
Di negara yang terkenal dengan keindahan alamnya, bangunan megah bergaya arsitektur tinggi menjadi salah satu negara yang ingin ditinggali oleh seorang perempuan yang tengah patah hati. Membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan hati dan jiwanya yang sedang dipenuhi luka menganga.
Beberapa hari dia terus mengurung diri di sebuah apartemen. Tak henti menerutuki takdir buruk dengan menangis dan terus menangis.
'Kak Io, aku padamu ...
Kak, kau pangeranku ...
Kaaaak, sebentar lagi aku akan menjadi istrimu ...'
Dadanya semakin bergemuruh hebat ketika mengingat kata-kata itu. Bukan hanya di hatinya saja nama Akio terukir indah, bahkan di setiap benda yang dimiliki ada keisengan tangannya yang selalu mengukir nama tersebut.
Begitu dalam perasaan perempuan itu terhadap pria bernama Akio. Ya! Dalam sekali. Selama ini, seolah tujuannya hidup hanya untuk Kak Io nya saja, hingga ketika apa yang diinginkan tidak sesuai, maka rasa sakitnya terasa amat luar biasa.
Andai tak ingat papa dan mamanya, dia tak akan ragu untuk mengakhiri hidup. Semua karena perasaan kecewanya.
Belum usai mengenang masa harapannya bersama Akio, bagian dada terasa sesak kembali saat sebuah kalimat terakhir yang diucapkan Akio. Kalimat yang ditujukan bukan untuknya, melainkan untuk perempuan lain.
'Saya terima nikah dan kawinnya Khanayya Rumi Sahila dengan mas kawin 100 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.'
Seharusnya yang disebut adalah namanya, bukan nama perempuan lain. Harusnya yang menjadi istri Akio adalah dirinya bukan Khanaya.
"Akh ...!!!" Dia tergugu dengan meremas dadanya yang tak berangsur lega. Masih saja sesak dan sakit.
Dan ... 2 Minggu lamanya tinggal di negera orang, baru pagi ini Zee melangkah keluar dari zona keterpurukan. Gadis itu tak bisa berlama-lama menangis dan mengurung diri, ada jadwal kuliah yang harus di hadiri mulai pagi ini.
Meski jiwanya masih enggan, namun dia bertekad untuk bangkit. Mencoba menjalani hari baru walau sudah kehilangan separuh hidupnya.
Zee berdiri di halte dan memberhentikan transportasi umum. Semua fasilitas yang disediakan ayahnya sudah lengkap, tetapi dia malas untuk menyetir mobil, memutuskan untuk pergi menumpangi bis.
Ketika raganya duduk dengan tenang, tapi tidak dengan hatinya. Beberapa kali dia mengecek nomor Akio, di sisi lain ingin membuka blokir-an nomor pria itu, tetapi sisi lain menolak keras. Sekarang, setiap teringat dengan Akio, dia juga teringat dengan Naya. Maka dia selalu mengurungkan niat.
__ADS_1
Sewaktu Akio mengucap ijab kabul, sebenarnya dia ada di sekitar sana. Masih ada harapan meski sangat tipis, semua hanya mimpi atau sebuah lelucon saja tapi harapan tinggal harapan, nyatanya harapan itu melebur ketika kata 'sah' sudah di dengar.
Saat itu, detik itu, dia kehilangan Akio. Dia kehilangan separuh hatinya juga kehilangan semangat hidup. Zee langsung menuju bandara tanpa menunggu kedua orang tuanya pulang, sang adik yang menemaninya ke bandara.
Di ruang tunggu, Zee langsung mem-blacklist nomor orang-orang dari masa lalu agar hatinya mudah melupakan. Meski dia tahu itu sulit.
Tring ...! Dia dikejutkan dengan deringan ponselnya. Zee tersenyum sesaat, karena perempuan paling mengerti hatinya tengah menelpon.
"Halo, Ma?"
'Halo, sayang. Mama sangat merindukanmu, Nak.'
"Zee jauh merindukan mama. I love you." Zee melirik sisi kanan dan kiri, dia lupa sedang berada di bis.
'Kamu lagi di mana, Zee? Suaranya berisik sekali,' ujar Dewi.
"Zee lagi di bis, Ma."
'Loh, di bis? Memang kamu mau kemana?' Dewi bernada terkejut. Di sini, dia tak pernah membiarkan gadisnya menumpangi kendaraan umum. Dan sekarang, Zee berada di negara orang justru menaiki bis? Tentu saja Dewi langsung panik.
'Apa papa nggak sewa mobil untuk kendaraan di sana?'
"Ada, tapi Zee lagi pengen naik bis. Tenang, Ma, di sini lebih aman." Zee yang hapal dengan nada kepanikan mamanya lekas menangkan.
'Baik tuan muda, saya akan siapkan keperluannya besok pagi.'
Samar-samar Zee mendengar suara papanya sedang menyebut dan berbincang dengan seseorang. Tuan muda, dia tahu sebutan itu ditujukan kepada siapa. Hatinya mendadak berdebar. Rasanya dia juga ingin menghubungi seseorang itu seperti dulu, tetapi itu tidak mungkin. Lukanya akan bertambah menganga.
"Ma, Zee sudah mau sampai, sudah dulu ya nanti Zee telpon balik."
"Hati-hati sayang, jangan lupa hubungi Mama lagi," pesan Dewi, dan panggilan diakhiri sepihak.
__ADS_1
Di sana air mata Zee kembali menggenang. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melupakan semuanya. Yang pasti, saat ini hatinya masih sangat rapuh.
*
Hari-hari berjalan begitu saja. Tak ada yang berubah, dengan semua berjalan bagaimana mestinya.
Satu bulan tinggal di rumah Akio membuat Naya terus-menerus memendam perasaan hati.
Beberapa kali Naya mengalami tekanan dari oma Lyra, juga dengan sikap Kyu. Namun Naya tak menceritakan apapun pada Akio. Rasa bersalahnya karena terus dipojokan menjadikan Naya hanya diam tanpa ingin memperkeruh suasana.
Hanya sesekali Naya meminta izin untuk main ke rumah ibunya, lalu sore hari sepulang dari kantor Akio akan menjemputnya. Karena Di rumah ibunya dia bisa merasa tenang.
Naya menghela napas panjang ketika keluar dari lift telah mendapati oma Lyra menyambut. Naya mencoba mengumbar senyum meski tahu tak akan mendapat balasan. Dia hanya menerapkan adab yang dia tahu, bahwa harus menghormati orang yang lebih sepuh, terlepas apapun perlakuannya.
Oma Lyra mencelos, sesepuh itu sangat tidak menyukai Naya. Oma Lyra yang tidak fokus hampir terjatuh ketika sendalnya hampir terlepas.
Naya yang berpapasan reflek memegangi pundak oma Lyra. "Oma, hati-hati."
"Awas! Nggak usah dipegangi!" sentak Oma Lyra dengan menghempas tangan Naya.
"Ada apa, Oma?" Entah dari mana asalnya, Kyu sudah mendekat. "Eh, kakak pegang Oma mau dorong apa mau gimana?" Kyu bertanya, tetapi juga seperti menuduh.
"Aku pegang Oma karna Oma mau jatuh," jawab Naya.
"Kok muka Oma kesal begitu?"
"Dia mau menolong biar dianggap baik, Kyu. Tapi Oma tetap tidak akan menganggapnya. Kalau dia baik, dia tidak akan muncul dan mengacaukan rencana keluarga kita," sahut Oma Lyra.
Naya menunduk sambil memejamkan mata barang sejenak. Ini bukan pertama mendapat sikap demikian. Dilain kesempatan, ketika tak ada siapapun, rasanya dia takut untuk bertemu atau sekedar berpapasan dengan nenek dari suaminya karena sikap oma Lyra yang tidak menyukainya.
Sebenarnya oma Lyra bukanlah orang yang jahat, terbukti ketika dia menerima Kei apa adanya. Hanya saja, dia memandang Naya dari sisi berbeda, maka penilaiannya pun berbeda.
__ADS_1
Kyu tidak bertanya lagi, tetapi langsung membawa oma masuk ke lift.
Naya mengelus dada, setelahnya berpindah mengelus perut. "Sabar, Nay, anggap saja tidak terjadi apapun. Bertahan sebentar, tunjukan pada mereka kalau kamu pun tidak ingin diposisi ini. Buktikan juga pada mereka, suatu saat kamu bisa mengembalikan Zee untuk keluarga ini, lalu pergi sejauh-jauhnya."