Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Berbincang dengan Lee


__ADS_3

Kedua lelaki dewasa telah duduk berhadapan. Sepulang dari kantor, Lee langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah tuan Ken.


Saat sedang sibuk mengerjakan berkas kantor, tiba-tiba Ken menelpon dan memberi titah setelah pulang dari Kantor nanti harus singgah ke rumahnya sebentar. Tentu bertanya-tanya hal apa yang membuatnya harus menemui tuan mudanya.


Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang kini telah sampai dirumah Ken dan langsung disambut untuk duduk disofa ruang kerja Ken.


Saat melihat kearah Ken, wajahnya terlihat santai dan biasa saja. Lee menghembuskan napas lega. Setidaknya keadaan tuan Ken, orang paling penting itu baik-baik saja.


"Tuan Muda, ada apa anda menyuruh saya untuk kemari?" setelah beberapa saat terdiam, Lee mulai menanyakan tujuan tuan Ken mengundangnya.


"Wajahmu terlihat tegang Lee. Santai saja." bukannya menjawab, Ken malah menyuruh Lee lebih rileks. Terlihat sekali raut ketegangan diwajah Lee.


"Saya sudah santai, Tuan Muda." jawab Lee. Ia memundurkan tubuhnya sampai mentok ke sandaran kursi. Mencoba rileks seperti saran Ken.


"Lee, selama ini aku tau kedua orang tuamu sudah tiada." kata Ken dengan nada melambat, ia pun belum melanjutkan kalimatnya.


Deg...


Bertahun-tahun Lee bekerja dengan Ken, jarang sekali tuan mudanya mengorek informasi tentang asal-usul dirinya. Ada apa? kenapa sore hari ini tuan mudanya mengatakan hal itu?


"Benar Tuan, orang tua saya sudah tidak ada semenjak saya masih kuliah." jawab Lee terus memperhatikan ke arah tuan Ken. Tentu kebingungan, sekaligus keheranan.


"Siapa nama kedua orang tua mu? aku sampai lupa." Ken benar-benar melupakan data diri dan semua informasi tentang Lee. Sudah bertahun-tahun, sejak ia dinobatkan sebagai ahli waris Taesei Comporation almarhum Papi Hiko sudah mencalonkan Lee sebagai pasangan partner untuk Lee.


Dulu karna ada sesuatu masalah, Ken memecat Lee dan mencari pengganti sekretaris yang lebih mumpuni. Namun sudah lima kali memecat sekretaris baru karna tidak ada yang cocok dan tidak mengerti tentang semua hal yang ia mau.


Akhirnya Lee lah yang terbaik, mumpuni dalam segala bidang pekerjaan. Yang paling Ken senangi adalah Lee selalu tau apa yang dia inginkan tanpa Ken mengatakan perintahnya panjang lebar.


Semakin lama Ken semakin puas dengan cara kerja Lee. Dia cekatan, jujur, setia dan tidak pernah membantah perintahnya.


Segala perintah selalu dilaksanakan dengan baik, entah itu masuk akal atau tidak. Pasti semua selalu beres.


Tidak pernah segan Ken memberikan bonus besar pada Lee untuk mengapresiasikan cara kerjanya.


"Ayah saya bernama Bagas Hutama, dan Ibu saya bernama Irwanda. Memang ada apa, Tuan menanyakan nama kedua orang tua Saya?" Lee balik bertanya.

__ADS_1


Kening Ken mengerut. Nama kedua orang tua Lee tidak ada yang menggunakan nama belakang Lee. Tentu ini aneh sekali.


"Bukankah namamu Samuel Aeron Lee? kenapa tidak ada nama belakang dari Ayah atau Ibu mu?" sesi sore ini adalah saling melempar pertanyaan. Dan keduanya sama-sama dilanda kebingungan. Semua masih belum ada titik terang. Rumit, seperti benang kusut.


"Saya juga tidak tau, Tuan. Tapi kata kedua orang tua saya, nama itu diberikan oleh teman almarhum Ayah."


Pernyataan dari Lee semakin membuat Ken penasaran.


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Kan saya sudah katakan, saya juga tidak tau. Kalau penasaran, tanyakan saja pada Ayah atau Ibu saya." jawaban Lee melancong jauh.


"Kenapa kau menyuruhku bertanya? harusnya kau yang bertanya, bukan aku, Lee." ucap Ken sinis.


Melihat Ken mulai sinis tidak membuat Samuel Aeron Lee takut. Ia justru tersenyum miring. Ingin mengalihkan topik agar tidak membahas hal itu lagi.


"Baiklah Tuan, nanti malam Saya akan mencari wangsit." jawab Lee asal.


"Wangsit apa?" tanya Ken tidak mengerti.


"Wangsit untuk memanggil arwah kedua orang tua saya,"


"Si al, kau Lee! beraninya mengerjai ku! sudah bosan dengan ketampanan mu? nanti biar aku sulap seperti wajah badut!" Ken berbicara kesal pada Lee.


"Heh... jangan Tuan Muda, wajah adalah aset berharga yang harus dilindungi." jawab Lee.


"Kau salah Lee, aset berharga yang perlu dilindungi adalah penghasil keturunan, alias si burung gagak. Jika lelaki tanpa itu, maka hangus sudah harga dirinya." kata Ken tanpa senyuman, yang berarti mengatakan itu dengan mimik wajah serius.


Tapi Lee menahan tawa agar tidak pecah. Perkataan tuan Ken memang benar tapi terdengar menggelikan.


"Punya anda burung gagak, tapi punya saya tikus, Tuan." obrolan serius tadi harus bubrah dan salah kaprah. Jauh dari tujuan awal.


Keduanya jika sedang tidak membahas pekerjaan pasti membicarakan hal konyol yang hanya keduanya saja yang nyambung. Jika ada orang lain maka tidak akan mengerti tentang bahasa istilah-istilah mereka.


"Huh, aku geli dengan hewan tikus. Itu tidak keren Lee. Ganti saja dengan yang lebih keren." Ken memberi usul.

__ADS_1


"Misal, ular kobra. Buaya dalam sangkar atau burung elang. Bagiamana? bagus kan?" Ken menyebutkan kandidat nama hewan yang menurutnya keren.


"Saya harus rundingan bersama Dewi, jika tidak, istri saya nanti bingung mainan kesukaannya ganti nama." jawab Lee dengan cengengesan. Ia hanya mengimbangi guyonan dari tuan Ken.


"Tidak sekalian ngadain syukuran untuk mengganti nama itu mu?!" ucap Ken dengan ketus.


Lee sudah tidak bisa menahan tawa, seketika suara tawanya menggema ke ruangan.


"Diam kau Lee. Kita bahas apa? tidak penting." kata Ken.


'Haha...memang tidak penting, tapi cukup menghibur.' batin Lee.


"Kita kembali ke pembicaraan serius Lee." kata Ken.


"Mungkin pertanyaanku menyinggung mu. Tapi kau harus menjawabnya." ucapan Ken seperti ancaman.


Tawa dibibir Lee tadi berangsur hilang, kini kembali memperhatikan ke arah Ken.


"Apa kau anak kandung dari kedua orang tuamu?"


"Pertanyaan ini wajib kau jawab." imbuh Ken.


"Kenapa Tuan menanyakan itu?! informasi pribadi saya tidak penting Tuan." Lee tidak ingin membahas itu, sedari tadi ingin mengalihkan topik pembicaraan.


"Tinggal kau jawab saja Lee." kata Ken.


"Tentu Saya anak kandung kedua orang tua saya Tuan, jika bukan, Saya anak siapa dong?" jawab Lee.


Dan jawaban itu sama sekali tidak memuaskan Ken.


"Siapa tau mereka ibu dan ayah sambung. Kau tidak pernah tinggal di panti asuhan?!" Ken menanyakan dengan tu the point.


Deg...


Pertanyaan Ken, kembali membuat Lee terpaku. Ada maksut apa tuan Ken mengorek informasi dirinya secara detail..

__ADS_1


"Tidak Tuan, dari kecil dan sejak bayi sudah tinggal bersama mereka. Saya benar anak kandung mereka." Lee menjelaskan.


Ken menatap manik mata Lee, mencoba mencari kebenaran dari penjelasan Lee. Apa dia berkata jujur atau berbohong?


__ADS_2