Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Membuka mata


__ADS_3

Lahirnya seorang anak adalah anugerah terbesar sekaligus terindah, membawa kebahagian bagi kedua orang tua serta keluarga.


Kedua kalinya keluarga Ken diberi kepercayaan untuk menjaga amanah, menjaga malaikat kecil yang kelak menjadi penerus keluarga Kenichi.


Kebahagian hampir sempurna karna kali ini mendapat putri kecil yang sangat cantik, tanpa kekurangan apapun, semua sehat.


Hanya saja senyum dibibir Ken masih enggan untuk terbit. Ia tengah menggenggam tangan kurus dan pucat milik istri tercintanya yang sampai malam ini belum juga sadar. Seperti sedang terlelap dalam buai mimpi indah, hingga tak jua membuka mata.


"Bangunlah Honey, Aku, Kio dan putri kecil kita sedang menunggu mu," ucap Ken lirih nyaris tak terdengar.


Berjam-jam menunggu disamping Kei tak membuatnya bosan. Jemari tangan yang masih bertautan dengan nyaman.


Dipandangi wajah Kei yang masih pucat, seolah tak ada aliran darah.


Namun wajah itu masih sangat cantik dan sempurna untuk ditatap. Dia lah pemilik dari seluruh jiwanya.


Keihana Kazumi, wanita malang, wanita cacat, perempuan yang selalu dipandang hina dan diremehkan dimana pun keberadaannya. Sampai kecantikan alami dan kebaikan seperti malaikat tertutup dengan kekurangannya.


Bahkan untuk pertama kali dia sendiri selalu menolak mentah-mentah keberadaan wanita malang itu. Mencaci, memberi kesulitan, bahkan berpikir untuk melenyapkannya. Hah, dia dulu memang kelewatan dan kejam.


Bergulirnya waktu, merubah perasaan benci menjadi setitik rasa kagum. Kagum dengan ketegaran dan ketulusan yang dimiliki Kei. Kesulitan apapun mampu dilewati dengan sebuah senyum tulus. Bahkan kebaikan yang dilakukan tak pernah meminta balasan pamrih. Semua dilakukan dengan ikhlas.


Tak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Bermurah hati selalu memberi maaf untuk orang yang telah melukainya.


Ken bergeming. Semua ingatan masa lalu kian bermunculan, berjajar seperti sedang mengantri untuk diingat.


Teringat dengan kenangan buruk yang lengkap dengan perlakuan buruknya kepada Kei, menimbulkan sejumput rasa bersalah dan menyesal. Namun bukan kah itu sudah berlalu. Masa lalu yang tak pernah ingin diingat. Jika mampu akan mengubur masa itu dalam-dalam.


Suara detak jantung berasal dari layar monitor membuat gendang telinganya berdengung sakit. Menimbulkan suara mencekam, bahkan menambah kekalutan dalam hati.


Apa yang harus ia lakukan?


Tak ada.

__ADS_1


Yang harus dilakukan hanya menunggu dan menunggu sampai bidadari pemilik hatinya akan kembali membuka mata dan berharap tersenyum manis kearahnya.


Ah... ia semakin merindukan sosok wanita lembut dengan segudang pesona yang mampu meruntuhkan bongkahan salju. Hingga kini sikap dinginnya perlahan mencair.


Ken beranjak pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka agar lebih segar.


Tak ada seorang pun di ruang itu selain Kei yang tengah berbaring lemah. Suara detak jantung di monitor masih setia terdengar mengalun dengan nada teratur.


Kelopak mata yang terpejam rapat mulai mengendur, dengan perlahan bergerak-gerak sebelum akhirnya berhasil terbuka secara keseluruhan. Melirik kesana kemari tapi tak ada siapa pun.


Kei menghembuskan nafas perlahan. Menyesapi rasa sakit yang menjalar disekujur tubuh. Terasa lemah juga remuk redam. Bahkan tengkorak kepalanya ikut berdenyut.


Tangan yang bebas tanpa ada jarum yang menusuk ia gunakan mengusap bagian perut. Sedikit terkejut mendapati perutnya tak lagi membesar. Ingatan demi ingatan ia urai kembali. Terakhir ia berada di taman, lalu mengantar putra kesayangan ke kamar mandi. Dan... setelah itu. Tidak!!!


*Dimana bayiku?


Apa dia baik-baik saja*?


Baru tersadar perasaanya semakin kalut dan khawatir. Ingin menggerakkan anggota tubuh tapi terasa kaku. Dari mulutnya hanya terdengar erangan namun tak bisa berbuat apa-apa.


Setetes airmatanya berhasil lolos, tak membutuhkan waktu lama sudah terisak dalam diam. Lidahnya semakin kelu dan kaku. Tangisan dalam diam.


Hal-hal buruk sudah berseliweran menghantui. Ia bahkan menggelengkan kepalanya. Mencoba mengusir bayangan menakutkan itu.


Dimana semua orang? kenapa tak ada yang menemani? atau sedang...?!


Di dalam kamar mandi Ken baru usai membasuh wajah, ketika memandang wajah sendunya didalam cermin lamat-lamat ia mendengar suara orang menangis.


Dahinya mengernyit, langsung dihinggapi rasa keheranan. Siapa kah yang menangis?


Tidak mungkin kan itu suara Kei?


Demi rasa penasaran yang tinggi, ia segera melangkah keluar. Begitu membuka pintu dan melihat keranjang ia benar-benar terkejut.

__ADS_1


Bahu Kei bergetar karna menangis, dengan langkah lebar ia segera menghampiri. Ia khawatir Kei sedang kesakitan.


"Honey... kau sudah sadar?" Ken sudah berdiri disamping Kei dan mencium pucuk kepala Kei yang masih terbalut perban putih.


Kei langsung memindahkan tangan kiri yang tadi digunakan untuk menutup wajah. Sedikit mendongak untuk menatap wajah suaminya.


"Di dimana a anak ki ta?" tanya Kei dengan suara terbata. "A pa di a baik ba ik saja?"


Ken beralih mencium punggung tangan Kei, menatap mata sang istri dengan lekat. " Kenapa kau menangis? apa ada yang sakit?" bukannya menjawab pernyataan. Justru merespon dengan kecemasan. Ken telah beralih menekan tombol dokter agar segera datang dan memeriksa keadaan Kei.


Ia takut terjadi sesuatu karna tadi melihat Kei menangis.


"Sa yang... an nak ki ta, di mana?" kembali Kei bertanya dengan suara yang masih saja tersendat. Seolah sangat kesulitan dalam berkata.


Sebelum Ken menjawab, beberapa dokter dan perawat sudah muncul dari balik pintu. Segera menghampiri ke ranjang dan dengan cekatan mengecek semuanya, dari detak jantung, tensi darah.


"Alhamdulillah, anda sudah sadar dan kondisi anda sudah membaik."


"Do k, ke na pa sa ya Kesu li tan berbi cara?" tanya Kei masih dengan suara terbata.


"Tidak pa-pa Nona, hal itu wajar karna saraf yang menghubungkan ke lidah masih belum berfungsi secara normal. Bicara perlahan saja, nanti bisa lancar." terang dokter Stevi.


"Tapi istri saya tidak kenapa kan? dia baik baik saja? masih bisa berbicara normal? bisa sembuh. Atau harus pindah rumah sakit? ke Singapore, Swedia, Amerika." Ken ikut menyela. Pertanyaan yang mengandung kecemasan.


Dokter Stevi menanggapi dengan senyum lucu dengan menggelengkan kepala. Padahal Ken sudah ketakutan setengah mati. Apa istrinya akan menjadi gagap?


"Tidak perlu, Tuan. Besok saja Nona sudah bisa berbicara lancar. Tidak apa, tuan, tidak apa. Kondisi Nona sudah membaik, tinggal pemulihan saja."


"Oh ya, putri kecil anda sedang berada diruang bayi. Sebentar, saya akan menyuruh perawat untuk membawanya kemari. Dia sangat cantik seperti anda." dokter Stevi tersenyum kearah Kei.


"Pu putri?" ulang Kei dengan nada terkejut, menatap Ken dan berganti dokter Stevi.


"Iya Sweety. Anak kita berjenis kelamin perempuan, dia sangat cantik seperti mu." senyum dibibir Ken mulai terlihat. Jemari yang tak lepas sedikit pun dari genggaman jari Kei.

__ADS_1


__ADS_2