
Pagi ini tuan Ken pergi ke Kantor dengan wajah kusut, tidak memperdulikan gunjingan para karyawan, dia terus saja berjalan menuju ke lift.
"Tuan muda, apa hari ini anda tidak enak badan?" sekretaris Lee bertanya, sedari tadi tuan Ken terdiam. "Beberapa hari ini rasanya aku lelah." Ken memijat pelipisnya.
"Anda butuh istirahat, tuan muda." sekretaris Lee memberi saran. "Bagaimana aku mau istirahat Lee, penyakit aneh atau ngidam aneh Kei belum hilang, bahkan semakin menjadi." kata Ken dengan nada frustasi.
"Kau tau! tadi malam aku baru memejamkan mata 2jam Kei sudah menggangguku dengan ngidamnya yang aneh." terlihat tuan Ken yang sedang kesal saat menceritakan itu.
"Sabar tuan muda, bukankah anda yang menginginkan seorang anak." kata Lee. "Aku memang menginginkan anak Lee, tapi aku tidak tau jika menjadi calon Deddy ternyata menyusahkan!"
Ting...
Lift terbuka, Lee mempersilahkan tuan Ken keluar lebih dulu. Lee mengikuti tuan Ken masuk keruangannya. Ken duduk dikursi kerjanya.
"Tuan muda, tuan Ray satu minggu lagi akan pulang." Lee memberitahu. Ken menaikkan alisnya. "Dia menghubungimu?" tanya tuan Ken.
Lee mengangguk. "Biarkan saja." Ken menjawab singkat, tangannya memijat pelipis.
"Apa tuan muda perlu diantar kerumah sakit?" Lee terlihat khawatir dengan kesehatan tuan Ken. "Tidak perlu Lee, aku tidak pa-pa." tuan Ken menolak.
"Baik tuan muda, saya akan kembali keruangan. Satu jam lagi kita ada metting di Restauran xxx." Lee mengingatkan jadwal tuan Ken, setelah melihat tuan Ken mengangguk Lee berjalan keluar dan menuju keruangannya sendiri.
Sampai didalam ruangan, Lee menjatuhkan tubuhnya disofa. "Padahal aku ingin mengatakan berita bahagia tentang lamaranku dengan Dewi, tetapi tuan muda masih banyak pikiran. Aku harus menundanya." gumam Lee pelan.
Jam berputar begitu cepat, hingga tidak terasa jika sudah waktunya untuk pulang. 2kali menghadiri metting diluar Kantor membuat tuan Ken dan sekretaris Lee begitu letih, setelah menghadiri pertemuan di Restauran xxx kini Bos dan sekretarisnya itu sedang diperjalanan menuju pulang kerumah.
Ken yang duduk dikursi penumpang melihat pemandangan diluar jendela yang terlihat hitam dari luar, tetapi orang yang ada didalam mobil itu bisa dengan jelas melihat pemandangan kendaraan lain yang berjajar disampingnya. Tuan Ken mendesah berat ketika dihadapi dengan kemacetan. Menunggu hal yang paling ia benci.
Lee nampak berpikir, menimbang keputusannya apakah ingin mengatakan sekarang atau harus menundanya lagi.
"Tuan muda,"
__ADS_1
"Hem..." Ken berdehem, memejamkan mata meski tidak tertidur lelap, matanya lelah jika memandang keluar jendela dan hanya membuatnya bosan.
"Saya ingin mengatakan sesuatu." Lee melirik tuan Ken dari kaca spion didepannya.
"Katakan saja." menjawab singkat, memang dia selalu irit bicara dan juga malas mengeluarkan kosa kata.
"Saya sudah menemukan candu."
"Bagus." Ken tidak fokus mendengarkan.
'Kenapa respon tuan muda biasa saja?' Lee membatin, dia bingung harus melanjutkan niatnya atau tidak.
"Dan... bulan depan saya sudah akan menikah tuan." akhirnya mengatakan.
"Apa... menikah?" Ken setengah berteriak, dia yang awalnya tidak merespon ketika mendengar Lee akan menikah itu tiba-tiba terkejut dan menegakkan tubuhnya.
"Iya tuan muda."
"Temannya nona Kei, tuan."
"Dia, gadis OB itu? hahaha..." Ken tergelak, membuat sekretaris Lee menggerutu kesal sudah merendahkan candunya. Jika Lee berani dia akan membalas ejekan tuan mudanya, karna istri tuan muda dulu juga seorang OB dan itu tuan Ken sendiri yang menempatkannya menjadi OB. Bukan hanya OB, nona Kei juga bekas orang lain gadis yang dulunya cacat. Tentu saja Lee tidak berani jika dia mengatakan itu bisa tamat riwayatnya sekarang juga.
"Seleramu bagus, Lee." setelah tadi tergelak, tuan Ken berganti memuji pilihan sekretarisnya itu.
'Kenapa anda tadi menghina jika sekarang berganti memuji.'
"Saya merasa cocok dengan Dewi, daripada keduluan orang lain lebih baik segera dihalalkan. Tadi malam saya sudah resmi melamarnya." Lee sedikit curhat, meski tuan Ken dingin dan terlihat tidak peduli tapi Lee sangat paham tuan Ken pasti merespon ucapannya.
"Wow... kau bergerak cepat Lee. Aku dukung keputusanmu, jika perlu sesuatu katakan saja."
"Terima kasih tuan muda, saya dan Dewi bersepakat menikah secara sederhana saja."
__ADS_1
"Kenapa tidak mengadakan pesta, aku bisa membantumu." Ken tau Lee selalu mendukung dan selalu ada dikala situasi apapun, kini dia ingin membantu jika Lee menemukan kesulitan.
"Iya tuan muda, sejauh ini saya bisa mengatasi. Dan saya sudah meyakinkan Dewi agar mengadakan pesta tetapi gadisku tidak mau. Jadi, cukup dengan ijab qobul saja tuan." Kata Lee. Ken menganggukkan kepalanya.
Pembicaraan yang panjang tadi mengalihkan kebosanan didalam perjalanan, kini mobil itu sudah sampai dirumah tuan Ken. Lee membuka pintu untuknya, segera tuan Ken keluar dan masuk kedalam rumah. Lee masih setia mengekor dibelakang.
Ketika membuka pintu kamar kedua bola mata Ken tidak menemukan istri manjanya, 'Kemana dia?' tentu pertanyaan itu yang muncul. Ken kembali keluar kamar. "Ada apa tuan muda?" Lee yang berdiri didepan pintu bertanya.
"Kei tidak ada dikamar, kemana dia?" kata Ken bertanya-tanya. Segera menuruni anak tangga.
"Ada apa, tuan muda?" kepala pelayan yang baru datang bertanya.
"Dimana istriku?" bertanya dingin.
"Nona Kei sedang duduk disamping kolam renang, tuan muda" jawab kepala pelayan. Mendengar itu Ken bernafas lega dan menuju ke halaman belakang.
Dari pintu sudah terlihat Kei duduk dipinggiran kolam dengan kedua kakinya yang dia masukan kedalam air. Tidak jauh dari posisi Kei duduk ada 2bodyguard perempuan yang menjaga tuan putri itu.
Ken mendekat. "Honey, kenapa melamun sendirian?" Ken berdiri dibelakang Kei, kedua tangannya dia masukan kedalam saku celana. Tuan muda yang begitu tegap dan terlihat sangat perfect.
"Sayang, sudah pulang." Kei tersenyum hangat menyambut suaminya. "Aku ingin berenang tapi tidak bisa." kata Kei sedih, dia tergiur dengan jernihnya air kolam dan ingin merasakan bagaimana bergerak bebas didalam kolam yang luas itu.
"Kau ingin berenang? aku bisa mengajarimu." Ken mulai melepas jas, kemudian melepas kancing kemeja.
"Tidak perlu sayang, kamu baru pulang, pasti lelah." Kei mencegah. "Tidak pa-pa Honey, lelahku hilang jika sudah bersamamu."
"Huh, gombal!" mendengus sebal.
"Jadi kau tidak suka aku gombalin!" menghentikan tangan yang ingin melepas ikat pinggang. Raut wajah yang sumringah tadi sudah berubah masam. Kei melirik, 'Huh, ternyata dia tetap tuan Ken yang arogan dan pemarah.' batin Kei.
"Ho... aku sangat suka dong, digombalin suamiku." tersenyum paksa. Ken melanjutkan melepas ikat pinggang dan melepas celana panjangnya kini hanya tersisa celana pendeknya saja. Ken mendekat Kei dan duduk disampingnya.
__ADS_1