
Hari kian berlalu dengan begitu cepat, meninggalkan kenangan pahit dan manis. 4bulan sudah berlalu dengan suka dan duka, semua dilewati dengan kebersamaan. Dengan sikap yang bertolak belakang tapi tidak membuat cinta tuan Ken berkurang, orang yang dulunya egois itu bisa perlahan menahan ego demi Kei, istri tercintanya.
Diusia kehamilan yang memasuki 5bulan, perut Kei sudah terlihat sedikit membuncit. Begitu bahagianya tuan Ken saat pertama kali tangannya merasakan tendangan bayi yang ada didalam perut Kei, tentu kebahagiaan itu dirasakan oleh Kei setiap kali merasakan didalam perutnya ada yang bergerak. Setiap merasakan pergerakan dari bayinya, Kei mengusap perutnya dengan sayang.
2Hari ini Kei sedang membujuk tuan Ken untuk memberi izin mengunjungi makam kedua orang tuanya yang ada didesa, sudah sangat lama dia tidak pernah pulang kerumahnya yang dulu.
Tuan Ken masih sangat berat memberi izin, tentu saja khawatir jika terjadi apa-apa dengan kandungan Kei. Tidak ingin mengambil resiko berbahaya, jika melakukan perjalanan jauh. Tuan muda arogan itu sedang menimbang keputusannya, antara memberi izin atau menundanya sampai bayi itu lahir. Tetapi Kei terus memaksa ingin berkunjung ke desa-nya.
"Oke, Honey. Kita akan pergi besok pagi." dengan berat hati mengatakan itu.
"Tapi ingat, kita disana hanya satu malam. Setelah itu, besok paginya kita langsung pulang." sebelum berangkatpun tuan Ken sudah membuat jadwal pulang.
Mendengar izin itu mata Kei yang sayu tadi langsung berubah berbinar, senyum lebar terbit dengan cerah.
"Terima kasih, sayang... terima kasih banyak, aku sangat mencintaimu." begitu senangnya, Kei memeluk tuan Ken.
"Jangan kencang-kencang Honey, anak kita bisa kejepit." kata tuan Ken, tangannya mengusap perut Kei setelah pelukan itu terlepas Ken menundukkan kepala dan mencium perut Kei. "Baby, besok kita akan melakukan perjalan jauh, kau harus baik-baik saja. Kau harus menjadi baby yang kuat."
"Oke, Daddy.. terimakasih, Daddy sudah mengabulkan semua keinginanku." ucap Kei dengan menirukan suara anak kecil. Tuan Ken menegakkan tubuhnya kembali mengangkat tangan untuk mencubit hidung mancung Kei yang menggemaskan. Keduanya saling berbalas senyum.
Tuan Ken selalu menepati ucapannya. Seperti yang dikatakan kemarin, bahwa hari ini Ken dan Kei akan mengunjungi desa tempat tinggal Kei dulu. Mereka sudah diperjalanan menuju ke Bandara. Seperti biasanya, dimana ada tuan Ken maka disitu juga ada sekretarisnya yang sudah tidak jomblo. Sekretaris Lee nampak berat meninggalkan Dewi, karna istrinya juga sedang mengandung. Beberapa minggu sebelumnya Dewi dinyatakan positif hamil, meski kehamilannya baru beberapa minggu tetapi Dewi belum menunjukan masa ngidam yang aneh, sikapnya masih normal seperti biasanya.
Mobil sudah sampai di Bandara, melalui jalur khusus tuan Ken dan yang lain langsung menuju ke Pesawat pribadi miliknya.
Kei yang tidak tau bagaimana prosedurnya hanya mengikuti langkah tuan Ken, seumur dia belum pernah naik pesawat. Pintu pesawat sudah terbuka, menyambut tuan Ken dan yang lain untuk masuk kedalam. Kei tidak bisa menutupi kekagumannya, ketika sudah didalam pesawat kekagumannya bertambah karna pesawat itu benar-benar mewah, semua fasilitas lengkap dan serba mewah.
__ADS_1
"Waaaw... sayang. Ini pesawat bagus banget, bahkan ini bukan pesawat lagi tapi seperti hotel bintang lima." ucap Kei penuh kekaguman. Tuan Ken hanya mengulas senyum. "Eh, tapi dimana penumpang yang lain? kenapa hanya kita dan orang-orang mu saja yang naik pesawat ini?" Kei kebingungan. "Ini pesawat pribadiku, Honey. Tidak ada penumpang lain, hanya kita saja."
"Ho... ini pesawat milikmu? hebat, sebenarnya seberapa kaya suamiku ini?" seolah-olah Kei bertanya. "Kau tidak perlu menghitungnya, karna itu membuat pusing."
Kedatangan pramugari menghentikan obrolan suami istri itu, pramugari itu memberitahu jika pesawat akan segera lepas landas. Menyuruh mereka untuk memasang earphone ditelinga agar tidak terganggu dengan suara pesawat yang bising.
Keadaan Kei baik-baik saja tidak mengalami mabuk udara, bahkan ibu hamil itu terlihat bahagia dan terus menyunggingkan senyuman.
Selama didalam pesawat tuan muda itu tiada henti mengelus perut Kei yang buncit. Sekitar satu jam setengah pesawat sudah mendarat lagi di Bandara Yogyakarta.
Semua turun dari pesawat, sekretaris Lee sudah menyiapkan segala keperluan selama dikota Yogyakarta seperti mobil dan juga hotel tempat menginap semua sudah diatur.
"Baik sayang, kau selalu yang terbaik."
"Diawal kehamilan kau begitu menyebalkan, tapi sudah semakin besar kehamilanmu kau sering memujiku dan mengatakan kata romantis."
"Kata romantis itu tulus dari dalam hatiku, maaf jika aku menyebalkan. Tapi aku terkadang tidak sadar dengan keinginanku sendiri." tidak menjawab, Ken justru mengecup kening Kei dengan lembut. Tidak perduli dengan 2orang yang berada di kursi depan.
Kei melihat jalan yang dilewati, dia sangat merindukan jalan itu, jalan yang sudah terlalu lama tidak ia lewati. Kini bisa melewati jalan itu lagi dengan lelaki yang berbeda, bukan lagi bersama Idzam, orang yang dulu sangat diidam-idamkan. Tapi kini sudah menemukan lelaki lain yang lebih segala-galanya dari mantan suaminya dulu.
__ADS_1
Mobil itu sudah sampai di Hotel bintang lima. Supir segera membuka pintu untuk penumpang yang sangat berkuasa.
Kei dibuat kagum lagi dengan bangunan hotel itu, dia yang dulunya hanya gadis desa tentu tidak pernah merasakan kemewahan seperti sekarang. Jika dulu serba sederhana, tapi kini hidupnya sudah sangat berbading kebalik. Semua kemewahan bisa dirasakan setiap ia menghembuskan nafas.
Tuan Ken menggenggam tangan Kei dan menuju ke kamar hotel yang sudah dipesan.
"Honey, istirahatlah. Aku ingin mandi sebentar." kata tuan Ken langsung menuju kekamar mandi. Kei menunggu diatas ranjang.
"Akhirnya aku bisa mengunjungi desa ini lagi. Ibu-Ayah, nanti Kei akan mengunjungi kalian."
Tuan Ken sudah selesai membersihkan diri, ia ikut bergabung dengan Kei. "Ayo kita tidur dulu, nanti jam 3sore kita baru pergi." kata tuan Ken. "Tapi nanti kalau kesorean bagaimana? bukankah besok kita sudah pulang." Kei berkata dengan sedih.
"Aku sudah berpesan dengan Lee untuk membangunkan kita tepat pukul 14.30."
"Okelah kalau begitu, kemarilah sayang aku ingin memelukmu." pinta Kei, tuan Ken sangat senang dengan cepat menggeser tubuhnya dan memeluk Kei, seperti itu merupakan kesempatan langka bagi tuan Ken.
Meski banyak pikiran tapi Kei mencoba memejamkan mata. Perasaannya takut jika bertemu dengan mantan mertuanya atau pakde, bude yang dulu tidak menyukainya. Apakah mereka masih tetap menganggapnya seperti wanita tidak sempurna seperti dulu?
__ADS_1