
Jam 10 pagi acara wisuda dimulai, Ken mendapat penyambutan dari pemilik kampus juga dari para dosen.
Mereka sudah tau siapa tuan Kendra Kinechi. Orang penting dengan segala kekuasaannya.
Proses wisuda sudah selesai dengan berbagai hal yang dilakukan saat pelepasan siswa dan siswi dengan memberikan penghargaan kelulusan sesuai jurusan yang diambil.
Ken, Mami Lyra, Kei dan baby Kio melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan.
Meskipun Ray tidak mendapat juara, Ken tidak terkejut dan biasa saja. Ia tau seberapa jauh kemampuan yang dimiliki adiknya.
Usai berfoto mereka semua meninggalkan gedung kampus.
"Sayang, kita jadi berjalan-jalan tidak?" tanya Kei.
"Kau mau kemana?"
"Hist... kau ini bagaimana.. ya aku nggak tau lah mau jalan-jalan kemana, aku mana tau daerah Tokyo." jawab Kei cemberut.
Ken tersenyum lucu, memang benar yang dikatakan Kei. "Tentu kita akan jalan-jalan ditempat yang indah."
"Nah begitu dong, aku ingin berkeliling di kota Tokyo."
"Eum, tapi apa kau tidak lelah?"
"Tidak, aku bersemangat untuk jalan-jalan, tidak akan kelelahan." jawab Kei senang.
"Baiklah tuan putri, raja mu akan menuruti semua keinginanmu." jawab Ken bercanda.
Jika penumpang dibelakang merasa senang dan bahagia, tapi tidak dengan Lee yang duduk didepan berdampingan dengan supir pribadi yang disewa khusus untuk mengantar mereka berkeliling di Negara Tokyo.
'Huh, kalian bisa berduaan dan bermesraan. Sedangkan aku, seperti satpam jaga!' batin Lee nelangsa.
Ia yang merindukan istri dan anaknya hanya bisa melihat wajah mereka dari layar ponsel.
'Tapi tak apa, tahan sampai besok karna besok sudah sampai dirumah. Aku bisa berduaan dengan istri dan anaku.' Lee menghibur diri.
Mobil yang dikendarai supir asli orang Tokyo tidak langsung menuju ke Hotel, melainkan terus berjalan menuju tempat indah di kota Tokyo.
Supir itu sudah paham tempat-tempat indah, maka tak ada kesulitan untuk membawa penumpangnya ketempat Wisata yang ingin dikunjungi.
__ADS_1
Berkeliling dari tempat ke tempat tidak membuat Kei lelah, wanita itu tampak bahagia berlari kecil di jalanan yang penuh dengan wisatawan lainnya.
Menyaksikan itu Ken ikut bahagia, ia melihat istri tercinta tersenyum lepas tanpa beban.
Didalam mobil keduanya mengadakan perjanjian, jika hari ini Kei ingin bebas. Tanpa larangan apapun, tanpa sikap over protective dan tentunya sikap posesif.
Dengan berbagai ancaman akhirnya Ken mengalah, dengan berat hati menuruti perjanjian yang dibuat oleh Kei.
Lelah menjejakkan kaki berkeliling kota Tokyo, Ken mengajak Kei memasuki Restauran mewah dengan makanan khas kota itu.
Duduk dan mengelilingi meja. Lee, si manusia lurus tetap tak bergeming saat melihat atau mendengar tuan mudanya asik bercanda dengan Kei.
Apalagi yang ia lakukan selain memelototi layar ponsel, berbalas pesan dengan Dewi, mengecek hasil laporan. Dan juga diselingi bermain game.
"Hei... kau jangan melihat kesana kemari." Ken memperingati.
Kei langsung menatap lurus kearah suaminya. "Kenapa?" tanya Kei acuh. Jangan sampai Ken lupa dengan perjanjiannya.
"Ck... disini banyak pengunjung pria. Jadi, kau harus menjaga pandanganmu." Ken berdecak.
Tentu saja tuan muda itu lupa, apalagi jiwa posesif yang melekat sangat sulit dihindari.
"Huh... kau menyebalkan! bukankah kita udah buat perjanjian." Kei menatap serius.
Sedikit menyesal, kenapa ia tadi menyetujui perjanjian yang dibuat Kei.
Tapi, ada alasan kenapa ia terpaksa menerima yaitu prioritas utama sudah jelas si burung gagak. Kedua, tidak boleh tidur didalam kamar yang sama. Ketiga, tidak boleh mencium dia dan baby Kio.
Dengan alasan itu Ken kalah telak, sudah seperti diantara pilihan sulit dan seperti judul lagu Simalakama.
"Perjanjian itu benar-benar merugikan ku. Harusnya aku tadi tidak mudah menyetujui." ucap Ken dengan nada kesal.
"Betul, bukankah sekarang kau menyesal! Haha... mati lah kau! dasar bodoh!" Lee berteriak seperti kesetanan.
Secepat kilat Ken dan Kei menoleh kearahnya. Wajah Ken sudah merah padam, berani sekali sekretaris nya sendiri mengucap kalimat buruk seperti itu! kurang ajar.
Lee tersadar, saat ini kedua majikannya sedang menatap dengan horor. Kedua bola mata bergerak kekanan dan ke kiri, bergantian melihat kearah Kei dan Ken.
"A-ada apa tuan muda?" menyadari tatapan aneh dari dua orang itu, Lee memberanikan diri bertanya. Ia tak tau kesalahan apa yang diperbuat, kenapa 2orang itu mengerikan.
__ADS_1
"Kurang ajar kau Lee, mengatai ku bodoh dan menyumpahi ku mati! sungguh terlalu!" Ken marah.
"Baru kali ini aku melihatmu berani mengatakan itu pada tuan muda mu?" ucap Kei dengan keheranan.
"Hah! bu-bukan begitu. Kalian salah pengertian. Tuan muda, saya tidak mengatakan kalimat itu untuk anda. Sungguh."
"Dan, Nona Kei, tentu saya tidak akan berani melawan tuan muda. Karna saya masih ingin hidup. Saya sedang bermain game, dan kalimat yang saya ucapkan tadi untuk pemain game, bukan untuk tuan muda." Lee menjelaskan. Dalam hati memasang kewaspadaan tingkat akut.
Benar-benar diluar dugaan, bagaimana bisa ia lupa akan keberadaanya ditempat umum.
Ia mengutuk kecerobohannya sendiri. Berdo'a, semoga tuan mudanya bisa menerima penjelasan.
"Kau ada-ada saja Lee! jangan menambah suasana hati bertambah buruk! bahkan otakku tak bisa berpikir harus memberimu pasal berapa." ucap Ken. Pandangan tajam tadi sudah melemah.
Sedangkan Kei kini malah tertawa melihat wajah sekretaris Lee yang memucat.
'Kenapa aku ceroboh begini, hampir saja singa itu mengamuk.' batin Lee.
"Game itu berpengaruh buruk, kemampuan mu bisa menurun. Kemari kan ponselmu." perintah Ken.
"Untuk apa tuan?" tanya Lee bingung. Ponsel adalah benda terpenting, satu-satu penghibur disaat ia harus menjadi satpam penjaga. Lalu tuan Ken meminta ponselnya, untuk apa dan mau diapakan?
Dengan berat hati ia menyorong ponsel itu dihadapan Ken.
"Sebagai hukuman, aku sita ponselmu." Ken mengambil ponsel Lee dan memasukan kedalam saku jas.
"Kenapa harus disita tuan? saya tidak bersalah dan sudah menjelaskan maksut ucapan saya tadi, begitu juga masih kena hukum." ada sedikit gerutuan didalam perkataan Lee. Wajah yang tadi pucat sekarang bertambah menjadi suram.
'Oh Tuhan, ujian apa lagi ini. Tuan Ken memang seenaknya sendiri.' batin Lee kesal.
"Kau membicarakan ku didalam hati."
Lee menggeleng dengan cepat.
"Bagus,"
'Cih... bagus apanya!'
"Suasana hatiku buruk Lee, kau juga harus merasakannya." kata Ken.
__ADS_1
'Dasar gila! hari anda yang buruk kenapa bawa-bawa saya... Huh... raja menyebalkan! mungkin kepala anda harus diperiksakan supaya bisa berpikir waras. Anda yang gila orang disekitar anda juga ikut gila. Itulah kekuasaan tuan muda.' Mengerikan.
"Baik tuan muda, bahkan suasana hati saya lebih buruk dari anda." Lee tampak lesu.