
"Walau berstatus majikan bukan berati kita bisa seenaknya terhadap bawahan, mereka juga manusia yang punya hak untuk dihargai."
"Ya ampun, ternyata kamu sangat bijak Kei."
"Tetapi bukan sok bijak ya mbak, cuma memberitahu apa yang aku tahu. Hihihi..." Kei tertawa cekikikan diakhir kalimat merasa lucu dengan ucapannya.
"Iya aku tau, kamu memang baik tetapi bukan sok baik. Hahaha..." Dewi berganti membalas candaan Kei dengan tertawa.
"Ya sudah ayo kita masuk." Kei mengajak Dewi untuk masuk kedalam mobil, sebelumya sudah menyuruh salah satu pengawal untuk mengikuti di dibelakang dengan mengendarai motor Dewi.
Didalam mobil keduanya mengobrol, bercerita dan juga bercanda, menikmati waktu untuk bersenang-senang menghibur diri satu sama lain.
Mobil berhenti didepan Restauran yang lumayan besar dan ramai pengunjung, Kei tidak memilih tempat yang terpenting baginya Restauran itu nyaman. Tidak menempuh perjalanan jauh karna kasihan dengan Dewi yang harus kembali ke Kantor setelah jam izinnya selesai.
Kei dan Dewi masuk kedalam Restauran yang terbilang mewah dengan design interior masa kini. Kei memilih meja didekat jendela kaca agar bisa menikmati pemandangan luar.
"Kei, Restaurannya sangat berkelas pasti biaya tagihannya juga mahal."
"Tidak pa-pa mbak, sudah kita nikmati saja jarang-jarang kita bisa bersama seperti ini." Kei memesan menu makanan sambil menunggu makanan tersaji keduanya kembali bercerita, 2pengawal masih tetap berjaga didekat Kei.
Tring...tring...
Handphone yang tersimpan ditas kecil berbunyi, Kei segera mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya. Nama 'Tuan Ken' yang tertera dilayar handphonenya. Kei memukul kepalanya pelan, bagaimana bisa dia melupakan pesan dari suami posesifnya. Dia benar-benar lupa tidak menghubungi tuan Ken.
"Hallo, tuan." segera menjawab ketika sudah tersambung.
"Kau dimana?" Ken bertanya.
"A-aku sedang berada di Restauran xxx,"
"Kenapa tidak menghubungiku!"
"Iya, maaf. Aku lupa."
"Huh, bagaimana bisa kau melupakan aku!" Kei bisa menebak jika tuan Ken pasti sudah kesal.
"Iya tuan maaf." tanpa memberitahu Ken mematikan sambungan telpon secara sepihak.
"Dasar tuan arogan, se-enaknya sendiri mematikan telpon. Jika aku yang melakukannya sudah pasti kau sangat marah!" Kei menggerutu pelan, tangannya sibuk menyimpan kembali handphone miliknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Kei?" Dewi bertanya, dia tidak begitu jelas mendengar ucapan Kei yang lirih.
"Oh, tidak pa-pa kok mbak,"
"Eh, kamu lucu ya.. memanggil suami sendiri dengan sebutan tuan. Hahaha..." Dewi tertawa lucu.
"Yah, begitulah mbak." Kei menjawab cuek. Beberapa pelayan Restauran datang dan menyajikan pesanan mereka, Kei dan Dewi segera mengambil makanan yang begitu menggiurkan selera lidahnya, mereka berdua tidak sabar ingin menikmati.
"Makanannya lezat sekali ya, Kei." Kei mengangguk dan tersenyum.
"Kalau kamu setiap hari bisa makan makanan seperti ini, sedangkan aku harus menunggu uang gajiku cair baru bisa makan enak. Hehe..." Dewi menyengir kuda, dia tipe perempuan yang apa adanya, terbuka, humoris dan ramah.
"Iya mbak, tetapi beda koki beda juga rasa makanannya."
Restauran yang tadinya sunyi tidak terlalu berisik kini terdengar suara gaduh, entah apa yang membuat suasana berubah. Kei dan Dewi tidak terlalu peduli, keduanya sedang menikmati makanan dipiring mereka masing-masing.
Dewi yang mengetahui lebih dulu, diam mematung melihat dua lelaki yang sangat familiar berdiri dibelakang Kei. Tangan kanannya dibiarkan menggantung diudara. Kei merasa aneh dan memberi isyarat, ingin mengetahui apa yang membuat Dewi menghentikan makannya. Dewi memberi isyarat lewat jari telunjuknya yang menunjuk kearah tuan Ken. Kei langsung menoleh kebelakang, melebarkan mata, ternyata tuan Ken sudah berdiri dibelakangnya.
"Tu-tuan..."
"Kau sangat menikmati makananmu." Lee menggeser kursi untuk tempat duduk tuan Ken. Orang-orang dari berbagai kalangan seketika memperhatikan meja mereka.
"Hei, apa aku tidak boleh kemari!"
"Bukan begitu tuan, aku hanya bertanya bukankah anda diKantor lalu tiba-tiba berada disini."
"Aku cemas karna kau tidak menghubungiku." Kei membuang nafas, dia lupa jika suaminya itu posesif.
"Sudah ada pengawal yang menjaga, tuan tidak perlu cemas."
"Jadi kau tidak suka aku tiba-tiba datang!" Ken sudah terlihat kesal. 'Huh, hari bersenang-senangku harus berakhir.' batin Kei.
"Tidak seperti itu tuan, aku bahkan sangat senang jika anda meluangkan waktu." Kei mengatakan kalimat yang berbanding terbalik dengan suara hatinya. Ken melihat kearah Dewi dengan datar, Dewi segera menganggukkan kepala sebagai tanda hormat. Lee memanggil pelayan dan memesan menu makanan untuk tuan Ken.
"Lee, duduklah." sekretaris Lee mengangguk dan duduk disamping Dewi. Dewi memperhatikan sekretaris Lee yang sama sekali tidak melihat kearahnya.
'Lelaki ini sudah seperti patung bergerak, wajahnya jarang tersenyum. Hei tuan, jika kau terlalu serius kau akan cepat tua.' Dewi memaki sekretaris Lee dalam hati, diKantor bukan hanya tuan Ken yang terlihat dingin, tangan kanan yang paling setia itu juga memiliki rumor yang sama dengan tuannya. Sama-sama dingin dan super cuek, tetapi sesekali sekretaris Lee masih menunjukkan keramahan tidak seperti tuan Ken.
"Makanan anda diatas meja nona, bukan didepan wajah saya." Lee berkata tanpa menoleh kearah Dewi. Dewi langsung tertunduk malu terciduk telah memandangi wajah sekretaris Lee. 'Sial, benar-benar memalukan! bisa-bisanya dia berbicara seperti itu, dikira aku nge-fans sama dia. Huh..' lagi-lagi Dewi membatin.
__ADS_1
Kei dan Dewi sudah tidak ceria seperti tadi, saat ini seperti bersama polisi yang akan memberi hukuman jika mereka salah berkata.
"Kau tidak boleh sering berada diluar."
"Kenapa?"
"Hah, tidak lihat banyak mata lelaki yang memperhatikanmu."
"Mereka memperhatikanku, tetapi aku tidak memperhatikan mereka tuan."
"Tidak bisa, tidak boleh ada yang memperhatikanmu. Kau boleh pergi keluar jika bersamaku."
"Tetapi anda sibuk."
"Aku akan meluangkan waktu bersamamu."
"Yang benar saja, tuan tidak pernah mengajakku diner. Ups..." Kei menutup mulutnya yang sudah salah berucap. Ken langsung memandang kearah Kei dan tersenyum tipis.
Dewi memperhatikan percakapan tuan Ken dan Kei, baru tau sikap asli tuan Ken yang bisa berbicara lembut sangat berbeda saat bertemu dikantor yang terlihat dingin dan menyeramkan.
"Apa kau menginginkan momen seperti itu?" Ken bertanya.
"Tidak juga tuan."
"Jadi kau tidak menginginkannya?"
"Kita sudah diner setiap malam tuan, makan malam bersama, iya 'kan?" Ken tidak lagi menanggapi, melanjutkan makan.
"Setelah ini ada jadwal apa, Lee?"
"Tidak terlalu padat tuan, anda tinggal mengecek laporan saja."
"Setelah makan ikutlah keKantor." Kei menggeleng kuat.
"Kau tidak mau? besok tidak ada lagi izin keluar rumah." Ken mengeluarkan ancaman, jika sudah begitu jalan terbaik Kei harus menurut.
"Baiklah, aku ikut keKantor." Kei tidak bersemangat, memanyunkan bibir.
"Jangan seperti itu! kau tau jika seperti itu aku ingin..."
__ADS_1
"Ah...iya-iya aku tau!" dengan cepat Kei memotong perkataan tuan Ken, sudah tau kalimat lanjutannya.