
Dewi sengaja datang lagi untuk menghibur Kei dan Kio.
Beberapa waktu lalu, sang suami menghubunginya dan menceritakan tentang kondisi Ken yang tidak mengingat Kei dan anaknya, untuk itu Lee mengizinkan Dewi menemani Kei. Berharap kedatangan Dewi bisa sedikit menghilangkan beban berat yang sedang menimpa Kei.
"Ujian ini terlalu berat, Mbak. Aku harus bagaimana? Kasihan Kio begitu merindukan Daddy nya." jawab Kei disela tangisnya.
Dewi mengusap punggung tangan Kei, "Tuhan memberi kita ujian, karna sayang dengan kita. Jika kita mampu melewati, kamu akan menemukan kebahagiaan yang indah."
"Tuhan tidak akan menguji umatnya melainkan pada batas kemampuan. Jika Tuhan memberi ujian berat, karna yakin kamu bisa melewatinya. Yakinlah bahwa Tuhan telah menyiapkan kebahagiaan untuk keluargamu." Dewi mengatakan kata bijak agar Kei bisa berpikir jernih dan keadaanya tenang.
Dewi melihat wajah Kei yang berantakan membuat dirinya tidak tega, Kei yang lebih dulu mendapat kebahagiaan dengan segala kemewahan dan perlakuan Ken yang begitu mencintainya tapi kini berbanding terbalik. Dewi bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Jika aku bisa melewati ujian ini, apakah kedua anakku juga bisa melewati ini, Mbak? aku benar-benar nggak tega melihat Kio bersedih. Dia selalu dekat dengan Daddy nya, setelah kecelakaan itu Ken melupakan semuanya. Aku nggak bisa bayangin, betapa hancurnya hati Kio saat Daddy nya sendiri menolak kehadirannya." Kei kembalu tersedu-sedu direngkuhan Dewi.
"Ssttt... sudah, sudah cukup menangisnya. Lihatlah, matamu sudah sangat menyipit. Hidungmu seperti tomat, sangat merah." Dewi melontarkan candaan agar tidak terlalu tegang.
"Kio anak yang kuat, dia pasti bisa melewati ini. Mungkin untuk sementara kalian harus menjaga jarak dan jangan mendekati Tuan Ken. Berikan ruang agar ingatan Tuan Ken pulih, jika kamu memaksa keadaan, Tuan Ken bisa saja semakin buruk." Dewi memberi nasehat.
"Iya Mbak, Kio juga sudah paham sedikit paham dengan kondisi Daddy nya. Dia bilang, belum mau bertemu dengan Deddy nya sebelum Daddy nya sembuh." kata Kei.
Dewi menghembuskan napas pelan. 'Kio berkata seperti itu karna dia pasti kecewa dengan Daddy nya. Mudah-mudahan anak itu tidak mengalami trauma tentang penolakan yang dilakukan ayahnya sendiri.' Dewi hanya berkata dalam hati, tidak mungkin mengatakan itu langsung dengan Kei, sahabatnya itu akan semakin bersedih.
"Ma...Ma, Kak Io tidur ya," ucap Zee menarik baju Dewi agar mengalihkan pandangan.
"Iya Zee, Kak Io nya masih tidur. Zee mainan sendiri dulu ya.. itu, di ranjang yang itu banyak boneka. Zee kesana geh." Dewi menunjuk ranjang kosong yang terdapat banyak mainan boneka. Keranjang yang dipersiapkan untuk Kyura.
Zee mengangguk dan melangkahkan kaki menuju ranjang yang dimaksud mamanya.
"Oh ya, kamu lagi makan siang ya, terusin aja makannya. Habiskan. Biar tenaga kamu pulih. Kasihan Kyura kurang kenyang kalau mommy nya cuma makan sedikit."
"Mbak udah makan siang? kalau belum biar aku suruh pelayan buat makanan." Kei menawari.
"Enggak usah, aku udah makan, udah kenyang banget malahan. Liat nih perutku gendut banget. Nggak kayak kamu yang masih aja langsing." Dewi kembali bercanda, tersenyum ke arah Kei.
Kei hanya tersenyum simpul lalu menundukkan kepalanya lagi.
__ADS_1
Sangat sulit menutupi kesedihan, sejenak ingin melupakan beban ujian itu, tapi semakin melupakan bayangannya semakin nyata. Ya, dia teramat merindukan sosok suaminya. Meski tegas tapi selalu manja ketika berada disampingnya.
Kei kembali melanjutkan menyuap bubur ayam suir, baru setengah mangkuk dia menghabiskan bubur itu tapi suara tangis Kyura kembali terdengar. Mungkin bayi itu lapar atau haus.
Kaki Kei akan turun tapi dicegah oleh Dewi. "Biar aku gendong Kyura, kamu segera habiskan makanmu." kata Dewi dan beranjak keluar kamar untuk mendatangi suara tangis Kyura.
Kei segera menghabiskan bubur yang hanya tinggal sedikit.
Saat sudah selesai, bersamaan itu Kio menggeliatkan badan. Tidak lama mata kecil nan indah itu mulai terbuka.
"Sayang, sudah bangun?" tanya Kei.
"Apa Zee sudah datang, Mom?" Kio malah berganti bertanya.
"Sudah..Lihat itu siapa?" Kei menunjuk Zee yang tengah tersenyum manis.
"Hallo, Kak Io?" sapa Zee dengan ceria. Kaki kecilnya turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Kio.
"Hallo juga, Zee." Kio membalas sapaan itu.
"Aku sudah datang dari tadi, tapi Kak Io malah tidur." sungut Zee.
"Aku ngantuk, jadi tidur." jawab Kio klise.
"Ya iyalah ngantuk, kalau nggak ngantuk nggak mungkin tidur. Kakak ini aneh." Zee semakin bersungut mendengar jawaban Kio yang menyebalkan. Bola mata kecil itu memutar keatas, sebagai bentuk kekesalan. Anak perempuan yang masih kecil itu pandai berbicara, manja dan juga genit.
"Tante Kei, boleh Zee pinjam Kak Io?" Zee meminta izin pada Kei.
Dahi Kei mengerut. "Pinjam?" bingungnya.
"Iya, Zee mau bicara rahasia dengan Kak Io."
"Oh.. oke, oke.." Kei antusias memberi izin, membuat Zee kegirangan
"Kak Io, ayo kita bermain di tumpukan boneka itu. Nanti Zee ceritakan sesuatu." ajak Zee.
__ADS_1
Kio menurut dan mulai mengikuti gerakan Zee turun dari ranjang menuju ke ranjang yang dimaksud Zee.
Kei menggelengkan kepala dengan turus mengawasi keduanya. "Zee...Zee.." Kei sampai tak habis pikir dengan anak sahabatnya yang masih kecil tapi pemikirannya sudah sangat berbeda.
"Kamu mau cerita apa?" tanya Kio langsung.
"Satu minggu Kak Io nggak main ke rumahku Randi gangguin aku lagi. Dia ngajakin aku mainan, tapi Zee nggak mau."
"Ya udah, kalau nggak mau ya nggak usah mainan sama dia." jawab Kio acuh.
"Kakak jangan terus-terusan sedih dong, sebentar lagi kita masuk sekolah. Zee udah nggak sabar. Pasti banyak teman." Zee tersenyum ceria.
Kio tidak menanggapi, dia hanya melihat kesana-kemari.
"Zee," panggil Kio lirih.
"Iya Kak," Jawab Zee.
"Kamu tahu kalau Daddy ku sakit."
"Heem.. Kakak jangan sedih." ucap Zee.
"Daddy nggak mau aku peluk." sedih Kio.
Zee memajukan bibir dan fokus melihat wajah Kio.
"Kalau Daddy nggak sembuh-sembuh, aku nggak bisa lagi peluk Daddy." seperti Kio sedang curhat kepada Zee.
"Paman Tuan Muda pasti bisa sembuh, Papa Lee bilang mau cari obat buat sembuhin Paman Tuan Muda." kata Zee.
"Apa aku nakal, sampai Daddy nggak mau peluk aku lagi? tapi Daddy juga tidak mau didekati mom, Daddy sakit apa?" bingung Kio. Kio yang masih terlalu kecil belum memahami penyakit yang dialami Ken.
Ia masih kebingungan, kenapa Daddy nya bersikap dingin dan tidak mengenali dirinya.
Padahal sebelum Daddy nya sakit, sikap Ken begitu menyayanginya.
__ADS_1
"Zee denger dari Mama, kalau Paman Tuan Muda hilang ingatan. Jadi tidak ingat sama keluarganya. Begitu." kata Zee.