam-an. Memilih beristirahat di dapur cafe.


Ketika sedang menunggu ojol yang dipesan belum datang, lagi, dia tak sengaja melihat kebersamaan Akio dengan Zee yang baru saja masuki mobil Akio. Mobil yang sama seperti malam penuh buaian waktu itu. Ah, sialan!


Hanya hitungan menit, mobil itu telah melewatinya begitu saja. Apa yang dilakukan Naya selain hanya memandangi mobil itu menerobos ke jalan raya dan hilang di balik mobil lain.


Dia menghela napas panjang dengan menelan ludah susah payah, ketika hatinya seolah terus terusik dengan sosok Akio.


Naya sudah sampai di depan cafe. Dia membayar ongkos pada driver ojek online dan mulai melangkah masuk.


"Selamat siang, Naya." Perempuan itu terkejut mendapati membuka pintu tapi sudah disambut sedemikian oleh Alfin.


"Se-selamat siang, Pak Alfin." Naya tersenyum canggung dengan mengamati sekeliling. Malu bila ada karyawan lain yang tahu.


"Jam segini udah dateng," tanya Alfin jelas basa-basi.


"Nggak apa kan, Pak. Daripada saya telat," jawab Naya sekenanya.


"Nggak apa sih."


Sebenarnya Alfin belum terlalu tua. Bahkan masih berumur 29 tahun. Tetapi perasaan tak bisa dipaksa. Meski Alfin lumayan tampan dan bersikap hangat juga perhatian, nyatanya tak mampu membuat Naya tertarik. Perempuan itu tujuan awalnya ingin kuliah dan tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria.


Namun dengan Akio, entahlah, dia justru melewati batas lebih dari sekedar pacaran. Oh my God, I'm sorry.

__ADS_1


"Akhir ini kamu terlihat pucat, Naya. Apa kamu sakit?" pertanyaan Alfin membuat Naya menolehi diri sendiri.


"Enggak, sih, Pak. Aku nggak sakit. Maaf Pak, Naya ke belakang duluan. Mau siap-siap," bohong Naya yang sudah tidak betah diajak bicara oleh Alfin. Dia ingin luangan waktu sebelum bekerja digunakan untuk istirahat, dan bukan digunakan mengobrol dengan sang manager.


Sesudah istirahat, Naya mulai bekerja dengan mencuci setumpuk piring kotor. Namun, sekiranya baru dapat seperempat, mendadak berkunang-kunang. Lalu dia berpegangan pinggiran wastafel agar tubuhnya tidak oleng. Bukan itu saja, tubuh bugarnya serasa melemas dan terasa sakit semua. Ada apa dengan tubuhku. Dari beberapa hari kemarin seperti ini terus. Aneh.


"Kerja yang bener, Naya! Banyak pengunjung, cepat selesaikan kerjaanmu!"


Peringatan seseorang membuat Naya memaksa diri untuk melanjutkan mencuci piring.


Hal aneh yang terjadi tak terlalu dipikirkan, mencoba positif thinking kalau reaksi tubuhnya demikian hanya karena kelelahan dan bukan hal lain.



Semakin hari Naya dibuat aneh dengan reaksi tubuhnya sendiri. Seperti ketika pagi hari, sering mendadak mual dan berkeringat dingin. Walau mual hebat mendera, tetapi tidak memuntahkan apapun. Dan, jika seperti itu tubuhnya langsung merasa lemas. Memilih berbaring di atas tempat tidur.


Hanya tinggal menghitung hari masa kuliah telah usai dibarengi menyusun skripsi yang membuat otak dan tenaga lumayan terkuras.


Naya buru-buru mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubungi. "Halo, Din?"


"Nay, kamu udah kumpul tugas akhir dari Pak Dodi?"


Naya mengerut. Mengingat-ingat apa dia telah menyelesiakan tugasnya. Yang aneh bukan hanya tragedi mual di pagi hari, tetapi kini dia menjadi manusia paling pelupa. Seperti nenek-nenek berusia lanjut. Ah, memang apa hubungannya?!


"Kok, bengong! Hari ini terakhir kumpul tugas. Kamu sering nggak aktif, pasti nggak tahu Pak Dodi kirim peringatan," tuduh Dina.


Dina adalah teman dekat Naya. Satu-satunya perempuan yang bersikap baik dan peduli dibanding yang lainnya. Naya memang kurang pandai bergaul dan cenderung suka menyendiri, maka dari itu hanya segelintir saja yang mau akrab dengannya.


"Iya, maaf. Aku jarang ada paket. Ohya, makasih udah ngasih tau."


"Sama-sama."

__ADS_1


Setelah telepon berakhir. Naya yang sebenarnya lemas plus malas, enggan tak enggan terpaksa bangkit untuk membersihkan diri dan pergi ke kampus.


Di kampus tak begitu padat seperti biasanya, mungkin karena sebagian mahasiswa tengah menikmati hari penenangan. Jika dia tidak kelupaan tentang pengumpulan tugas, pastilah saat ini juga sedang bermalasan di atas kasur.


Berjalan di pinggir trotoar depan kampus, mata Naya dibuat berbinar saat disuguhi penjual rujak bebeg yang sedang mangkal tak jauh darinya. Sudah dari kemarin hasrat ingin mencicipi rujak buah begitu menggiurkan lidah. Namun, baru ini akan terealisasi.


Hasratnya ingin segera mendatangi penjual rujak, membuat Naya lengah saat menyeberang jalan.


Din ... din!!!


"Aaaggrh'!" Naya berteriak dengan mata terpejam erat. Menunggu detik berikutnya mungkin nyawanya akan segera melayang.


Ckiiiit ...! Pengemudi mobil kelabakan menginjak pedal rem karena seseorang menyeberang jalan tanpa toleh kanan kiri. Beruntung pengemudi masih bisa konsentrasi dengan menginjak pedal rem dan bukan pedal gas. Andai pedal gas yang terinjak, entah seperti apa nasib orang penyeberang jalan tanpa kehati-hatian itu. Kemungkinan tewas di tempat.


Blam! Dia turun dan mendekati perempuan yang saat ini tengah duduk di tengah jalan di atas aspal.


"Naya, apa kamu terluka?"


Heh?! Apa aku belum jadi mati? Ada seseorang yang bertanya padanya. Perlahan dia membuka mata. Wajah tampan dengan tatapan tajam tengah mengamatinya lekat-lekat. Sangat tampan. Akio?!


"A-aku nggak papa." Naya menghela napas beberapa kali.


Din ... din ...! Bunyi klakson saling bersahutan dari beberapa kendara yang terhalang oleh mobil Akio. Pria itu mengusungkan tangan di depan Naya guna membantu perempuan itu berdiri.


"Kita ngalangin jalan mereka. Jalan jadi macet. Ayo, menepi."


Naya tidak menghiraukan uluran tangan Akio, meski bergetar, tetapi dia berusaha berdiri sendiri.


"Yakin nggak ada yang luka?" tanya Akio memastikan.


Naya menggeleng. "Nggak ada. Aku cuma kaget aja. Sedikit gemetaran," jujurnya.

__ADS_1


Saat ini Naya dan Akio duduk di samping penjual rujak. Naya sudah memesan dengan permintaan spesial. Banyakin buah mangga mudanya dan request sambal yang pedas. Dia sempat menawari Akio untuk memesan, tetapi pria itu menolak.


__ADS_2