
Selesai berbincang dengan ibunya, Naya meraih ponsel untuk memberi kabar pada Dina. Tadinya, dia sempat membaca kilas pesan Dina yang bertanya tentang keadaanya. Maka dari itu sekarang berniat untuk membalas.
Namun, dahinya mengerut demi melihat ratusan pesan masuk dari grup kelas. Bahkan ada yang langsung meng-add namanya. Dia sangat penasaran dan membuka.
Bola mata hampir terlepas, dan detik berikutnya cairan bening mulai berdesakan keluar. Lonjakan debaran jantung sangat menyakiti dada. Bahkan terasa sesak dan mulai kesulitan bernapas. Dia membekap mulut dengan isak tangis ditahan, takut jika ibunya mendengar suara tangis dan menjadi khawatir.
Tangannya terserang tremor sampai ponsel yang dipegang jatuh di atas kasur. Perempuan yang terisak pilu itu memejamkan mata dengan menggigit bibir bawah kuat-kuat, berusaha mengalihkan kekacauan pikirannya.
Hancur, sedih, kecewa, sakit hati, juga sangat malu, semua bercampur menjadi satu. Teman-teman telah mengetahui aibnya, dan men-judged tanpa perasaan.
"Tuhan, aku berdosa telah berzina, apa ini karma yang harus ku terima lunas di dunia ini." Dia meremas pakaian yang menutupi dada, dengan kuat. Di sana rasanya sangat sesak.
"Apa yang harus kulakukan? Aku nggak mau ada bayi dalam perutku. Aku nggak mau! Aku ... aku belum siap dalam situasi seperti sekarang." Naya memukuli bagian perut dengan gerakan asal.
__ADS_1
Terpuruk, buntu, kena mental, hingga mempengaruhi pikiran sehatnya. Entah bisikan dari mana, yang membuatnya mengambil gelas bekas minumnya tadi dan membanting ke lantai hingga berserak tak beraturan.
Sreeeeett ...
Di luar, Akio yang berdiri di seberang rumah Naya terkejut mendengar suara pecahan benda begitu keras. Dia yang tadinya sudah hampir meninggalkan rumah Naya terpaksa batal.
Menit berikutnya terdengar teriakan dari dalam rumah Naya. Teriakan itu terdengar panik. Menduga telah terjadi sesuatu. Akio terkejut, tapi bingung harus bagaimana.
Akhirnya, satu jam berikutnya.
"Ya Allah, semoga anakku bisa terselamatkan," doanya.
"Naya pasti selamat, Mbak." Seseorang yang duduk di samping ibu Naya mencoba menenangkan. Dia mengusap bahu ibu Naya yang bergetar.
__ADS_1
"Tik, aku takut kalau Naya ... Naya nggak bisa terselamatkan. Dan aku ... aku bagaimana, Tik? Aku akan sendirian. Kenapa Naya nekad melakukan ini?"
"Mungkin Naya sedang ada masalah, terlalu stres dan terpikir untuk mengakhiri hidup."
Akio yang berdiri tak jauh dari ibu Naya, sangat jelas mendengar perkataan ibu Naya dengan perempuan paruh baya, yang tak lain tetangga Naya. Hatinya dilingkupi rasa bersalah. Dia paham, apa yang membuat Naya nekad melakukan percobaan bunuh diri. Harusnya kamu nggak ngelakuin ini.
Pintu ruangan terbuka. Saat dokter baru keluar, ibu Naya sudah mendekat. "Bagaimana dengan anakku, Dok?" tanyanya dengan nada penuh khawatir.
Dokter menghela napas. Lalu menjawab, "beruntung anak ibu masih bisa diselamatkan ...."
"Alhamdulillah, Gusti," ucap Ibu Naya penuh kelegaan.
"Tapi keadaan putri Ibu belum bisa dikatakan stabil. Karena pasien sendiri sedang hamil muda, ditakutkan sewaktu-waktu kondisinya bisa menurun dan membahayakan calon anaknya. Kami akan mengecek pasien satu jam sekali untuk memantau perkembangannya. Sekarang, saya permisi dulu," kata dokter.
__ADS_1
Ibu Naya hanya mengangguk-angguk.