
Lee berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit, tempat Ken dirawat. Pengawal yang mengikuti langkahnya harus berjalan cepat untuk mengimbangi langkah Lee.
Lee segera menghampiri Herlambang dan juga mami Lyra. "Tuan Besar, Nyonya Besar." Lee menyapa dan menunduk hormat.
"Kau tau Lee, baru saja kondisi Ken mengalami penurunan. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kami sangat takut." Lee baru saja datang, tapi mami Lyra langsung memberitahukan kabar buruk tentang kondisi Ken. Wajah tuanya terlihat sangat sedih. Herlambang mengelus pundak istrinya untuk memberikan kekuatan.
"Apa kondisi Tuan Muda sekarang masih mengkhawatirkan?" tanya Lee memastikan.
Mami Lyra mengangguk lemah.
"Dokter masih tetap siaga memantau kondisi Ken. Bahkan Dokter belum bisa memastikan keadaan Ken untuk beberapa jam kedepan. Jika kondisinya masih sama, atau mengalami penurunan lagi. Dokter menyarankan untuk berpindah ke rumah sakit Singapura yang lebih dekat atau sekalian ke Amerika. Rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap." terang Herlambang.
Lee mengangguk. "Tuan Besar, saya permisi sebentar, untuk menemui Dokter." pamit Lee.
Tujuan utama menemui dokter tentu ingin mengetahui lebih jelas tentang kondisi Ken. Meski Herlambang sudah memberi keterangan, tapi Lee belum puas jika belum menemui dokter secara langsung. Ia harus berdiskusi tentang langkah selanjutnya.
Lee sudah masuk ke ruangan dokter yang menangani Ken, dan disambut dengan ramah oleh dokter itu.
"Silahkan duduk," dokter itu menyuruh Lee untuk duduk dikursi seberang mejanya.
"Anda kemari untuk menanyakan kondisi Tuan Ken?" baru saja Lee terduduk, dokter itu sudah menebak kedatangan Lee menemuinya.
"Benar. Jelaskan kondisi Tuan Muda," ucap Lee tanpa basa-basi.
"Kondisi Tuan Ken saat ini mengkhawatirkan. Sekitar satu jam lalu detak jantung dan denyut nadi melemah, sampai kami melakukan kejut jantung untuk mengembalikan fungsi jantung."
__ADS_1
"Setelah kami melakukan kejut jantung, detak jantung Tuan Ken kembali normal dan membaik. Tapi untuk beberapa jam kedepan kami juga belum bisa memastikan kondisi Tuan Ken. Semua tergantung kondisi tubuhnya." dokter itu menghentikan kalimatnya sejenak. Sebelum kembali melanjutkan.
"Sudah dua kali sejak semalam kondisi Tuan Ken mengalami penurunan. Padahal operasi yang kami lakukan kemarin sudah berhasil dan tinggal menunggu Tuan Ken sadar. Tapi kondisi tubuh Tuan Ken sendiri terus mengalami penurunan." terang dokter.
Lee memperhatikan dokter tanpa mengalihkan pandangan, mendengarkan keterangan itu tanpa melewatkan kalimat penting.
Setelah dokter berhenti berbicara, Lee baru mengajukan pertanyaan.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk kesembuhan Tuan Muda? apapun harus diusahakan demi Tuan Ken." ucapan Lee sangat serius.
"Kami tadi sudah membicarakan ini, kita tunggu sampai besok pagi, jika kondisi Tuan Ken masih mengalami penurunan, lebih baik dipindahkan saja ke rumah sakit yang lebih lengkap. Tapi, jika sebelum besok pagi Tuan Ken sudah sadar, maka tetap dirawat disini saja." terang dokter.
Lee kembali menganggukkan kepala tanda menyetujui ucapan dokter. Pasti dokter tahu mana yang terbaik untuk merawat Ken. Apapun yang terbaik untuk tuan mudanya, tentu Lee akan menyetujui.
"Lakukan yang terbaik untuk Tuan Muda. Jika kalian berhasil merawat dan membuat Tuan Muda segera sadar, kalian akan mendapat bonus yang besar." kata Lee. Meskipun memberikan bonus pada dokter adalah ide nya sendiri tapi Lee yakin keluarga tuan Ken pasti menyetujui.
Lee bisa memahami perkataan dokter, memang benar manusia hanya mampu berusaha tapi Tuhanlah yang menentukan takdir seseorang.
"Terima kasih Dok, saya permisi." pamit Lee.
"Sama-sama sekretaris Lee. Silahkan." ucap dokter dengan ramah.
Dokter yang bekerja dirumah sakit itu hampir semuanya sudah paham dengan dua sosok orang penting yang sangat berpengaruh. Keduanya hampir memiliki kesamaan, namun bagi para dokter, Lee lebih ramah dan bisa berpikir jernih. Berbeda dengan si raja bisnis yang arogan dan tegas, dari setiap ucapan yang keluar dari mulutnya sukses membuat mereka ketakutan dan diam tak berkutik.
Semua yang diperintahkan oleh tuan Ken wajib dilaksankan tanpa ada bantahan. Entah perintah itu masuk akal atau tidak, semua harus dilakukan.
__ADS_1
Lee tidak kembali ke ruang rawat Ken, kakinya terus melangkah menuju kantin rumah sakit. Didalam lift hanya terdiam dengan beban kepala yang semakin berat.
Dentingan lift berbunyi menandakan telah sampai pada lantai yang dituju. Lee bergegas keluar dan kembali berjalan menuju kantin yang masih berjarak beberapa meter.
Lee duduk di bangku paling ujung, sengaja memilih meja yang tidak terlalu ramai. Seorang pelayan datang menghampiri untuk menanyakan pemesanan.
Lee hanya memesan Capuccino panas, tanpa memesan yang lainnya. Tujuannya ke kantin bukan untuk mengisi perut, tapi hanya ingin menenangkan pikiran yang semakin kalut.
Menghembuskan napas panjang berharap rongga dadanya tidak terlalu sesak.
Semenjak Ken dirawat dan belum sadarkan diri, ia masih dihantui rasa takut. Bukan hanya rasa takut kehilangan, tapi juga rasa bersalah dan berakibat semakin menyalahkan dirinya sendiri.
Semua gara-gara si breng sek itu, meskipun pria tak punya harga diri itu juga tengah sekarat tapi Lee benar-benar menyimpan sebuah amarah. Baru kali ini ia tidak ada belas kasih terhadap Izham. Jika terjadi sesuatu buruk pada Ken, maka Lee telah berjanji akan melenyapkan Izham, saat itu juga.
Banyak sekali yang menghantui perasaan Lee, bahkan rasa bersalahnya membuat tidurnya tidak nyaman.
"Maafin aku, Om. Tidak bisa menjaga si Koi dengan baik. Maafkan atas keteledoran ku." ucap Lee lirih seolah didepannya sedang ada seseorang yang dirindukan. Mata tajamnya telah berkaca-kaca demi merindukan dua sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya.
"Pertolongan anda sangat tulus, tapi maafkan aku telah mengecewakanmu. Aku berjanji, akan mengupayakan apapun untuk kesembuhan si Koi. Seperti Anda yang selalu mengupayakan keselamatan dan kehidupan Saya." ucap Lee pada dirinya sendiri. Dimeja itu tidak ada siapapun, Lee malah berbicara sendiri.
Beruntung disekitar meja itu tidak terlalu ramai, jika tidak mungkin orang-orang mengira Lee tidak waras dengan berbicara sendiri.
Kedatangan pelayan kantin membuyarkan konsentrasi Lee, mengalihkan gerakan mata melihat pelayan itu sebentar dan kembali acuh.
Setelah pelayan itu kembali pergi, Lee kembali merenung. Sangat berat beban yang ditanggung jika kondisi Ken tak kunjung membaik. Urusan kantor, urusan si breng sek Izham. Keluarga Ken dan juga keluarganya sendiri semua menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1
Waktu yang dimiliki tersita habis untuk mengabdi pada Ken. Meskipun bebannya terasa semakin berat tapi harapan dan do'anya hanya satu, yaitu semoga si Koi segera sadar dan segera membaik.