Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Baby Boy


__ADS_3

Tuan Ken benar-benar tak berdaya. Keadaan semacam apa ini? seumur hidup belum pernah melihat dan berada dalam situasi yang benar-benar menegangkan. Seperti menaiki Rollercoaster? bukan-bukan, lebih menegangkan daripada itu. Lalu apa? melihat hantu? itu juga tidak! ini lebih mengerikan dari melihat hantu, apapun itu. Situasi saat ini tak bisa disamakan dengan kejadian apapun.


Seorang lelaki yang dingin, tak terbantahkan. Raja bisnis yang disegani pihak manapun. Selalu tegas dimanapun berada, kecuali dihadapan istrinya. Ya, dihadapan tubuh Kei yang berjuang, tubuhnya melemas. Bukan itu saja, bahkan bulir airmata ikut membasahi pipi pria tegas itu. Kedua mata yang melihat kearah para dokter yang sedang mengerubungi anaknya. Sekilas ia bisa melihat bayi kecil, itu tengah dilakukan tindakan lanjut.


Tuan Ken beralih melihat istrinya yang sudah tak berdaya, terlihat lemas dengan mata yang terpejam. "Sweety, bangun. Anak kita sudah lahir." tuan Ken berbisik pelan disamping telinga Kei.


Seperti tak mendengar, juga tak bergerak membuat tuan Ken waspada. "Honey..." memanggil dan menyentuh pipi Kei. Digoyang pipi itu agar Kei sadar. Belum ada respon, tuan Ken semakin cemas. "Hei... katakan! kenapa Kei diam saja? kenapa dia tidak bangun? bukankah dia sudah berhasil melahirkan anakku?" serentet pertanyaan yang menggambarkan kecemasan.


"Nona Kei mengalami pendarahan, tuan. Kami sedang menyiapkan kantong darah sesuai golongan darah yang diperlukan. Untuk saat ini kondisinya masih lemah, jika sudah stabil, nona Kei akan segera sadar." dokter memberi penjelasan. Disela-sela kesibukannya menangani Kei. Dokter sibuk dengan tugas masing-masing, mengeluarkan plasenta yang masih tertinggal didalam rahim. Selesai itu, melakukan penjahitan jalan lahir kembali dan membersihkan area tersebut.


Dokter yang lain sedang fokus pada bayi mungil yang juga belum mengeluarkan suara.


Jika normalnya bayi bernafas dengan paru-paru setelah sepuluh detik dilahirkan. Saat itu, bayi tengah beradaptasi dengan lingkungan luar rahim dan merupakan lingkungan baru bagi bayi itu. Untuk membantu pengembangan paru-paru, bayi akan menangis setelah dilahirkan.


Tapi ada yang aneh, bayi yang sudah beberapa menit dilahirkan itu diam saja. Bayi itu mengalami kondisi Asfiksia. Dimana bayi lahir dengan kekurangan oksigen, disebabkan terlalu lama proses persalinan dan juga sistem pernafasan yang tersumbat oleh lendir.


Membuat bibir dan kulitnya terlihat membiru. Tentu saja keadaan itu membuat para dokter sangat cemas.


Beberapa dokter segera mengupayakan tindak pertolongan untuk menyelamatkan bayi. Membersihkan lendir agar tidak menyumbat dan memasang Ventilator, yaitu alat bantu nafas.


Beberapa saat melakukan tindakan, akhirnya bayi itu menangis dengan kencang. Pada saat itu para dokter bernafas lega, mereka saling pandang dan bisa tersenyum cerah.


Akhirnya bayi itu bisa selamat.

__ADS_1


Tubuh tuan Ken membeku. Awal tadi begitu cemas dengan keadaan anaknya yang juga mengkhawatirkan. Tapi, telinga itu seolah tak mendengar apapun selain suara tangisan bayi yang kencang. Baginya itu sangat merdu, bagai irama mengalun indah.


Ya, suara indah itu berasal dari tangisan anaknya. Tak kuasa menahan, kembali menggenang airmata itu disudut mata.


Sekian lama mematung, kini kesadarannya kembali. Saat itu harus dihadapi dua kenyataan, sang istri dalam kondisi lemah dan juga anaknya yang baru lolos dari maut. Ia bingung harus bagaimana?


Perawat membersihkan kulit bayi yang masih ada sisa darah. Setelah itu membalut dengan kain.


Perawat menghampiri tuan Ken yang tak bergeming dari tempatnya berdiri. Seolah ia sedang melihat adegan difilm, karna sampai saat ini masih belum percaya jika ia sudah menjadi seorang ayah. Status baru yang sangat lama dinantikan, akhirnya kini terwujud.


"Tuan, jenis kelamin anak anda laki-laki. Semuanya normal, tanpa ada kekurangan fisik." suara perawat itu berhasil mengalihkan kesadaran tuan Ken. Mulai menapaki lantai untuk mendekat keranjang bayi. Melihat bayi mungil yang masih terpasang alat bantu nafas.


Ia berjongkok untuk lebih jelas mengamati wajah putranya. Mengumandangkan Adzan dan Iqamah.


Puas memandang putranya, ia kembali mendekati sang istri. "Bagaimana keadaan Kei?" tuan Ken masih cemas.


"Nona Kei membutuhkan stok darah banyak, kita sudah menyiapkannya tuan. Seperti yang saya katakan, kondisinya masih lemah. Kita perlu menunggu nona Kei sadar." tukas dokter Sofia.


Tubuh Kei sudah selesai dibersihkan, saat ini tengah berbaring.


Tuan Ken keluar dari ruangan mengerikan itu, didepan pintu sudah ada mami Lyra dan sekretaris Lee yang menyambut. Keduanya saling pandang, membayangkan proses persalinan yang extrim. Itu terlihat dari penampilan tuan Ken yang berantakan, beberapa anggota tubuh terdapat kemerahan dan juga bekas cakaran hingga ada yang berdarah. Rambut yang tadinya rapi kini seperti pria berandal.


Kekhawatiran dan kecemasan membuat tuan Ken lupa akan keadaanya, anggota tubuh yang sakit ia abaikan.

__ADS_1


"Mi..." memeluk tubuh mami Lyra dengan erat. Mami Lyra yang mendapat perlakukan tiba-tiba itu langsung terkejut. Apa yang terjadi? seperti itu pertanyaannya.


Bahu tuan Ken bergetar, "Ken takut Mi, didalam tadi seperti sedang berhadapan dengan malaikat maut." ucapnya parau karna menangis.


Mami Lyra mendongak, karna tubuh Ken jauh lebih tinggi daripada dirinya.


Mami Lyra mengangguk dan menenangkan.


"Semua baik-baik saja 'kan? Kei dan bayimu selamat?" mami Lyra melepas pelukan dan menelisik wajah Ken.


"Apakah semua wanita melahirkan dengan cara seperti itu? mami juga melahirkan ku dengan cara seperti itu?" tak mengindahkan pertanyaan mami Lyra, tuan Ken justru memberi pertanyaan.


Mami Lyra tersenyum. Menghirup udara dan membuang pelan. "Ken, melahirkan seorang anak memang dengan cara seperti itu. Bukan hanya mami dan istrimu, tapi semua wanita yang ada didunia ini harus berjuang demi kehidupan anaknya agar bisa melihat dunia. Tentu mami juga pernah berjuang untuk melahirkanmu dan juga adikmu." mami Lyra tersenyum hangat, kedua matanya juga berair.


"Ternyata perjuangan mami juga sangat besar untuk melahirkan aku. Maafin Ken, Mi. Ken banyak berbuat salah dengan Mami." mami Lyra kembali memeluk putranya. Ken sudah menjadi seorang ayah, mungkin sikapnya semakin dewasa.


"Maaf dari seorang ibu itu sangat luas Ken, tak bisa dipandang dengan mata telanjang. Meski putra, putri mereka melakukan kesalahan besar seorang ibu tak sampai hati untuk tidak memberi maaf."


Tuan Ken hanya mengangguk, kejadian barusan sesuatu hal yang luar biasa, tentang perjuangan dan pertaruhan nyawa.


"Ken, pertanyaan mami belum kamu jawab. Bagaimana Kei dan bayimu?" mami Lyra bertanya lagi.


"Kondisi Kei lemah karna pendarahan, ia masih belum sadar. Anakku berjenis kelamin laki-laki, Mi. Dia sehat dan baik-baik saja, tapi masih perlu alat bantu pernapasan." kali ini tuan Ken menjawab dengan benar.

__ADS_1


__ADS_2