
Tring ...!
Bunyi ponsel mengalihkan Lee untuk segera menjawab. "Halo ... Tuan, bahkan saya baru sampai di depan gerbang dan belum masuk ke dalam rumah, tapi Anda sudah menghubungi saya?" Lee langsung nyerocros. Kesal, padahal dia baru pulang dari rumah tuan mudanya, bahkan belum sampai masuk ke dalam tapi si Koi itu sudah menghubungi kembali. Ada apa?
"Lee, panggil dokter untuk ke rumah sekarang juga." Ken tidak menanggapi, pria itu memberitahu inti dari niat dia menelpon.
"Siapa yang sakit, Tuan?" Lee terkejut. Rasa kesalnya hilang begitu saja, terganti dengan rasa khawatir.
"Ada dugaan Kei hamil. Tadi Kei muntah-muntah dan pingsan. Kamu harus hubungi dokter sekarang juga!"
"Hah? Nona Kei di duga hamil?" Kali ini Lee bingung. Dia sampai merubah-rubah ekspresi wajahnya.
"Cepat! 30 menit dokter itu harus sudah sampai di rumahku!"
Klik! Seenak bumi punya dia, sesudah memberi perintah yang membuat Lee kelabakan, Ken langsung mematikan teleponnya.
"Pa, kok gak masuk?" tanya Dewi yang sudah berdiri di sisi gerbang. Dia tadi mendengar deru mesin mobil suaminya, tetapi Lee tidak masuk-masuk.
Lee langsung menutup pintu mobil dan mendekati Dewi. "Aku baru pulang, tapi Tuan Ken sudah menyuruhku memanggil dokter untuk memeriksa Nona Kei," terang Lee.
"Memang kenapa dengan Kei? Sakit apa dia?"
"Ma, siapa yang sakit?" Zee ikutan muncul dan menyahut obrolan kedua orang tuanya.
"Mommy-nya Akio."
"Heh, Tante Mommy sakit?"
"Pa, jawab. Kei sakit apa?"
"Belum jelas. Kan belum diperiksa dokter. Dugaan sementara kata Tuan Muda tadi Nona Kei hamil."
"Hah?" Dewi dan Zee sama-sama terkejut. Sama-sama melongo.
Lee cepat beralih pada ponselnya, dia lupa bahwa tuannya memberi waktu 30 menit agar dokter itu sampai di depan rumah. Jika tidak, pria over itu akan marah-marah.
Bukan itu, Zee dan Dewi juga ikut sibuk bermain ponsel. Tentu saja Dewi menanyakan kabar kebenaran itu langsung dari Kei, sedangkan Zee bertanya pada ketiganya. Akio, Kyu, dan Kei.
"Kalian malah sibuk ketik-ketik hp. Papa pulang gak disuruh masuk," ujar Lee.
"Hehe ... Mama lupa. Ayo, kita masuk!" Lima langkah bergerak maju. Ponsel Lee kembali berbunyi.
'Tuan Muda' Ya Tuhan, mau apalagi dia?!
__ADS_1
"Iya, Tuan. Saya sudah menghubungi dokter, tunggu sekitar 30 atau 40 menit lagi." Lee langsung menjawab. Seolah tahu bila Ken menelpon untuk bertanya itu.
"Lee, suruh anak dan istrimu tidak mengirimi pesan pada Kei. Istriku pusing, dia terlihat pucat, jadi tidak bisa membalas pesan."
Lee melihat wajah istri dan anaknya bergantian. "Jangan kirim pesan ke Nona Kei. Barusan Tuan Ken memberi larangan pada kalian agar tidak mengirimi pesan. Kalian tahu sendiri bagaimana kepanikan Tuan Ken kalau ada apa-apa pada Nona Kei."
Dewi dan Zee saling pandang lalu mengangguk.
"Kalau ada kabar terbaru, Papa pasti kabari kalian," kata Lee. "Ayo, masuk!" Papa capek banget."
•
Di ruang keluarga Kei memasang wajah frustasi. "Lihat, seekstrim apa Daddy kalian menanggapi ini!"
"Itu tandanya Dad sayang sama Mom," balas Kyu.
"Sayang ya sayang, tapi enggak begini juga. Merepotkan banyak orang. Bahkan Tante Dewi dan Zee tanya kabar pada Mom. Itu artinya mereka sudah tahu."
"Kak Zee juga kirim pesan ke Kyu."
"Io ...?" Kei berganti pada putranya, bertanya apa putranya itu juga mendapat pesan dari Zee.
Pria itu mengangkat bahu. "Nggak tahu, Mom. Io belum buka." Lebih tepatnya malas untuk membuka.
"Selamat malam, Dok. Maaf merepotkan Anda." Kei menyambut dengan ramah. Menjabat tangan dokter dan mempersilahkannya duduk.
Dokter menatap heran pada Kei, terlihat perempuan itu baik-baik saja. Jangan-jangan ini drama?
"Dok, saya baik-baik saja. Tadi sempat pusing dan pingsan, tapi sekarang sudah lumayan membaik. Tolong dokter jangan berkata aneh-aneh pada suami saya."
Dokter itu diam sejenak. "Saya tidak mungkin berkata aneh-aneh, Nona. Saya juga tidak mau rumah sakit gempar dengan kehadiran Tuan Ken. Em ... maaf-maaf."
Kei menanggapi dengan senyum simpul. "Tidak papa. Semua sampai hampir hapal dengan dia," ucapnya.
"Dad memang selalu membuat gempar di manapun dia berada," timpal Kyu.
"Sssttt!" Akio memberi kode agar semuanya diam, karena Daddy Ken sudah terlihat mendekat.
"Dokter sudah datang? Tolong periksa istriku. Apa dia hamil atau ada penyakit lain? Dia tadi pusing, muntah-muntah dan pingsan."
"Baik, Tuan. Saya akan periksa Nona Kei dulu." Dokter segera mempersiapkan alat untuk memeriksa tekanan darah dan sebagainya. Dokter juga bertanya beberapa hal pada Kei.
Semua nampak tegang menunggu hasil pemeriksaan. Ken tak henti mengamati gerak-gerik dokter dengan mimik wajah serius. Akio tampak memijat-mijat pelipis. Daddy-nya begitu rumit.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa istriku hamil?"
"Tidak Tuan. Nona Kei tidak hamil. Tekanan darahnya rendah, itu yang membuat pusing, lemas bahkan pingsan. Kalau muntah-muntah, kemungkinan lambung Nona Kei sedikit bermasalah. Saya akan meresepkan obat supaya tekanan darah Nona stabil dan lambungnya bisa mencerna makanan."
"Mungkin karena Mom tadi kebanyakan makan junk food, makanya lambungnya bermasalah."
"Lagi-lagi, mulut mulut mulutmu, Kyu!" Akio melirik.
"Kamu makan junk food banyak, Sayang? Siapa yang membelikan makanan seperti itu?"
"Aku tidak beli. Tadi buat sendiri di rumah."
"Kamu buat sendiri?" Ken menatap horor. "Pelayan dan koki di mana, sampai kamu harus buat makanan sendiri?! Apa mereka tidak memberi peringatan padamu?"
"Sebanyak apa kamu makan junk food sampai kamu seperti keracunan dan pingsan."
"Oh astaga ... sudahlah. Yang penting aku udah baik-baik saja, Sayang," ucap Kei cepat. Dia bertambah pusing dengan perkataan Ken.
Dokter yang sudah selesai menulis resep obat rasanya sudah tidak betah berada di tengah keluarga itu.
"Dok, apa resep obatnya sudah selesai dibuat? Biar pengawal segera menebus di apotek," kata Kei.
"Sudah Nona. Ini." Dokter memberi secarik kertas.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Silahkan, Dok." Saat dokter berdiri, Kei juga ikut berdiri.
"Bunny, tidak usah mengantar dokter," sergah Ken.
"Aku mau ke kamar."
"Aku papah." Ken memasang badan di samping Kei.
"Kak, Mom dan Dad lucu ya."
"Lucu?! Ingin ku getok kepalamu, Kyu. Ini semua gara-gara mulutmu yang nggak ada rem. Semua jadi rumit." Akio menanggapi kesal.
"Mereka itu sweet lho, Kak. Dad sayang banget sama Mom."
"Sayang tapi bikin orang lain susah."
__ADS_1
Kyunara terkikik geli. "Kak, Kak Zee titip pesan agar Kakak buka chat-nya."