Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Menyusul


__ADS_3

Akio termenung di kamarnya. Sudah lebih dari tiga bulan lamanya, tapi tidak ada kabar sama sekali tentang keberadaan Naya. Segalanya sudah dia usahakan. Semaksimal mungkin, mencari-mencari dan terus mencari. Tanpa mengenal lelah, tanpa melihat waktu, tetapi Tuhan masih saja belum merestui pertemuannya.


Semakin hari hati Akio semakin mati, keras tak bagai batu karang yang tidak perlu peduli lagi dengan seorang wanita. Kehadiran Zee kembali di anggapnya sebagai sosok sahabat, yang sedikit mampu meredakan kesedihannya.


Semua tentang Naya masih utuh, semua barang masih terletak pada tempatnya. Tak sedikitpun berubah, termasuk perasaanya. Hanya sesekali malam ketika Akio termenung, dia akan menangis kembali mengingat kenangannya bersama Naya.


Terlalu singkat, bahkan sangat singkat, namun kehadiran Naya mampu memberi kesan terdalam. Hingga sampai detik ini sangat sulit untuk dilupakan.


"Tiga bulan lebih, Nay. Sudah tiga bulan kamu menghilang. Apa kamu sama sekali tidak mengingatku?"


"Bayi kita ... bagaimana dengan bayi kita. Apa kamu sudah melahirkan? Dia laki-laki atau perempuan? Apa tetap akan kamu kasih nama dengan marga keluargaku?"


"Aku mengusahakan kebersamaan kita, tapi kamu justru mengusahakan perpisahan. Sejahat itu kamu, Nay. Kamu tega memisahkan aku dengan bayi kita. Aku ayahnya."


"Ku mohon, Nay. Kembali ... kembalilah. Semua masih sama, tidak ada yang berubah. Tapi akan ku pastikan tidak ada yang menyakiti atau menekan perasaanmu lagi. Tidak akan. Aku akan menjagamu dan melindungi mu. Membahagiakanmu dengan cinta yang ku miliki. Bukan kah kamu juga mencintaiku? Maka kembalilah."


Ribuan kali dia meminta, tetapi sebuah takdir tidak pernah mengabulkan. Doa dan permintaanya seolah tidak sampai pada langit. Hingga menguap begitu saja bersama angin.


Akio menyusut sudut matanya yang tergenang cairan bening. Sakit dan terperi setiap kali mengingat kepergian Naya.


Pukul 12 malam, dia dikejutkan dengan panggilan masuk. Dia mengambil ponsel di atas meja dan melihat siapa yang menghubunginya di tengah malam begini.


Keningnya berkerut dalam mengetahui panggilan itu dari Zee. "Halo ... Zee? Ada apa?"


'Kak ... bisakah Kakak datang menyusul ku ke negara xxx.'


"Apa selama ini kamu berada di sana?" tanya Akio terkejut.


'Iya. Aku di sini meneruskan studi ku.'


'Ah, bukan ini yang akan aku sampaikan.' Zee berbicara sendiri.


'Kakak datang lah kesini,' pinta Zee dengan suara sedikit serak.


"Apa? Kamu menyuruhku menyusul mu ke sana?" ulang Akio. "Kamu becandain aku?"


'Aku tidak bercanda, Kak. Aku serius.'


"Yakin?" tanya Akio.


'Ya Tuhan ... yakin!'

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Akio bertanya demikian, pasalnya selama ini Zee selalu melarangnya untuk tidak mencari tahu keberadaanya. Lalu tiba-tiba perempuan itu menyuruh untuk datang. Bukankah aneh? Dia berpikir, mungkin Zee sedang bercanda saja.


"Baiklah, Minggu depan aku usahakan datang. Kamu tidak mau memberitahuku dari dulu, aku bisa datang dari jauh hari karena akhir ini aku sibuk," ujar Akio.


'Please, Kak. Berangkatlah sekarang juga, cari penerbangan paling cepat.'


"Ada apa? Apa kamu sedang ada masalah? Kamu kenapa?" Akio berubah panik, mengira Zee sedang terbelit masalah dan membutuhkan bantuannya segera. Suara Zee berbeda dari biasanya.


'Tidak. Aku tidak ada masalah dan aku baik-baik saja. Tapi ada hal lain yang tidak bisa aku kasih tahu sekarang. Yang terpenting Kakak segera datang,' pinta Zee.


"Baiklah, aku akan pesan tiket sekarang juga."


'Ingat Kak. Aku baik-baik saja. Aku cuma minta Kakak datang secepatnya.'


"Iya iya ...." Sambungan telepon di akhiri oleh Zee. Akio melihat layar ponselnya yang masih menyala.


"Ternyata selama ini kamu di sana, pantas saja aku sulit menemukanmu. Tapi kenapa tiba-tiba kamu menyuruh ku datang? Ada apa? Apa yang terjadi denganmu?"


Akio membuka fitur aplikasi pemesanan tiket pesawat. Dia mencari penerbangan paling cepat untuk hari ini, tetapi paling cepat penerbangan itu pukul tiga dini hari. Karena tak ada pilihan, dia pun akhirnya memesan satu tiket untuk dirinya.


Akio bingung harus menghubungi orang tuanya. Larut malam, mereka pasti sedang terlelap. Dia yang harus menyiapkan keperluannya, dia memilih mengirim pesan saja.


Di rumah Ken.


"Sayang ... Cinta ... Honey ...!" Ken berteriak-teriak memanggil Kei.


"Astaga ... ada apa dengan tua bangka itu. Pagi-pagi sudah berteriak heboh." Kei menepuk kening dan berjalan menghampiri Ken.


"Heboh-heboh! Ada apa?" tanya Kei.


"Sayang, jam tiga pagi, Io terbang ke negara xxx! Jangan-jangan Io menyusul Zee." Ken terlihat tegang.


"Apa ...! Io ke negara xxx?" Kei sangat terkejut.


"Kamu juga terkejut kan?! Dia tidak bicara dulu dengan kita. Cuma mengirim pesan kalau dia akan berangkat ke sana dengan penerbangan pukul 3 pagi." Ken mendesah berat.


"Tapi Io dan Zee sudah berbaikan, aturan sudah tidak pa-pa mereka bertemu," ujar Kei.


"Ough ... bukan begitu, Cinta. Yang ku takutkan itu keinginan Io, bukan keinginan Zee. Kalau seperti itu, bisa saja Zee semakin marah."


"Hem ... benar juga," kata Kei membenarkan ucapan suaminya.

__ADS_1


"Coba telpon sekretaris Lee. Tanyakan apa pendapatnya."


"Pagi begini dia sedang bertelur! Susah di hubungi." Ken berubah mendesis.


"Coba aku saja yang telepon mbak Dewi."


"Mom, Dad, ada apa sih? Rame banget," tanya Kyu, berjalan mendekat sambil menguap.


"Ih, anak gadis jorok banget," ucap Ken melihat Kyu.


"Apa sih! Orang bangun tidur ya wajar lah jorok. Jorok-jorok gini juga cintanya Daddy, kan?"


"Sttth ... kalian diam lah. Mom sedang teleponan dengan mbak Dewi!" Kei memperingati.


"Dad, ada apa sih?" Kyu masih penasaran, kenapa kedua orang tuanya sangat heboh di pagi buta.


"Kakakmu pergi ke negara xxx," jawab Ken.


"Hah? Ya biarin ... emang kenapa kalau kakak kesana? Mungkin kak Io mau liburan ke luar negeri," balas Kyu santai.


"Ck ... ini nih, jelasin lagi." Ken mendengus. "Di Negara xxx ada Zee, takutnya kakakmu ke sana mau menyusul. Nanti keadaan semakin rumit. Mereka sudah baikan dan komunikasi lagi, tapi belum tentu Zee sudah siap bertemu Io."


"Hah? Kak Zee ada di sana?!"


"Mulutmu jangan lebar-lebar, Kyu! Pencemaran udara!"


"Daddy, jahat ... hua ...!" Kyu menghentakkan kaki dan berlari masuk ke kamarnya. Sedangkan Ken ternyata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bagaimana?" Dia beralih menanyai Kei.


"Mbak Dewi juga nggak tahu. Sekretaris Lee sedang di kamar mandi, jadi belum bisa ditanyain."


"Kan ... apa aku bilang. Koi itu sedang bertelur."


Buk ... Kei memukul lengan Ken. "Sok tahu."


"Ah, kau tidak percaya. Ayo kita ke rumah Lee dan kita buktikan," tantang Ken.


"Apa udah nggak waras, seperti itu mau dibuktikan? Lagian ... apa kamu merestui kalau aku melihat sekretaris lagi di kamar mandi?" Kei mengangkat kedua alisnya, menggoda.


"HIYA ... NO ...!!"

__ADS_1


__ADS_2